Kota Singapura (Foto: Ayu Petreny)

HUNGARIA – Seorang perempuan berambut hitam dengan suara khas wanita Jawa terlihat sangat ceria saat mulai bercerita tentang mahalnya properti di Singapura. Di awal tayangan videonya Ayu Petreny, nama perempuan tersebut mengaku sempat mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari warga Singapura. Salah satunya karena perempuan ini dianggap sebagai baby sitter anaknya, Maad yang berdarah Indonesia – Hungaria. Tentu saja hal ini mengundang decak tawa dari para netizen.

Ayu mengaku sangat suka tinggal di Singapura karena negara ini adalah negara serba ada, modern, aman dan teratur. Meski demikian, Ayu mengaku memiliki alasan mengapa Singapura adalah kota termahal di dunia.

Harga rumah di Singapura sangat mahal dan hanya untuk 99 tahun. Di Singapura, lanjut Ayu, ada tiga jenis properti. Apa saja:

1. Housing and Development Board (HDB) atau rumah susun. HDB ini khusus dibangun oleh pemerintah Singapura untuk warga negara mereka dan warga negara dengan status permanent resident (warga negara tetap).

“Orang asing kaya saya nggak boleh beli,” kata Ayu.

HDB untuk ukuran negara ini menurutnya sudah bagus namun tidak dilengkapi dengan fasilitas parkir. Karena kondisi ini, orang lalu lalang di depan pintu para pemilik HDB jadi pemandangan biasa.

“Jadi salesman itu lewat-lewat depan pintu kita. Jadi bagi orang asing itu kurang nyaman ya,” katanya.

Selain itu, dinding dan atap yang tidak begitu tebal membuat penghuni ruangan bisa mendengar suara dari tetangga mereka.

2. Condominium atau condo. Condominium ini mirip seperti apartemen tapi dibangun oleh pihak swasta dengan fasilitas lengkap. Harga condominium ini lebih tinggi juga tentunya dari HDB. Fasilitas yang ditawarkan adalah club house, kolam renang, satpam, lapangan tennis, lapangan golf dan playground.

“Tapi rumah susun juga ada playground-nya. Jangan khawatir,” tambahnya.

Jadi, orang asing yang nggak bisa beli rumah susun pasti akan lari ke condominium. Meski demikian Ia katakan bahwa condominium sangat mahal. Bagi Ayu, bila tinggal di Indonesia Ia bisa tinggal di HDB atau rumah susun. Karena HDB di Singapura itu barang langka alias tidak umum.

“Dulu kita tinggal di condominium saat tinggal di Singapura tapi nggak sanggup beli karena mahal banget,” ungkapnya.

3. Landed house atau rumah biasa. Dari penuturan Ayu diketahui juga bila perawatan rumah biasa di Singapura sangat mahal.

Ayu dan suaminya pindah ke Singapura tahun 2006 dan menyewa dua condominium seharga Rp16.000.000 per bulan. Dua tahun kemudian, yakni 2008 harga sewanya naik menjadi Rp19.000.000 per bulan. Lokasi condominium dengan harga seperti itu ternyata harus agak jauh dari perkotaan.

Harga dan Sewa Rumah

Selanjutnya keluarga Ayu pindah ke apartemen yang dekat dengan perkotaan karena suaminya mendapatkan pekerjaan lain. Katanya, sewa apartemen dengan dua kamar di dekat perkotaan adalah Rp33.000.000 per bulan. Luas apartemen tersebut adalah 95 meter persegi.

“Waktu itu harganya bukan termasuk termahal justru yang terbawah karena untuk ukuran condominium,” tambahnya.

Ayu mengaku sudah pernah ingin membeli apartemen sederhana di Singapura. Namun tak jadi karena harga termurahnya adalah 1 juta dollar atau setara dengan Rp10 Miliar. Dan kepemilikan atas rumah tersebut hanya berlaku selama 99 tahun saja.

Jadi nanti setelah berumur 99 tahun maka mereka harus kembali membeli rumah tersebut.

Leave a Reply

  • (not be published)