ACEH – 4 Juli 2012, hari masih pagi, tapi terik matahari terasa membakar sampai ke ubun-ubun. Angin laut yang berhembus membawa butiran pasir asin serasa menambah panasnya pagi ini.

Kampung Tanoh Anoe atau dalam bahasa setempat lebih dikenal dengan nama Gampong Tanoh Anoe adalah salah satu desa penghasil garam terbaik di Aceh. Hampir seluruh masyarakat di desa ini menggantungkan hidupnya dari bertani garam. Mereka harus tetap bertahan kendati hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Salah satu petani garam yang tengah beristirahat usai memikul air laut dari sumur (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Gampong Tanoh Anoe terletak di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Tahun 1960 produksi garam di desa ini pernah mengalami masa jaya. Inovasi cara pengolahan garam pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh ulama yang juga sekaligus penemu teknik pengolahan garam diatas plastik, namanya Teuku Yusuf Milhy.

Teuku Yusuf melakukan perjalanan dari Aceh ke Madura untuk mempelajari cara mengolah garam. Mengolah garam melalui proses pengendapan air ditambak seperti di Madura tidak cocok bila diterapkan di Gampong Tanoh Anoe. Hal itu ditengarai dengan kondisi curah hujan yang tidak menentu. Akhirnya, proses pengendapan dilakukan dengan metode yang berbeda yaitu menggunakan plastik sebagai alas pengering air laut. Hasilnya sempurna, para petani garam hingga sekarang melakukan metode yang sama untuk menghasilkan garam yang legendaris dari daerah ini.

Perairan di sepanjang Kecamatan Jangka terkenal dengan potensi ikan dan udang yang melimpah di jamannya. Hingga suatu ketika, tepatnya di tahun 1990-an, kapal pedagang yang berlayar dari Bali menuju Tiongkok singgah di perairan Jangka. Kapal pedagang itu membawa bibit ikan bandeng atau bahasa setempat menyebutnya nener untuk di jual ke China.

Para pedagang yang datang ke perairan ini melihat potensi perairan Jangka cocok dikembangkan sebagai pusat pembiakan bibit nener karena banyak lokasi yang ditumbuhi rawa-rawa. Awalnya hanya pedagang besar yang bermain di bisnis pembibitan ikan nener. Namun, lama kelamaan penduduk di desa ini juga beralih profesi menjalankan bisnis yang sama. Hingga akhirnya lahan garam yang luasnya ratusan hektar berubah seketika menjadi lahan tambak ikan. Kondisi ini tidak berlangsung lama. Tahun 1995, kapal pedagang tidak lagi singgah di perairan jangka karena kondisi pantai yang semakin dangkal.

Salah satu petani garam yang tengah beristirahat usai memikul air laut dari sumur Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Petani ikan bandeng yang tengah panen pun kehilangan pasar karena kapal pedagang tak lagi singgah di pinggir Pantai Jangka. Kapal mereka karam seketika saat mencoba masuk ke Perairan Jangka.

Penduduk desa yang miskin harus mengeluarkan dana ekstra untuk menyewa perahu kecil agar ikan bandeng yang sudah siap panen bisa diantarkan ke kapal pedagang yang bersandar jauh di tengah laut. Satu persatu penduduk meninggalkan lahan tambak ikan nener.

Akibatnya, banyak tambak ikan terbengkalai dan dijadikan sebagai lahan pembuatan garam pun sudah tak mungkin karena jarak bibir pantai dengan lokasi pembuatan garam sangat jauh. Sisa-sisa kolam pembibitan terbengkalai dan sulit untuk ditutup kembali.

Untuk kembali jadi petani garam, artinya penduduk harus memanggul air laut dari bibir pantai yang jauh. Saat itu, kondisi kemiskinan di Kecamatan Jangka memang sangat memperihatinkan.

Satu-satunya cara agar masalah ekonomi dapat selesai adalah dengan menggali tanah sedalam 5 meter di sekitar pantai agar air laut bisa keluar. Mencari air laut sama sulitnya seperti mencari air tawar disini. Petani yang kebanyakan adalah perempuan lanjut usia harus berpikir kreatif agar tubuh tua yang terbalut kulit tipis mereka dapat bekerja secara cerdas agar tidak mati kelelahan.

Sayangnya, air laut dari sumur sedalam 5 meter tersebut juga memiliki kadar garam yang kurang berstandar alias tidak terlalu asin. Ditambah dengan pencemaran limbah dari pestisida dan makanan ikan, maka habislah sudah bisnis sederhana yang sangat diharapkan warga Tanoe Anoe untuk bisa bertahan hidup. Pada akhirnya, membeli bibit garam dari Madura, Jawa Timur untuk dicampur dengan bibit garam lokal adalah langkah terakhir yang bisa dilakukan agar dapat terus mendapatkan sesuap nasi.

Setiap hari, setiap wanita yang bekerja sebagai petani garam memikul air laut dari sebuah sumur yang jaraknya sekitar 10 meter dari area pengeringan. Pikulan dengan beban sekitar 30 liter ini memakai jerigen sebagai wadah yang terikat ke tali yang tersambung ke bambu.

Sebuah bak kosong dengan panjang 6 meter dan lebar 3 meter menunggu untuk dipenuhi air laut. Bak yang ditutupi bilik sederhana ini harus dipenuhi dengan air garam untuk kemudian didiamkan sekitar 7=8 hari. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kadar air garam laut kembali ke kondisi normal agar bisa diolah, yaitu sekitar 20 – 23 barometer.

Sebenarnya para petani di desa ini tidak perlu menunggu sedemikian lama menyimpan air laut bila saja tambak ikan tidak menghalangi dan menghancurkan kawasan tepi pantai. Di tahun 2012, penghasilan rumah tangga miskin di Gampong Tanoe Anoe di bawah 300 ribu per bulan.

Kembali lagi ke pengolahan garam, setelah melewati masa penyimpanan yang lama, air laut akan diolah lewat proses yang unik. Untuk mengukur kadar air laut, petani garam menggunakan 4 biji buah kemiri yang diletakkan di dalam ember berisi air garam. Bila biji kemiri mengambang sempurna maka air laut siap diolah. Tapi, bila tenggelam maka air laut harus disimpan lebih lama lagi. Proses ini harus terus dilakukan untuk mencegah hasil endapan air laut tidak berubah jadi tawar.

Sekarang Waktunya Penjemuran

Lama tidaknya proses penjemuran endapan air laut sangat tergantung dari sinar matahari. Bila cuaca cerah, maka air laut akan berubah menjadi kristal garam dalam waktu 2 sampai 3 hari. Air laut yang sudah mengkristal disebut sebagai bibit garam. Bibit garam ini belum mengandung yodium dan masih pahit. Jadi, belum bisa dikonsumsi sebagai garam dapur.

Memasak air garam yang sudah diendapkan selama 7 hari Foto: Dokumen Pribadi)

Mengubahnya menjadi garam dapur yang berkualitas membutuhkan proses yang cukup panjang. Awalnya, bibit garam harus di masak di atas tungku selama 5-6 jam. Satu tungku masak mampu menampung hingga 25 kilogram bibit garam. Saat dimasak, bibit garam akan mengembang, 25 kilogram garam akan berkembang menjadi 40 kilogram. Para wanita yang biasa melakukan tugas ini akan tekun membuang kotoran yang menyatu dengan buih air laut. Hasil dari proses ini adalah tumpukan garam dapur berwarna putih, manis dan siap dijual ke pengepul.

Di tahun 2012, harga garam dari desa ini dijual seharga Rp2.200 per plastik yang tentunya sudah diberi merk berwarna biru. Setiap minggu para wanita petani garam disini mampu menghasilkan uang sebanyak Rp90.000 dari garam. Tak jarang memang beberapa diantara mereka harus tinggal di gubuk kecil yang juga digunakan sebagai tempat memasak garam. Kata mereka memiliki rumah sendiri adalah harapan tiap tiap wanita yang ada disini. Kemiskinan membawa mereka harus bertahan didalam gubuk kecil, panas dan sederhana. Meski demikian, senyum dan tawa tak pernah lepas dari wajah mereka saat memikul air laut.

Leave a Reply

  • (not be published)