Potret kehidupan di Uganda (Foto: Britannica/ THE EDITOR)

CAPE TOWN – Sebagian besar negara miskin sudah mengambil tindakan sejak dini. Uganda misalnya, negara ini memang sudah memiliki sistem pendeteksian canggih yang dibangun selama bertahun-tahun yang lalu saat melawan demam berdarah, sejauh ini bisa dibilang lebih sukses dari pada Amerika Serikat dan negara-negara kaya lainnya dalam memerangi virus corona.

ABCNEWS mencatat bahwa sejak awal pandemi, negara-negara miskin dan yang dilanda konflik berada pada posisi yang sangat dirugikan. Misalnya, perebutan global untuk peralatan pelindung membuat harga melonjak dan alat uji coba pandemi juga sulit didapatkan padahal melacak dan mengkarantina pasien membutuhkan sejumlah besar petugas kesehatan.

“Ini semua efek domino,” kata Kate White, Kepala Kesehatan Lembaga Internasional Doctors Without Borders, Selasa (30/6).

“Setiap kali ada negara yang secara ekonomi tidak sejahtera maka akan terkena dampak buruk (akibat pandemi ini),” jelasnya lagi.

Pakar kesehatan global mengatakan pengujian adalah kunci, tetapi berbulan-bulan memasuki pandemi ini, hanya sedikit negara berkembang yang dapat terus melakukan puluhan ribu tes setiap minggu yang diperlukan untuk mendeteksi dan mengandung wabah.

“Sebagian besar tempat kami bekerja tidak bisa kapasitas untuk melakukan uji coba, akibatnya banyak hal yang tidak dapat diatasi sebagaimana mestinya,” kata White.

Dalam hal uji coba, Afrika Selatan jadi yang pertama di Benua Afrika yang melakukan tahap uji coba. Program yang menjanjikan saat ini tengah diteliti di Cape Town, dimana di kota ini kasus pandemi corona jadi yang terbanyak dibandingkan dengan negara lain di benua tersebut, kecuali Mesir.

Kekurangan alat pertolongan pertama terkait kasus pandemi corona membuat pejabat kota harus mengabaikan uji coba bagi masyarakat yang berumur di bawah 55 tahun. Kecuali mereka yang mmeiliki kondisi kesehatan yang serius atau bekerja di luar rumah.

Ahli Kesehatan di Afrika Selatan yang menempuh pendidikan Universitas Witswatersrand di Johannesburg Francois Venter mengatakan rumah sakit di Cape Town berhasil mengatasi persoalan corona. Namun sekarang tengah terjadi infeksi besar-besaran di Johannesburg, Afrika Selatan.

Ia mengaku khawatir serangan serupa akan menyerang negara-negara lain seperti Nigeria, Kongo dan Kenya yang diketahui tidak memiliki sumber daya kesehatan yang memadai.

Lockdown kemungkinan adalah perlindungan yang paling efektif, tetapi kebijakan ini telah menelan banyak korban bahkan pada keluarga kelas menengah di Eropa dan Amerika Utara, dan secara ekonomi menghancurkan di negara-negara berkembang.

Persoalan terbaru yang terjadi adalah lockdown di India yang menyebabkan banyak migran kehilangan pekerjaannya, terutama di kota-kota besar. Badai kelaparan dikhawatirkan akan menyerang negara tersebut setelah puluhan ribu orang memutuskan untuk menempuh berjalan kaki puluhan ribu kilometer untuk kembali ke kampung halamannya. Banyak diantara mereka yang terbunuh akibat kecelakaan atau meninggal dunia karena dehidrasi.

Pemerintah sejak itu telah mendirikan fasilitas karantina dan sekarang menyediakan layanan kereta api khusus agar mereka dapat kembali ke rumah dengan selamat.

Tetapi ada kekhawatiran akibat migrasi kemarin adalah tersebarnya virus ke daerah pedesaan India, dimana infrastruktur kesehatan bahkan lebih lemah dibandingkan perkotaan.

Kemiskinan juga telah mempercepat penyebaran pandemi di Amerika Latin, di mana jutaan orang dengan pekerjaan informal harus keluar dan tetap bekerja. Mereka khawatir cara ini justru akan menyebarkan virus ke kerabat mereka saat kembali ke rumah.

Contoh lain adalah, lockdown di Peru juga gagal menahan penyebaran wabah. Sekarang negara ini menduduki posisi ke-6 sebagai negara dengan penyebaran virus corona tertinggi di dunia, sebagaimana tercatat dlam Johns Hopkins.

88% unit kesehatan di negara tersebut penuh oleh pasien yang terkena pandemi. Dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda gejala tersebut akan berakhir.

“Rumah sakit berada di ambang kehancuran,” kata ahli epidemiologi Ciro Maguina, Profesor Kedokteran di Universitas Cayetano Heredia di Ibukota Lima.

Kelompok pemberi bantuan justri menghadapi masalahnya sendiri. Lembaga internasional Doctors Without Borders mencatat bahwa harga yang dibayarkan untuk masker naik tiga kali lipat pada satu titik dan masih lebih tinggi dari biasanya.

Kelompok ini juga menghadapi hambatan dalam mengangkut pasokan medis ke daerah-daerah terpencil karena penerbangan internasional dan domestik telah dibatasi.

Ini pertama kali tercatat dalam rekor dunia bahwa pandemi telah menyebabkan kelaparan global, sebagaimana diaporkan oleh Program Pangan Dunia Senin (29/6) kemarin.

Disebutkan bahwa, jumlah orang yang menderita kelaparan di 83 negara dapat meningkat menjadi 270 juta sebelum akhir 2020 atau meningkat 82% dari sebelum COVID-19 berlaku.

Beda lagi dengan Yaman, negara yang telah terperosok dalam perang saudara selama lima tahun terakhir. Yaman sekarang disebut sebagai rumah untuk krisis kemanusiaan terburuk di dunia, bahkan sebelum virus menyerang.

Sekarang pemberontak Houthi menekan semua informasi tentang wabah yang terjadi di Utara, dan sistem kesehatan di Selatan yang dikontrol pemerintah juga diruntuhkan.

“Virus corona telah menginvasi rumah kami, kota kami, desa kami,” kata Abdul Rahman al-Azraqi, seorang spesialis penyakit dalam dan mantan direktur rumah sakit di kota Taiz, kota yang terbagi diantara pasukan pemberontak. Abdul Rahman memperkirakan 90% pasien Yaman meninggal di rumah.

“Rumah sakit kami tidak memiliki dokter, hanya beberapa perawat dan administrator. Tidak ada perawatan medis yang efektif,” tutupnya.

Berita serupa juga bisa dibaca di https://theeditor.co.id/virus-corona-menyerang-negara-miskin-atau-yang-tengah-dilanda-perang/

One Comment to: Uganda, Negara Di Benua Afrika Yang Lebih Sukses Memerangi Virus Corona Dibandingkan Amerika Serikat

Leave a Reply

  • (not be published)