Beberapa tradisi yang harus dijalankan oleh Keshav sebelum bertemu dengan jodohnya adalah menikah dengan lembu hitam (Sumber: NDTV/ THE EDITOR)

JAKARTA – Toilet Ek Prem Katha adalah salah satu film yang berani mengangkat tentang sisi negatif para pendeta di India. Film yang disutradarai oleh Shree Narayan Singh ini berhasil mendapat pujian di seluruh dunia.

Di film ini, Shree berani menyindir kaum pendeta yang terkenal anti kritik di India. Disebutkan disana bahwa para pendeta menjadi orang yang menghambat budaya bersih di India.

Film ini berawal dari Keshav (dibintangi oleh aktor Akhsay Kumar) yang ingin menikah dengan seorang wanita dari desa lain bernama Jaya (dibintangi oleh Bhumi Pednekar).

Keshav adalah seorang anak pendeta, jadi, untuk menemukan jodoh untuknya, ayahnya yang bernama Vimalnath Sharma (dibintangi oleh Sudhir Pandey) menerapkan berbagai macam aturan yang berlaku selama turun temurun.

Beberapa tradisi yang harus dijalankan oleh Keshav sebelum bertemu dengan jodohnya adalah menikah dengan lembu hitam. Semua harus Ia lakukan karena ayahnya adalah seorang pendeta tinggi dan sangat dihormati di desanya. Ayahnya percaya bahwa dengan menikahi lembu hitam maka keberuntungan Keshav akan terbuka di masa depan.

Sampai pada suatu ketika Keshav bertemu dengan Jaya, seorang wania berpendidikan dari desa yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka berdua memutuskan untuk menikah meski Jaya bukan wanita yang dianggap tepat untuk Keshav menurut pandangan Pendeta Vimalnath Sharma. Berdasarkan panduan horoskop versi ayah Keshav, anaknya harus menikah dengan seorang wania#ta yang memiliki dua ibu jari di tangan kirinya.

Agar ayahnya setuju, Keshav membuat ibu jari buatan dan memberikannya kepada Jaya agar dipakai saat pernikahan. Ayah Keshav tidak curiga dan pernikahan pun berlangsung meriah.

Lokasi syuting film ini berada di Hoshangabad, Madhya Pradesh dan Nandgaon, Uttar Pradesh. Setiap adegan dilengkapi dengan latar belakang kuil serta bangunan-bangunan kuno lainnya. Situs India.com bahkan menyebutkan bila beberapa lokasi di film ini bahkan lebih bersih lingkungannya dari pada Mumbai, yang menjadi salah satu kota terbesar di India.

Keberanian film ini patut diacungi jempol dan sangat perlu dicontoh oleh sineas film Tanah Air. Karena setelah film ini beredar, tanggapan masyarakat India dan dunia luar berubah terhadap budaya yang selama ini dipegang oleh masyarakat India.

Sulitnya mengubah budaya yang menyebabkan banyak lingkungan tercemar di India akhirnya menemukan titik terang. Film ini adalah salah satu film paling cerdas yang dikeluarkan oleh Bollywood dalam beberapa tahun belakangan ini. Sindiran halus semacam ini yang ditayangkan dalam bentuk romansa anak muda khas India sangat perlu untuk ditonton.

Leave a Reply

  • (not be published)