Jamur Truffle yang hanya ditemukan di hutan dan pebukitan terpencil di Italia (Foto: CBS/ THE EDITOR)

PRANCIS – Para pemburu jamur truffle tidak bisa menemukan benda berharga ini sendirian. Agar bisa menemukan truffle berkualitas tinggi dengan harga jutaan, pemburu jamur truffle harus mengikut sertakan anjing pemburu atau anjing peliharaan terlatih.

CBS melaporkan bahwa menemukan jamur truffle sama halnya dengan menemukan harta karun. Jamur ini tidak tumbuh berkelompok, jadi dalam setia temuan rata-rata hanya ditemukan satu biji truffle saja.

Truffle ini juga hanya ditemukan di hutan-hutan dan padang belantara Prancis dan Italia yang umum mengalami musim dingin. Pada jaman dahulu, para pemburu truffle menggunakan hewan babi untuk menemukannya di tanah. Namun sekarang sudah tidak lagi.

Bisnis perburuan jamur truffle ini sangat sulit karena pemilik perusahaan yang khusus mengumpulkan truffle di Italia harus berjibaku dengan cuaca dan karyawannya di lapangan.

Apa yang membedakan Truffle asal China dan Italia?

Kehebatan masyarakat Prancis dan Italia dalam menjaga kualitas produk pertanian, termasuk jamur truffle yang sangat sulit untuk didapatkan ternyata tidak bisa ditemukan di negara lain seperti China.

Olga Urbani, pemilik perusahaan Urbani yang mengontrol 70 persen perputaran jamur truffle di dunia mengatakan bahwa kualitas sangat penting dalam bisnis jamur truffle. Italia dan Prancis yang selama ini menggunakan jasa anjing untuk menemukan jamur ini tidak akan bisa dikalahkan oleh pemburu truffle di seluruh dunia, kecuali mereka meniru gaya yang sama.

“Anjing hanya akan menemukan jamur truffle yang berkualitas baik karena semakin kuat aromanya maka semakin bagus dan mahal harganya,” ujar Olga.

Jamur truffle yang tumbuh secara individual membuat pemburu harus bekerja ekstra keras. Karena mengumpulkan 6 biji jamur saja perlu waktu satu hari penuh. Jadi, bila ada penjual jamur truffle yang menyetor ke perusahaannya dalam jumlah yang tidak wajar maka Olga akan langsung memberi peringatan keras dengan menolaknya.

Namun nyatanya, lanjut Olga, bisnis ilegal dengan mencampurkan truffle impor berkualitas ini juga mulai dilakukan oleh beberapa karyawannya, dan bagi Olga ini sangat meresahkan.

“Jamur asal China kualitasnya sangat berbeda dengan truffle asal Prancis. Harganya pun sangat berbeda. Harga truffle asal Prancis dan Italia bisa mencapai ratusan dollar per 1/2 KG. Sementara truffle asal China hanya berkisar 20-30 dollar per 1/2 KG,” ungkap Olga.

Kata Olga lagi, kualitas jamur truffle asal China juga sangat rendah karena pemburu jamur ini disana menggunakan cangkul untuk mencarinya.

Selama ini, lanjutnya, tiap pemburu jamur asal China ini tidak mengandalkan kualitas melainkan kuantitas saja. Jamur temuan mereka rasanya seperti kayu, jadi tidak memiliki cita rasa seperti truffle yang ditemukan oleh orang Prancis dan Italia.

Jamur berkualitas rendah ini, kata Olga, juga mulai masuk secara ilegal ke perusahannya. Olga mengaku sangat terganggu dengan kondisi ini karena banyak orang yang menyelundupkan truffle asal China untuk mendapatkan harga tinggi dari perusahaannya.

“Sayangnya pelaku bisnis gelap ini juga orang Italia dan Prancis sendiri. Jadi harus berhati-hati. Terutama bisnis restoran. Banyak yang menggunakan nama truffle asal Prancis dan Italia ternyata di dapur mereka menggunakan truffle asal China,” katanya.

Kata Olga, truffle adalah budaya tradisional masyarakat yang sangat mencintai bahan makanan. Di gereja-gereja di Prancis cukup lazim ditemukan masyarakat yang menggunakan truffle sebagai uang persembahan saat beribadat.

“Sulit dipercaya ada produk seperti ini di Prancis. Jadi kalau ada yang merusak budaya ini rasanya sangat tidak menyangkan karena semua budaya puluhan tahun rasanya seperti sampah karena produk semacam ini,” kata Olga sembari menunjuk salah satu truffle kaleng produksi Prancis yang ternyata bahan dasarnya seluruhnya berasal dari China.

CBS juga meliput salah satu truffle kaleng asal Prancis milik Pierre John. Truffle kaleng yang dijual di Amerika Serikat ini khusus dibawa oleh tim investigasi CBS langsung ke pemiliknya di Prancis. Kaleng kecil dengan tulisan “Black Winter Truffle Peelings” ini diketahui ternyata isinya bukan dari Prancis melainkan China.

Tulisan Latin dibagian belakang kaleng yang bertuliskan Tuber Indicum yang artinya Truffle China.

Saat diwawancara Pierre membenarkan truffle dalam kaleng tersebut memang berasal dari China. Pierre juga coba mencari berbagai alasan saat diberitahu bila sebenarnya pembeli merasa tertipu dengan trik label yang dipakai oleh perusahaannya.

Truffles: The Most Expensive Food in the World

Leave a Reply

  • (not be published)