Mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha dalam acara Konferensi Jurnalis Se-Dunia di Seoul 2018 (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

KOREA SELATAN – Seluruh dunia mencari cara agar Korea Utara dan Korea Selatan berdamai dan menjadi satu negara yang makmur dan kaya. Bahkan, Korea Selatan disebut-sebut sebagai negara yang selalu berusaha agar kedua negara bersepakat untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang tak kunjung selesai.

Dunia internasional juga melirik perseteruan dua negara ini. di tahun 2018 lalu misalnya, pembahasan akan reunifikasi dua negara ini tak henti-hentinya dibahas. Berkali-kali dikatakan bahwa Korea Selatan selalu berusaha menghangatkan hubungan dengan Utara. Tapi, nyatanya ide ini tidak didukung sepenuhnya oleh masyarakat Korea Selatan.

“Perbedaan ekonomi dan pola pikir tentu jadi salah satu perbedaan yang sangat signifikan bila kedua negara bersatu. Mereka (Korea Utara) belum tentu bisa menyesuaikan diri dengan kami,” ujar Shin, Jurnalis asal Korea Selatan kepada redaksi The Editor beberapa waktu lalu.

Tak hanya soal perbedaan ekonomi dan pola pikir, warga Korea Selatan juga mempertanyakan keputusan Seoul terkait penyatuan dua negara. Rasa tidak nyaman atas sejarah masa lalu adalah salah satu bagian yang sulit untuk dilupakan oleh warga Korea Selatan. Namun, yang paling berpengaruh adalah pola pikir dan pola didik yang diterapkan oleh masing-masing negara selama puluhan tahun.

“Kami ingin hal ini dibicarakan ulang dan dibicarakan lagi,” jelasnya.

Penolakan keras juga muncul dari kalangan pers dalam acara Konferensi Jurnalis Se-dunia yang diadakan di Seoul tahun 2018 lalu. Tahun 2018 adalah tahun dimana perdamaian dua negara jadi sorotan internasional. Seoul sebagai tuan rumah mengambil tema berjudul “Peran Media Dalam Proses Perdamaian Di Semenanjung Korea”.

“Korea Utara adalah contoh negara terburuk dalam penerapan hak azasi manusia, kebebasan pers dan pembangunan ekonomi. Sebuah laporan PBB setebal 400 halaman menggambarkan puluhan tahun pembunuhan resmi, penyiksaan dan pemerkosaan di Korea Utara dan lebih dari 100.000 warga Korea Utara ditahan dalam kondisi yang mirip dengan kamp konsentrasi Nazi,” ujar salah satu pembicara asal Korea Selatan Woosuk Kenneth Choi
Redaktur Chosun Daily Newspaper.

“Saksi mata yang dikutip dalam laporan tersebut menggambarkan tahanan yang dipaksa untuk membakar mayat, dan pembunuhan bayi yang baru lahir kepada wanita yang dipulangkan yang berusaha untuk membelot melalui Tiongkok, karena penjaga penjara berasumsi bahwa bayi-bayi itu adalah ras campuran Tionghoa,” katanya berapi-api.

Sementara itu, Politico mengatakan bahwa Korea Selatan harus berjalan di jalan sempit antara dua tetangganya yang kuat di utara, yakni China dan Rusia, dan sekutu tradisionalnya seperti Amerika Serikat dan Jepang. Konferensi perdamaian di Semenanjung Korea tahun 2018 kemarin menurutnya konferensi yang telah disulap oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

“Saya merasakan sedikit hal ini selama konferensi, yang berfungsi sebagai semacam mikrokosmos dari diplomasi koalisi yang cermat yang telah disulap oleh Moon selama setahun terakhir. Penyelenggara konferensi membagi peserta ke dalam kelompok terpisah selama kunjungan lapangan, dan penghargaan bergilir, seperti toast dan wawancara pers, di antara jurnalis dari berbagai negara,” tulis Politico 22 Mei 2018.

Disebutkan juga bahwa proses diplomasi antar dua negara ini telah direncanakan oleh Presiden Moon Jae-in sepanjang hidupnya, tujuannya adalah untuk mendapatkan pujian dari dunia internasional karena berhasil menyatukan dua negara.

Jadi, bukan Amerika Serikat atau pun Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un.

Leave a Reply

  • (not be published)