JAKARTA – Saefullah dan sejarah terbentuknya Tanah Abang yang baru bagi masyarakat Jakarta.

Jakarta 2013, Tanah Abang terlihat masih sangat kumuh. Di sepanjang Jalan Jati Baru dan Jalan Kabon Jati, Tanah Abang, Jakarta Pusat masih dipenuhi oleh Pedagang Kaki Lima (PKL).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama dengan Wakil Ketua KPK dan Sekda DKI Saefullah (kanan) saat melakukan sidak di kawasan Cengkareng, Jakarta pada tanggal 23 Juli 2013 (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Berkali-kali arahan dari Gubernur DKI saat itu yang dijabat oleh Joko Widodo sampai di telinga para PKL. Pesannya adalah untuk pindah masuk ke Blog G tang masih kosong melompong. Semua orang Jakarta dan dunia tahu bila Blok G masih kosong. Blog G adalah sebuah bangunan baru yang tidak dihuni oleh pedagang dengan alasan tidak ada pengunjung yang mau datang berbelanja kesana. Semacam alasan klise dari pedagang yang tidak masuk akal. Sejak kapan pembeli doyan belanja di pinggir jalan yang panas?

11 Agustus 2013 sekitar pukul 08.00 WIB, Walikota Jakarta Pusat Saefullah memimpin langsung penggusuran PKL liar yang membuka lapak di bahu jalan. Suasana sempat ricuh tapi menjelang siang hari kondisi sudah aman. Pedagang sudah menerima kenyataan dan mulai menyusun perlengkapan bangunan yang selama ini dipaksakan untuk dibangun disana.

Para pedagang ini masih marah tapi Saefullah hanya tersenyum dan memantau anak buahnya. Kepala Satpol PP diturunkan dalam kegiatan tersebut. Turut hadir juga saat itu Kasatpol PP Kukuh Hadi Santoso, Kapolsek Metro Tanah Abang Ajun Komisaris Besar Suyudi, Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat Letkol Inf Yudi Pranoto serta beberapa tokoh masyarakat.

Akhirnya Tanah Abang Bersih Dari PKL

Joko Widodo sebagai Gubernur DKI memang sangat kuat memegang aturannya kala itu. 2013, di awal pemerintahannya, Tanah Abang jadi target utama untuk dijadikan sebagai area bersih PKL. Sebagai pusat pasar terbesar se-Asia Tenggara, Tanah Abang ingin dibawa maju ke dunia internasional. Banyak pejabat di Pemprov DKI yang tidak mendukung kebijakannya waktu itu. Namun, Saefullah saat ditemui bersitegas akan mendukung setiap keputusan Jokowi, terutama soal Tanah Abang yang menjadi area kekuasannya selaku Walikota Tanah Abang.

“Perintah bapak ya kita jalankan. Kita akan bersihkan semua PKL dan jadikan Tanah Abang sebagai area yang nyaman untuk berbelanja. Saya tidak takut pada preman dan ancaman dari mereka,” ujar Saefullah kala itu saat dikunjungi ke ruang kerjanya.

Saya hanya diam mendengar ucapannya dan bergumam dalam hati,”Apa dia (Saefullah) sanggup melawan premanisme dan pelaku jual beli ruko ilegal yang banyak beredar disana? Ahok (panggilan akrab Basuki Tjahaja Purnama) saja marah-marah dan emosi bila ditanya soal pedagang ilegal di Tanah Abang,”.

Seolah bisa menjawab keraguanku, Saefullah langsung menjawab, “saya tidak takut diancam,” jawabnya tegas tanpa kehilangan senyumnya sedikitpun.

11 Desember 2014, Seafullah Resmi Orang Nomor 3 di DKI

Saefullah akhirnya diangkat jadi Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta. Sebuah jabatan yang sangat prestisius bagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Siapa yang tidak ingin jadi Sekda? Joko Widodo pun memilih Saefullah untuk menduduki posisi ini setelah sebelumnya tiga nama diajukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Butuh waktu yang cukup lama, seingat saya beberapa bulan untuk menentukan siapa Sekda DKI selanjutnya.

Ahok sendiri menilai Saefullah sebagai pejabat yang sangat cerdas. Disela kehebatannya mengamankan Tanah Abang dari tangan preman, Ahok juga sangat memuji kecerdasan Saefullah yang merupakan seorang doktor ini.

“Saya bilang, saya tidak mau pikirin hal itu (soal rasis). Karena Pak Saefullah itu pejabat yang terbaik untuk jadi Sekda. Hasil tes dia paling bagus diantara (pejabat) yang lain,” ungkap Ahok pada tanggal 11 Desember 2014, tepat di hari pelantikan Saefullah di Balai Kota.

Ahok percaya bahwa keberadaan Saefullah sebagai Sekda DKI akan menjaga keberagaman di Jakarta karena Ahok adalah seorang keturunan Tionghoa. Ahok kala itu berharap banyak pada Saefullah.

Kiprah Ahok dan Saefullah juga terlihat saat keduanya berkombinasi mengamankan Monas dari premanisme. Saefullah berkali-kali ditemui tengah patroli di Monas. Di jaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur berbagai peristiwa kejahatan masih kerap terjadi di Monas. Kriminal, pemerkosaan dan pembunuhan masih sering muncul di era mereka.

Kombinasi Ahok dan Saefullah jelas terlihat dari cara Pemprov DKI mengamankan Monas dan mengubahnya menjadi kawasan wisata baru yang bebas PKL.

Dialah Saefullah, orang yang sangat berjasa dibalik kesuksesan program kerja Jokowi dan Ahok. Tak ada Jakarta yang bersih tanpa PKL yang teratur. Artinya, tak ada PKL yang teratur tanpa pejabat yang mampu melawan anarkisme dan ancaman dari preman dan PKL liar. Hanya Saefullah yang mampu lakukan.

Saefullah meninggal dunia pada usia 56 tahun pada Rabu (16/9). Ia meninggalkan satu orang istri dan empat anak.

Selamat jalan Pak Saefullah, Jakarta sangat kehilangan!

Leave a Reply

  • (not be published)