Unggahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di akun Instagramnya @ganjar_pranowo (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – Penolakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap kader yang terlalu menunjukkan diri di media sosial terlihat dari cara anggotanya berkomentar. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng, Bambang Wuryanto dalam pernyataannya yang dirilis oleh Detik menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri lebih mengutamakan kader yang mau bekerja dan tidak sibuk memamerkan diri di media sosial demi mengejar ambisi menjadi calon presiden (capres) di tahun 2024 nanti.

Nah, sikap tegas seperti ini bukan hal baru di lingkungan PDIP. Dari penelusuran tim redaksi The Editor, selama ini Megawati memang sangat terus terang dalam bersikap terhadap kadernya, bahkan kepada Joko Widodo saat belum dipinang menjadi calon presiden pada tahun 2014 lalu. Tim sukses yang begitu aktif di media sosial menurut PDIP adalah sebuah bentuk paksaan untuk dipilih oleh Megawati sebagai Capres di tahun 2024 nanti. Dan seperti yang sudah-sudah, Megawati ternyata tidak suka kader yang terlalu ingin maju jadi calon presiden dengan cara membangun tim media sosial.

Apa yang dilakukan oleh Ganjar saat Puan Maharani dan kader PDIP di seluruh Jawa Tengah rapat?

Jawabannya adalah Ganjar ternyata menyibukkan diri mempopulerkan keindahan Candi Borobudur yang diunggah oleh Presiden Joko Widodo di Instagram dua hari yang lalu. Dimana Ganjar sendiri mengunggahnya kembali di Instagram miliknya 7 jam yang lalu.

Ganjar tidak menambah tulisan apapun di platform media sosial pribadinya selain tulisan yang dimuat oleh Presiden Jokowi sendiri. Dan di hari sebelumnya juga, Ganjar hanya mengunggah foto dimana Ia tengah menikmati mie instan rebus di malam hari.

Namun komentar netijen di Instagramnya sangat ramai membahas tentang absennya nama Ganjar di acara kaderisasi partai PDIP Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Ada yang menyarankan Ganjar untuk pindah partai dan ada juga yang memunu sikap diam Ganjar ini.

Berikut komentar netijen yang mendapat banyak pujian dari sesama netijen lainnya tentang sikap Ganjar ini:

“Presiden 2024, Aamin,” cuit @aiah_gunt yang mendapat 930 pujian dari netijen.

“Semangat pak ganjar. Dimanapun partai anda, kami ada dibelakangmu❤️,” cuit @rahastyo yang mendapat 291 pujian.

“Bismillah #ganjarforpresident2024,” cuit @nahdliyinahlussunnah yang mendapat 231 pujian.

“Medsos di saat Covid ini memang jadi sarana komunikasi yg sangat baik, bravo,” cuitan dari @rudi_adolf mendapat 93 likes dari sesama netijan.

“Ttp semangat pak, jgn dengerin duta microphone..warga jpr msh setia ngedukung sampean..🙏🏻🙏🏻🙏🏻,” cuit ardhan_74 yang mendapat 76 likes dari netijen.

“Tetep idola sedari dulu sebelum elektabilitas tinggi sekarang ini, always semangat pak 🔥🔥,” cuit @nanabudil yang me dapat 47 pujian dari netijen.

Mengapa Megawati Soekarnoputri tidak tertarik pada tim medsos bikinan kadernya?

Belum diketahui alasan apa yang membuat Megawati tidak suka pada tim medsos binaan kadernya sendiri. Dalam meraup elektabilitas cara Megawati memang sangat berbeda dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Dimana saat masih menjabat sebagai Presiden RI, SBY, sapaan akrab pria ini justru sengaja mengadakan konvensi calon presiden yang mendorong para calonnya untuk mempopulerkan diri. 11 orang dinyatakan lolos dengan perolehan voting yang tinggi, dimana Dahlan Iskan berada di peringkat pertama saat itu.

Pertarungan tim media sosial yang sempurna versi Demokrat ini memunculkan buzzer-buzzer politik para politisi kala itu (dan di tahun 2020 kemarin para buzzer dibubarkan oleh Presiden Jokowi). Sayangnya, setelah gegap gempita konvensi menghasilkan pemenang lewat voting, akhirnya nasib untuk maju sebagai capres atau cawapres tak kunjung mampir di tangan Dahlan Iskan selaku pemenang.

Dan lagi, sejarah menorehkan bahwa tak satupun juga anggota dari konvensi capres partai Demokrat yang terpilih sebagai kandidat utama di ajang Pilpres 2014 yang lalu. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahkan menyebutkan bahwa Dahlan Iskan selaku pemenang voting tidak dianggap mampu bersaing dengan capres dari partai lainnya. Pasalnya, berdasarkan hasil survei per Januari 2014, tak ada satupun Capres Konvensi Demokrat yang mendapatkan elektabilitas diatas 5 persen.

Peneliti LSI Adjie Alfaraby Capres Konvensi yang paling kuat, yakni Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, hanya mendapatkan suara 2,5 persen dan jumlah tersebut dianggap tidak cukup bila dibandingkan dengan popularitas yang pernah dimiliki SBY dan Demokrat di Pilpres tahun 2004 dan 2009 lalu. Dimana, pada pemilu 2004, SBY mendapatkan 60,62 persen, sementara pada pemilu 2009, SBY mendapatkan 60,80 persen.

Leave a Reply

  • (not be published)