JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan bila harga daging babi memang tidak merata di beberapa tempat, namun mereka membantah menyebutkan bila harga daging tembus hingga angka Rp140.000 per kilogram.

Sebelumnya, redaksi sempat menghubungi beberapa Direktorat Jenderal (Dirjen) di Kementan. Namun mereka enggan berkomentar dan merekomendasikan untuk menanyakan hal tersebut kepada Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan dibawah wewenang Dirjen Peternakan.

Namun yang bersangkutan ternyata lebih memilih bila jawabannya akan disampaikan lewat Biro Humas (Hubungan Masyarakat) yang harus memakan waktu selama dua hari karena harus melalui cek dan ricek terlebih dahulu. Dengan kata lain pihak Kementan tidak siap di wawancara oleh awak media terkait daftar harga daging babi. Hal ini bertentangan dengan Reformasi Birokrasi yang digadang-gadang oleh Presiden Joko Widodo.

Saat redaksi mencoba untuk mencari data harga daging lewat situs Kementan, ternyata hanya menemukan data kosong (silahkan klik di https://pippeternakan.pertanian.go.id/laporan/lapHarian).

Data harga daging yang seharusnya di perbaharui setiap hari baik di kota dan daerah ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Padahal anggaran yang diberikan oleh pemerintah kepada lembaga ini mencapai angka Rp50 Triliun. Dan tahun 2020 lalu Kementan baru saja meluncurkan program Agriculture War Room (AWR) alias ruang Kontrol Pembaharuan Pertanian berbasis teknologi informasi modern di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 4 Februari 2020 lalu. Seharusnya dengan anggaran sebesar itu semua website milik Kementan sudah modern dan canggih. Sayangnya semua website Kementan justru bobrok dan kebanyakan tidak memiliki informasi data apapun dan error.

Dalam petikan rilis yang diterima redaksi pada Jumat (19/3) kemarin, Kementan mengklaim bila kenaikan harga yang tidak signifikan ini tidak merata dan hanya terjadi di beberapa provinsi di wilayah Sumatera.

Berdasarakan sumber data Simponi Ternak PIP Ditjen PKH Kementan Perkembangan harga rata-rata nasional daging babi sejak Januari sampai minggu kedua Maret 2021, Kementan mengklaim harga daging babi justru hanya berkisar Rp91.925 per kilogram.

Mereka juga menyebutkan bila di wilayah Sumatera harga rata-rata daging babi di Provinsi Bangka Belitung (Babel) mencapai Rp125.834/kg, diikuti Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mencapai Rp125.282/kg serta Provinsi Lampung berkisar Rp111.429/kg.

Sedangkan untuk harga babi hidup di tingkat produsen dari bulan Januari sampai minggu kedua Maret 2021, rata-rata di Provinsi sentra berkisar Rp44.755/kg BH, dengan harga tertinggi terdapat di Provinsi Sumatera Utara Rp65.573/kg BH. Padahal, harga daging babi hidup di Tanah Karo, Sumatera Utara mencapai Rp70.000 per kilogram.

Direktur Jenderal PKH, Nasrullah mengklaim bila tingginya harga babi di tiga wilayah itu diduga terjadi karena kelangkaan daging babi imbas mewabahnya African Swine Fever (ASF). Akibatnya, populasi ternak babi di daerah-daerah sentra Sumatera menurun dan berpengaruh pada penyediaan daging babi di Sumatera.

Menurutnya, salah satu cara untuk menanggulangi mahalnya harga daging babi adalah dengan menerbitkan Kepmentan No 820 tahun 2019 tentang pernyataan wabah penyakit AFS pada beberapa kabupaten/kota di 16 kab/kota Provinsi Sumatera Utara untuk mencegah semakin menyebarnya penyakit ASF dengan dilakukan penutupan wilayah.

Kemudian, memberikan bantuan disinfektan, vitamin dan feed additev untuk ternak babi, memberikan bantuan operasional kepada petugas posko, melakukan sosialiasi biosecurity dan bimtek kepada petugas serta peternak.

Lalu melakukan sertifikasi kompartemen bebas penyakit ASF kepada peternakan/farm komersial di Sumut dalam rangka memberikan fasilitas perdagangan antar wilayah.

Selain itu, Nasrullah mengklaim bila Pemprov Sumut juga telah mengupayakan pemasukan ternak babi dari wilayah lainnya seperti dari Kalimantan Barat.

Dinamika harga daging babi di Sumut dan dua daerah lainnya di Sumatera menurutnya terjadi karena ketersediaan dan kebutuhan daging babi yang sebagian penduduknya mengkonsumsi daging babi.

Leave a Reply

  • (not be published)