5

Ilustrasi (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – Pada ibu muda, kegagalan menyusui memberikan risiko psikologis yang besar seperti ketidakpercayaan diri sebagai ibu yang berhasil. Sementara pada bayi yang gagal menyusu akan berdampak pada kondisi kesehatan yang juga berisiko besar, seperti terpapar obesitas, alergi akut, infeksi pernapasan, dan lain sebagainya.

“Karena itu, kita perlu mengajak semua lapisan masyarakat agar lebih peduli pada ibu yang sedang hamil dan menyusui. Caranya dengan memberikan dukungan sosial yang positif, misalnya memberikan informasi yang akurat dan menarik kepada orang tua, mertua dan suami, tentang apa yang dibutuhkan ibu,” ujar Dosen Psikologi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Andi Muthia Sari Handayani The Conversation, Rabu (19/8).

Di Palu sendiri, lanjutnya, minimnya pengetahuan Ibu tentang ASI (Air Susu Ibu) bukan jadi faktor utama dan terbanyak kegagalan menyusui. Ternyata, suami, mertua dan orang tua Ibu lah yang jadi faktor utamanya. Kenapa demikian?

Dosen Psikologi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Andi Muthia Sari Handayani mengatakan bahwa minimnya dukungan sosial yang bersumber dari keluarga inti merupakan faktor pertama yang mempengaruhi kegagalan ibu menyusui.

Dalam risetnya Ia mengatakan bahwa suami, mertua, dan orang tua justru tidak menjadi mata rantai yang meningkatkan dan menjaga keinginan Ibu untuk menyusui bayinya. Tiga orang penting di lingkungan ibu tersebut, secara sikap tidak mau mendukung keberhasilan ibu muda dalam menyusui.

“Misalnya, saat Ibu berusaha mandiri untuk mengatasi masalah menyusui dengan anak karena terjadi peradangan pada jaringan payudara atau anak menolak menyusu, mertua atau orang tua akan merasa tersinggung jika tidak dilibatkan dalam penyelesaian masalah tersebut,” ujarnya

Keputusan Ibu dalam menyelesaikan masalah tersebut, lanjutnya, berdasarkan dari respons negatif yang muncul dari orangtua kandung dan mertua, seperti orang tua dan mertua yang memberikan label ibu manja, atau memberi jalan pintas berupa saran untuk memberi susu formula saja.

“Mereka melabeli ibu muda ini dengan label negatif seperti “sok tahu, sok paham dan keras kepala,” jelasnya.

Setali tiga uang dengan ibu kandung dan mertua, Andi Muthua jelaskan bila secara umum suami juga memilih tidak terlibat dalam proses menyusui. Apalagi saat terjadi konflik terkait menyusui antara istrinya dengan mertua atau orang tua kandungnya. Pola komunikasi yang buruk ini menghambat keberhasilan ibu muda menyusui bayinya.

Para orang tua sang ibu, baik mertua atau ibu kandung berharap agar semua ibu muda mencari dukugan agar berhasil saat menyusui. Salah satu responden Andi Muthia di Paku mengaku harus belajar tentang kehamilan dan persiapan menyusui kepada orang yang lebih tua darinya. Meskipun orang tua dan mertua tersebut tidak paham soal ASI, pentingnya ASI, posisi ideal menyusui, manfaat menyusui dan lainnya. Dengan kata lain, calon ibu muda dipaksa belajar kepada yang bukan ahlinya.

“Dalam kacamata ibu muda yang menyusui, sikap yang “seharusnya” seperti ibu proaktif bertanya pada orang tua kandung dan mertua dan mengikuti saran-saran terkait ASI dari orang tua dan mertua, menjadi lampu hijau bagi orang tua dan mertua untuk hadir secara fisik dan mental selama proses hamil hingga mengasuh,” ujar Andi Muthia yang juga merupakan konselor menyusui ini.

Masih dalam studinya, Andi Muthia kerap menemukan tudingan miring dari masyarakat bahwa ibu masa kini sangat pasif belajar tentang menyusui kepada yang lebih tua. Orang tua terkesan memaksa anak muda untuk belajar kepada yang umurnya lebih dewasa untuk belajar tentang ASI padahal mereka tidak ahli.

“Menurut orang tua dan mertua, ibu masa kini tidak mau melibatkan 100 persen kehadiran mereka, sehingga label ‘mandiri’, ‘bisa sendiri’ atau ‘tidak usah dibantu karena sudah pintar’ tersematkan dengan kuat pada diri ibu, yang berdampak buruk pada keduanya, baik bagi ibu atau orang tua dan mertua,” jelasnya.

Menurutnya, orang tua dan mertua menanggapi dingin keinginan anak muda untuk belajar tentang ASI. Padahal dalam kenyataannya dibutuhkan pendampingan kepada calon ibu muda. Kondisi ini pada akhirnya menurunkan keyakinan ibu untuk sukses menyusui dan berujung gagal. Demikian pula hubungan ibu bayi dan suaminya.

Suami Yang Tidak Proaktif Mendukung Program Pendampingan ASI

Suami yang seharusnya menjadi pijakan terbesar ibu pada saat hamil dan menyusui, justru bersikap sebaliknya. Karena ketidaktahuan tentang ASI, lanjut Andi Muthia, para suami lebih memilih menyarankan Ibu untuk memberikan susu formula saat anak menangis ketika disusui.

“Data kualitatif menunjukkan bahwa pendampingan yang tidak maksimal dari suami, seperti tidak adanya informasi yang cukup tentang ASI, suami yang merasa bahwa persoalan menyusui bukan wilayah yang harus dicampurinya, menambah goyahnya keyakinan ibu untuk berhasil menyusui,” jelas Andi Muthia

Suami, orang tua, dan mertua kata Andi Muthia juga harus disasar dalam program kampanye pentingnya menyusui bayi melalui seminar, diskusi, dan promosi kesehatan di Posyandu, Puskesmas, dan ruang publik.

“Kepedulian kita adalah langkah awal untuk menciptakan atmosfer yang sehat di lingkungan ibu, dan juga bentuk lain dari dukungan sosial kita kepada ibu yang sedang menyusui,” pungkasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)