SLOVENIA – Apa yang akan anda lakukan bila diberi kesempatan berkunjung ke Ljubljana? Ibukota negara Slovenia ini memang cukup jauh dari hingar bingar kota yang umumnya dikunjungi wisatawan di Eropa.

Salah satu cafe di sudut kota Ljubljana, Slovenia (Fotografer : Elitha Evinora Tarigan)

Dari semua negara Eropa yang saya datangi kota ini ini rasanya sangat asing tapi ramah. Sangat jarang menemukan turis berwajah Asia saat berada di kota ini jadi rasanya benar-benar berbeda dan unik. Tak hanya itu, keramahan mereka sangat mencuri hati saya karena tipikal sangat ramah dan suka bercengkrama sambil minum kopi dan olahraga.

Tiba di Ljubljana, saya langsung menuju hostel yang sebelumnya sudah dipesan jauh hari sebelumnya. Karena berada di kawasan kota tua dan bersejarah maka jadilah saya menginap di sebuah rumah yang menurut saya mirip kastil. Bagi saya yang penakut tempat tersebut tidak menyenangkan tapi karena sudah terlanjur mau apa lagi. Tapi keuntungan lainnya adalah saya bisa langsung jalan kaki menuju setiap sudut kota tua Ljubljana.

Ada hal menarik soal kopi di Ljubljana. Karena sore yang dingin saya ingin sekali merasakan hangatnya kopi panas atau mungkin sekedar cappucino. Saya pun bertanya kepada seorang penjual makanan, “Dimana saya bisa temukan cafe starbuck?”.

Katanya, “Kenapa harus starbuck? kami tidak suka starbuck, kami punya cafe lokal disini yang lebih enak,”.

Jawabannya sungguh membuat saya kaget. Dari senyumannya yang sumringah saya dapat melihat bahwa warga kota ini sangat mencintai produk lokal warganya. Saya pun tersenyum dan bergumam “kapan ya Indonesia bisa begini,”. Memang benar di beberapa negara eropa keberadaan Cafe Starbuck nyaris sulit ditemukan. Hal semacam ini kadang membuat orang Indonesia yang doyan beli tumbler atau gelas sebagai oleh-oleh kesulitan. Entah sejak kapan tumbler mahal dari Starbuck jadi ikon oleh-oleh saat traveling keluar negeri.

Lagi-lagi soal kopi, sesuai dengan saran warga lokal, saya langsung mencoba salah satu tempat nongkrong yang paling ramai di kota ini. Tak jauh dari tempat saya tinggal terdapat sebuah cafe bernama Cacao. Tempatnya sangat ramai dan menyenangkan. Saya tergiur untuk menikmati sore yang indah di kota ini sembari duduk minum kopi di pinggir sungai. Baru beberapa detik berhenti ternyata tubuh saya menggigil karena memang jadwal saya berkunjung ke negara ini saat musim dingin. Jadilah saya masuk ke dalam cafe dan berbaur dengan pengunjung lainnya. Sekilas info, Ljubljana adalah tempat berkumpulnya pria tampan dan perempuan cantik. Jadi anda pasti bahagia berada disini,

Kembali lagi ke kopi, di cafe yang menjual banyak makanan dengan bahan olahan coklat ini saya coba memesan cappucino dengan harga yang tidak terlalu mahal yakni 1,5 euro atau hanya sekitar Rp24.000 rupiah. Masih tetap lebih mahal harga cappucino di Indonesia bukan?

Tidak ketinggalan saya memesan kue coklat khas Cacao. Menu dengan dua bahasa tersebut memang tidak begitu sulit untuk dimengerti. Deretan coklat yang tadi saya lihat di etalase membuat saya kebingungan. Rasanya ingin memesan semuanya, mengingat harganya yang relatif agak mahal yakni berkisar antara 3,50 euro – 9,40 euro maka saya minta rekomendasi dari pelayanan. And of course they will recommend you the most expensive one but worth it!

Suasana hangat sangat terasa saat saya duduk di lantai dua cafe ini. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam disini akhirnya saya memutuskan untuk menyusuri sungai dengan kapal. Tidak seperti di Vennis, kapal yang menyusuri sungai di kota ini besar dan bermuatan sekitar 10 orang. Kapal ditutup dengan kaca atau plastik transparan dan dilengkapi penghangat ruangan.Dengan membayar tiket sebesar 6 Euro mulailah saya ikut perjalanan yag menghabiskan waktu sekitar satu jam ini.

Sekilas info, sejak masa Romawi, Sungai Ljubljana digunakan sebagai jalur perdagangan jadi banyak tempat yang memiliki nilai arkeologis tinggiyang bisa anda kunjungi . Ljubljana sangat unik, banyak jembatan dan area pinggir tanggul yang dijadikan sebagai cafe. Salah satu jembatan yang anda lewati namanya Jembatan Gembok Cinta. Dari atas kapal mungkin terlihat biasa saja karena deretan gembok yang terpasang di kawat jembatan tidak begitu terlihat. Tapi bila didekati tempatnya lumayan juga. Banyak tulisan romantis yang bisa dibaca dari pasangan yang ingin mengikatkan janji cintanya disini. Yang menarik adalah kunci stang sepeda pun dipakai sebagai salah satu simbol cinta disini. Menarik bukan.

Selain itu, jangan lupa berkunjung ke jembatan naga yang menjadi simbol kota ini. Jembatan naga merupakan salah satu jembatan terbesar pada jamannya yang pernah dibangun di Eropa. Menurut sejarah seharusnya patung singa bersayap yang terpahat di jembatan tersebut bukan naga. Hal tersebut diketahui dari desain awal yang diprakarsai oleh Profesor Josef Melan, seorang insinyur terkenal yang ahli dalam membangun jembatan beton bertulang. Dia juga dikenal sebagai Bapak Teori Perhitungan Statis untuk jembatan gantung besar. Kemudian jembatan naga diberi penampilan Art Nouveau oleh seorang arsitek bernama Dalmation Jurij Zaninovic yang merancang pelat struktur beton bertulang yang dibalut dan diubah jadi patung naga tembaga.

Dekorasi asli jembatan seperti lampu juga diubah dari model awalnya yang sebelumnya menggunakan gas. Untuk diketahui, dulunya jembatan naga ini dibangun dari kayu yang disebut Butchers Bridge pada tahun 1819. Pemerintah kota memutuskan mengubahnya jadi modern untuk memperkuat struktur beton.

Leave a Reply

  • (not be published)