Oleh Pastor Martin Selitubun, Pr dari Keuskupan Agats Papua

Salah satu kenyataan dalam kehidupan kita adalah manusia dapat mati. Manusia mengalaminya karena dia adalah makhluk biasa. Setelah dikandung, dia bahkan menginginkan keabadian di dunia, sama seperti Sang Pencipta. Jika dia meninggalkan Allah karena keputusannya yang bodoh dan gila, maka dia segera bergegas ke dalam pelukan maut. Bukan hanya secara jasmani, tetapi secara khusus rohani, karena kekuatan spiritual yang ada dalam dirinya telah mati.

Kematian spiritual ini ikut membunuh kehendak, kecerdasan, hati, pikiran, dan kebenaran. Hal ini mengarahkan manusia dari kepalsuan ke kepalsuan dan akibatnya dari kematian ke kematian. Ini adalah kebenaran historis yang tak terbantahkan. Kematian ini, yaitu ketidakmampuan alami untuk mengarahkan kehidupan sehari-harinya menuju kehidupan, berubah menjadi kematian yang mencakup semua tingkatan keberadaan dan pekerjaannya. Tidak ada sektor dalam kehidupan manusia yang dibebaskan dari lingkaran kematian ini.

Di dalam Gereja, kematian spiritual pun mudah terjadi. Banyak iman sejati yang jatuh setiap hari. Dengan hanya mengandalkan sedikit kebijaksanaan, kecerdasan, dan itikad baik, kita berpikir bahwa akan cukup untuk membawa kita kembali kepada kehidupan sejati, ke pangkuan Allah. Rupanya tidak demikian karena untuk mendekati Allah diperlukan totalitas jiwa.

Yesus datang dan membuat janji yang mengejutkan bagi manusia. Itu membuka pintu kehidupan bagi manusia. Dia mengumumkan bahwa saatnya telah tiba baginya untuk mengalahkan setiap kematian, termasuk kematian fisik. Agar hal ini dapat digenapi, manusia perlu kembali ke rahim Allah.

Namun, proses ini tidak seperti pada awal penciptaan. Akan tetapi Tuhan sendiri yang ingin memasuki rahim hati manusia, jiwanya, dan untuk tetap di sana selamanya. Jika manusia menerima Tuhan sebagai buah abadi dari pikiran dan hatinya, kehendak dan perasaannya, kebijaksanaan dan kecerdasannya, tubuh dan jiwanya, maka Roh akan kembali mengaliri nadi dan memberi kehidupan.

Allah memasuki rahim manusia untuk berkembang dalam dirinya dalam kehidupan baru, dengan menerima Tubuh dan darah Kristus.

Kehidupan kekal terjadi bagi kita, jika kita menerima dan mengakui Kristus sebagai penyelamat, yang hadir dalam Tubuh dan di dalam darah-Nya. Jika kita percaya pada kata-kata Kristus, mendekati Ekaristi dengan kepenuhan iman, kasih amal, harapan, maka Kristus dikandung dalam hati dan jiwa dan menjadi sumber kehidupan ilahi dan kekal yang tak berkesudahan. Ini adalah kehidupan yang berkembang, tumbuh, menjadi lebih benar dan lebih kuat. Itu menghasilkan buah-buah keselamatan dan penebusan. Ekaristi adalah sumber sejati yang ditempatkan di hati manusia sebagai sumber kehidupan abadi bagi semua. Sangatlah penting agar iman ini dirayakan dan disyukuri setiap hari. Itulah sumber sejati kehidupan kekal bagi kita.

Leave a Reply

  • (not be published)