Peta Kanaan (Foto: Sarapan Pagi/ THE EDITOR)

JAKARTA – Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari mengatakan bahwa Orang Kanaan telah menghuni negeri Palestina sebelum orang Ibrani tiba.

Sebelum tahun 1928, pengetahuan tentang orang Kanaan terbatas pada tiga sumber.

Sumber pertama adalah dari pekerjaan arkeologis di kota-kota di Palestina seperti Yerikho, Megido, dan Betel. Di kota-kota ini ditemukan puing-puing bangunan pra-Israel seperti barang tembikar, perkakas rumah, senjata dan barang-barang serupa tanpa menemukan prasasti.

“Para pakar memang menghargai barang-barang yang lain ini, tetapi bukti yang tertulis biasanya adalah alat yang paling penting untuk merekonstruksi masa silam. Dalam jangka panjang nilai sejarah prasasti-prasasti melampaui nilai bukti fisik. Yang kami maksudkan adalah hal-hal seperti mitos, legenda, tawarikh kerajaan, naskah-naskah hukum, dan catatan perdagangan,” ungkap Rita kepada The Editor, Rabu (26/5)

Sumber kedua tentang Kanaan adalah kepustakaan dari orang-orang sezaman yang tinggal di luar Kanaan. Sebuah contoh yang unik adalah Surat-surat Tell el-Amarna yang dikirim oleh raja-raja di Palestina kepada firaun di Mesir.

Sebagian besar surat-surat ini dikirim kepada Amenhotep III dan putranya Akhenaton pada tahun 1400-an atau awal 1500-an SM.

“Seperti yang akan kita lihat, Kanaan adalah sambungan dari kekuasaan Mesir selama sebagian besar sejarah orang Kanaan,” jelasnya.

Di abad ke-11 SM sebuah kisah dari Mesir memberikan suatu pandangan yang lain tentang Kanaan. Kisah ini adalah tentang perjalanan Wenamon, seorang pejabat Kuil Amun di Karnak, ke Biblos di Fenisia untuk mendapatkan kayu untuk perahu keramat dari dewanya.

Kisah ini mengemukakan bahwa kekuasaan Mesir atas Kanaan sudah merosot sekali dari masa surat-surat Tell el-Amarna karena orang Kanaan memperlakukan Wenamon secara tidak sopan dan lambat untuk memenuhi permintaannya.

Berbagai naskah Akad dari timur dan naskah orang Het dari utara memberikan fakta-faktanya yang menarik juga tentang adat istiadat Kanaan. Misalnya, undang-undang orang Het sangat terperinci dan rupanya mengatur tiap pelanggaran perdata yang mungkin dilakukan.

Naskah-naskah Akad menggambarkan upacara, pemujaan dan kurban-kurban di kuil dengan panjang lebar. Dokumen-dokumen ini memberi kesan bahwa kebudayaan di daerah itu cukup canggih.

Sumber ketiga tentang fakta-fakta mengenai Kanaan dan rakyatnya adalah Perjanjian Lama. Alkitab memberitahukan bahwa orang Ibrani menghalau orang Kanaan dari negeri mereka dan dalam beberapa hal memusnahkan kota-kota disekitarnya.

Bahkan Alkitab menunjukkan bahwa orang Kanaan tidak pernah dihormati oleh para penulis Kitab Perjanjian Lama. Mereka selalu menggambarkan orang Kanaan sebagai bangsa yang jahat dan mesum, dan agama mereka sebagai sesuatu yang asing dan menjijikkan

“Kisah dari serangan yang tidak tanggung-tanggung itu meyakinkan beberapa ahli masa kini bahwa Perjanjian Lama terlalu condong berprasangka terhadap orang Kanaan. Bagaimanapun juga, Alkitab sangat akurat dan obyektif, dan tidak melebih-lebihkan kebenaran ketika menceritakan kepada kita tentang orang Kanaan. Sebuah temuan arkeologis di Siria utara pada tahun 1928 menguatkan gambaran Alkitab tentang orang Kanaan. Temuan ini memberikan amat banyak informasi baru tentang peradaban Kanaan,” jelas Rita.

Pada musim semi tahun 1928, lanjut Rita, seorang petani di Siria yang tengah bekerja di ladang mendengar pisau mesin bajaknya menghantam batu di dalam tanah.

Ketika diperhatikan lebih dekat, Ia melihat bahwa pisau bajaknya memotong puncak sebuah lubang yang sangat besar di dalam tanah dan saat diteliti mirip seperti sebuah makam kuno.

Penemuan yang secara kebetulan ini memulai sebuah penggalian yang baru tentang kota Kanaan, yang menghasilkan benda-benda sejarah yang sangat menarik dan sisa-sisa beberapa monumen yang penting.

Sewaktu para arkeolog Perancis menggali lebih jauh ke dalam kota itu, mereka menemukan amat banyak naskah purba pada lempeng-lempeng tanah liat. Mungkinkah mereka telah menemukan sastra Kanaan, yang ditulis oleh orang Kanaan dalam bahasa mereka sendiri? Jawabannya ialah ya.

Isi naskah tersebut adalah:

I. Kota Ugarit.
II. Pemerintahan Kanaan.
III. Negeri Kanaan.
IV. Penaklukan Kanaan.
V. Sastra Ugarit.
VI. Rangkuman.

Kota Ugarit

Nama kuno untuk tempat ini adalah Ugarit. Meskipun nama Ugarit disebut dalam sejumlah dokumen seperti Surat-Surat Tell al-Amarna, para ahli Alkitab tidak mengetahui lokasi tepat Ugarit.

Penemuan pada tahun 1928 menyelesaikan masalah ini, yakni nama Arab modern untuk daerah di Siria ini adalah Ras Syamra, yang berarti pucuk adas. Adas adalah bunga harum yang biji-bijinya dipakai untuk membuat minyak atau salep yang harum dan banyak tumbuhan adas ditanam di daerah ini.

Apa yang masih ada dari Ugarit sekarang ini adalah sebuah gundukan tanah yang besar kira-kira 20 m tingginya dan lebar lebih dari 900 m. Titik terpanjangnya hampir 400 m dan letaknya kira-kira 0,8 km dari pantai Laut Tengah, sejalan dengan ujung paling timur dari pulau Siprus.

Para ilmuwan mulai menggali daerah itu pada tahun 1929 dan telah melanjutkannya sampai sekarang, kecuali selama Perang Dunia II berlangsung.

Para ahli segera dapat membaca dan mengartikan naskah-naskah bahasa Kanaan dari Ugarit dan menerjemahkannya ke dalam beberapa bahasa modern. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh usaha Hans Bauer, seorang Jerman, dan Charles Virolleaud dan Edouard Dhorme dari Perancis.

“Kita boleh mengatakan bahwa naskah-naskah Ugarit bersifat kosmopolitan karena tulisan-tulisan itu terdapat dalam tujuh bahasa yang berbeda: Bahasa Mesir, Siprus-Minoa Linear B, Het, Huria, Sumeri, Akadi, dan Ugarit. Jadi, lempeng-lempeng Ugarit ini berisi bentuk-bentuk tulisan hieroglif (Mesir), cuneiform (Hct), dan linear (lima bahasa yang lain),” jelas Rita.

Data Arkeologis

Para arkeolog melihat adanya lima lapisan yang berbeda dalam gundukan Ugarit, dan pada tiap lapisan mereka menemukan tanda-tanda permukiman manusia. Lapisan Lima (pada tingkat dasar) berisi bukti sebuah kota benteng kecil di Ugarit dari masa kuno waktu terjadi banjir besar. Pada lapisan ini tidak ditemukan barang-barang tembikar.

Lapisan Empat dan sebagian Lapisan Tiga berasal dari Periode Kalkolitis. Di sini para penggali menemukan barang-barang tembikar. Lapisan Tiga dibuat pada Zaman Perunggu Awal, sekitar 1000 tahun sebelum Abraham. Di sini para penggali menemukan tanda-tanda hasil karya logam yang dikerjakan dengan indah.

“Lapisan-lapisan atas, Lapisan Satu dan Dua, membawa kita kepada zaman emas Ugarit, tahun 1550-1200 SM. Ini membawa kita dari zaman leluhur dalam kitab Perjanjian Lama ke dalam zaman hakim-hakim.

Ugarit dibinasakan pada akhir kurun waktu ini, rupanya menjadi korban dari gempa bumi dan para penyerbu yang disebut Orang Laut oleh para katib Ugarit. Sesudah tahun 1200 SM hanya kadang-kadang terdapat bekas-bekas pemukiman di Ugarit,” Jelas Rita.

Ia melanjutkan bahwa para penggali telah menemukan dua kuil di Ugarit yang dipersembahkan kepada dewa Baal dan Dagon, ayahnya. Bangunan kuil-kuil ini serupa dengan bait suci yang dibangun oleh Salomo.

Kedua kuil Ugarit itu mempunyai ruangan-ruangan yang mungkin telah digunakan sebagai tempat kudus dan tempat mahakudus di bait suci Salomo.

Para arkeolog telah menggali beberapa bangunan lain di Ugarit; dalam beberapa bangunan ini terdapat perpustakaan yang telah memberikan kebanyakan karya sastra Ugarit kepada kita. Para penggali telah menemukan sebuah bangunan istana raja yang mewah, dengan 67 kamar dan ruang. Ukuran istana ini 119 m kali 82 m.

Para peneliti menemukan bahwa banyak orang di Ugarit menempatkan ruang pemakaman tepat di bawah rumah mereka. Air disalurkan dari lantai dasar ke dalam makam-makam itu. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa saluran-saluran ini digunakan untuk memberi persembahan kepada orang mati.

Temuan arkeolog lainnya adalah tempayan-tempayan , mangkok emas, 74 buah senjata dan perkakas di bawah lantai sebuah rumah di Ugarit dan jimat kecil dari emas dalam bentuk perempuan tak berpakaian yang berhubungan dengan kultus kesuburan.

Kemudian ditemukan juga gambar ukiran dewi yang bertelanjang dada sedang memegang beberapa bulir gandum dalam kedua tangannya, Sebuah lempeng gading yang lain memperlihatkan gambar seorang dewi yang menyusui dua orang anak dan patung perunggu kecil dari dewa Baal.

Perdagangan Ulgarit

Rita menjelaskan bahwa berdasarkan sepucuk surat yang dari raja bangsa Het pada akab ke-13 yang tertulis pada naskah Akadi yang ditemukan di Ugarit diketahui bahwa raja bangsa Het, yakni Hattusilis III telah menetapkan batasan pada para pedagang yang ingin masuk ke wilayahnya.

Ugarit yang merupakan salah satu kota yang ada di Kanaan ini hanya mengizinkan para pedagang untuk membeli tanah atau barang tak bergerak yang bersifat pribadi di Ugarit dengan keuntungan dari usaha dagang mereka.

“Para pedagang itu juga dilarang untuk membeli tanah atau barang tak bergerak yang bersifat pribadi di Ugarit dengan keuntungan dari usaha dagang mereka.

“Abraham adalah seorang pedagang yang dilarang untuk membeli barang tak bergerak, maka janji yang menawarkan seluruh negeri ini kepadanya memperoleh makna baru,” jelas Rita.

Makna baru yang diungkapkan Rita adalah Abraham sebagai orang yang dipercaya sebagai bapak leluhur orang Israel dilarang oleh raja bangsa Het untuk memiliki Kanaan. Sementara Abraham yang sangat patuh pada perintah Tuhan mendapat pesan bahwa Allah sendiri yang memberikan tanah tersebut kepadanya.

Para Raja Ugarit

Kata Rita, para sarjana Alkitab tidak tahu siapa yang menjadi pemimpin atas komunitas di Ugarit selama beberapa abad berikutnya. Namun dapat dirunutkan bahwa para penguasa Ugarit dari abad ke-14 SM sampai ke penghancuran Ugarit pada abad ke-11 SM berdasarkan urutan suksesi adalah sebagai berikut:

1. Ammishtamru I
2. Niqmad II
3. Ar Khalba
4. Nigmepa
5. Ammishtamru II
6. Ibiranu
7. Nigmad II
8. Hammurapi’ (bukan kerabat Hammurabi)

“Setidak-tidaknya dua raja yang pertama pada daftar ini adalah raja taklukan yang setia kepada Mesir dan secara teratur menyurat ke negeri tersebut. Buktinya kita temukan dalam surat-surat Amarna,” ungkap Rita.

Niqmad II (atau Nigmaddu) hidup sezaman dengan firaun Mesir yang termasyhur, Akhenaton, yang juga dikenal sebagai Amenhotep IV (hidup sekitar tahun 1360 SM). Nama Akhenaton dan Nefertiti, istrinya yang sama-sama terkenal terdapat pada jambangan-jambangan batu pualam putih yang ditemukan di Ugarit.

Karena terbujuk akan mendapat tanah yang lebih luas, lanjut Rita, maka Nigmad II mengalihkan kesetiaannya dari firaun Mesir kepada seorang raja Het, Suppiluliuma. Nigmepa mempunyai pemerintahan yang terlama di antara semua penguasa Ugarit (kr. 1336-1265 SM).

Ia berpihak pada bangsa Het melawan orang Mesir dan Firaun Raamses II pada pertempuran yang sangat terkenal di Kadesy pada tahun 1285 SM. Pertempuran ini berakhir dengan jalan buntu dan bangsa-bangsa yang bersaingan ini membentuk sebuah pakta perdamaian. Dimana pakta ini menguntungkan bagi Ugarit.

Raja kelima yakni Ammistamru II, adalah putra Niqmepa. Ammishtamru diingat karena riwayat tertulis mengenai pernikahan dan perceraiannya dari istrinya yang berzina. Bangsa Het memaksa Ammishtamru II dan putranya, Ibiranu, agar menyediakan uang dan tentara untuk membela mereka terhadap ancaman yang baru dari timur, yakni orang Asyur. Orang-orang dari timur ini dikirim oleh Salmaneser I dan Tukulti-Ninurta I.

Pemerintahan raja-raja terakhir di Ugarit adalah Niqmad III dan Hammurapi sangat singkat dan tidak berarti. Selama masa pemerintahan mereka musuh dari barat yang disebut Orang Laut menjadi ancaman yang lebih berbahaya daripada orang Asyur, sementara beberapa bencana alam, seperti gempa bumi, mungkin telah melemahkan semua negara kota itu.

“Orang Laut menyerang, membakar, membinasakan sebagian besar penduduk, dan mengubur kota Ugarit sekitar tahun 1200 SM. Demikianlah keadaannya sampai kota itu ditemukan kembali oleh seorang petani Siria pada tahun 1928 M,” jelasnya.

Alkitab sendiri menuliskan bahwa Kanaan dijanjikan kepada Abraham dan seluruh keturunannya serta bangsa Israel di bawah pimpinan Musa dan Yosua. Namun demikian, Alkitab menjelaskan bahwa negeri Kanaan harus ditaklukkan terlebih dahulu.

Rita katakan bahwa Kanaan selalu menjadi daerah yang subur dan produktif. Dalam inskripsi di makamnya, Firaun Weni bercerita tentang ekspedisi militernya di Kanaan pada tahun 2500 SM (kira-kira pada masa Abraham). Ia merebut kota-kota dan membinasakan berbagai kebun anggur dan kebun buah-buahan.

Hal yang saa juga dituliskan olah Sinuhe sekitar tahun 1950 SM. Ia bercerita tentang hidup di Lembah Yarmuk di mana buah ara, buah anggur, madu, buah zaitun dan jelai dapat diperoleh dengan berlimpah-limpah.

Lanjut Rita, Kanaan merupakan tempat perdagangan yang disukai karena letaknya tepat pada jalur-jalur perdagangan yang utama di antara Mesir, Siria, Fenisia, Babilonia dan Asyur. Kanaan menyediakan madu, minyak zaitun, biji-bijian, anggur dan rempah-rempah.

Kanaan juga diketahui menghasilkan aspal dan minyak yang sangat dibutuhkan pada zaman kuno. Sehingga banyak bangsa yang mau barter dengan Kanaan untuk dua komoditi ini.

Sementara itu Mesir adalah negara yang memasok barang tembikar, logam, kemenyan dan gading yang ditukarkan dengan berbagai produk yang berkaitan dengan minyak.

Pemerintahan Kanaan

Berbeda dengan Mesir, Mesopotamia, atau Asia Kecil, Kanaan purba tidak mempunyai seorang penguasa tunggal yang berkuasa atas seluruh negeri itu. Orang Kanaan tidak pernah menghasilkan seorang firaun atau raja yang tersohor. Tiap-tiap kota ini diperintah oleh seorang penguasa bawahan. Persatuan penguasa-penguasa ini yang berkuasa di atas seluruh Kanaan.

Konsep Negara Kota

Kanaan terdiri atas beberapa negara kota yang memiliki pemerintahan sendiri-sendiri dan sampai tingkat tertentu berswasembada. Kata Rita seorang raja, lebih tepatnya disebut seorang bangsawan memerintah di tiap negara kota.

Pada Zaman Perunggu Tengah yakni sekitar tahun 2000-1500 SM dan Zaman Perunggu Akhir, yakni tahun 1500-1100 SM diketahui bahwa setiap negara kota ini biasanya berada di bawah kekuasaan orang Mesir atau orang neo Het.

“Alkitab sendiri mengatakan bahwa Yosua, pemimpin yang menggantikan Musa membawa bangsa Israel ke Kanaan harus berperang dengan 31 raja ketika menaklukkan Kanaan,” tutupnya.

Leave a Reply

  • (not be published)