Salah satu foto perkebunan anggur milik petani di Prancis yang diunggah oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron di laman Twitternya tanggal 10 April 2021 lalu

PRANCIS – Hampir sepertiga dari produksi anggur di Prancis yang bernilai hampir € 2 miliar (£ 1,7 miliar) akan hilang menyusul munculnya perubahan iklim yang tidak wajar dan mengakibatkan tanaman merambat dan buah-buahan membeku.

“Ini bencana pertanian terbesar di awal abad ke-21,” kata Menteri Pertanian Prancis, Julien Denormandie beberapa waktu lalu sebagaimana dirilis oleh The Guardian, Kamis (15/4).

Ia mengatakan bahwa pekan ini pemerintah Prancis akan segera mempersiapkan langkah-langkah keuangan darurat untuk membantu petani.

Terpaan gelombang dingin dan es yang menerpa Prancis saat udara tengah hangat membuat keadaan pertanian warga makin rusak. Tanaman dan pepohonan yang tadinya berbuah lebih awal karena cuaca hangat akhirnya layu diterpa udara dingin.

Federasi nasional serikat pertanian Prancis kepada AFP mengatakan bahwa mereka yakin setidaknya sepertiga dari produksi anggur Prancis akan hilang karena panen anggur tertentu di banyak daerah penghasil anggur paling terkenal di Prancis berisiko hancur.

Kondisi ini membuat kilang-kilang penghasil anggur harus menghitung biaya tambahan karena kondisi cuaca yang terburuk dalam beberapa dekade ini. Pertanian anggur yang mengalami kerusakan di Prancis tersebar di Bordeaux, Burgundy, Lembah Rhone dan Provence.

Disini, tak hanya tanaman merambat yang rusak, tapi juga pohon buah-buahan seperti kiwi, aprikot, apel dan buah lainnya seperti buah bit dan lobak.

Petani Burgundy, Prancis menyalakan lilin disepanjang area pertanian mereka agar suhu tetap hangat sehingga pucuk tanaman mereka dapat bertahan dari serangan embun beku (Foto: The Guardian/ Christophe Petit-Tesson/EPA)

Petani anggur di Prancis mengaku telah melakukan beberapa tindakan preventif untuk menyelamatkan kebun anggur mereka.

Salah satunya dengan menyalakan ribuan api kecil dan lilin di dekat tanaman merambat dan pepohonan agar lokasi pertanian mereka menjadi hangat. Hal ini tentu saja menciptakan pemandangan yang spektakuler di malam hari.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunduh salah satu gambar kebun angur yang diterangi lilin milik petani. Ia menyerukan dukungan kepada para petani anggur untuk terus semangat memanaskan cuaca dengan lilin di malam hari lewat laman Twitternya.

Michel-Henri Rattes, seorang petani anggur mengaku telah menyetel alarm selama beberapa malam untuk menyalakan lilin guna melindungi kebun anggur biodynamic-nya seluas 9 hektar (22 acre) di sekitar Arbois di Jura, Prancis timur. Tetapi embun beku yang parah, diikuti salju, menghancurkan tunas-tunas yang baru tumbuh.

“Kami akan membeli lilin besar dengan wadah pot besar dengan lilin di dalamnya. Dan kami meletakkannya di antara tanaman merambat dan berlari keluar untuk menyalakannya pada pukul 2 pagi,” katanya.

“Masih ada beberapa pucuk hijau tapi kemudian salju turun. Itu bencana. Saat ini, kami melihat akan 100 persen kehilangan panen tahun ini. Kami akan tahu dalam sebulan kedepan jika ada yang selamat. Kami hidup dekat dengan alam, kami terbiasa menghadapi perubahan cuaca, tanaman kami rusak oleh cuaca dingin pada tahun 2017 dan 2019. Hal itu terjadi setiap dua tahun dan cuaca akan berubah dengan cepat dari sangat panas menjadi sangat dingin. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang perubahan iklim. Ini bukan dingin biasa, ini dingin kutub, jauh lebih intens dari biasanya,” paparnya.

Ratte biasanya memproduksi hingga 30.000 botol anggur setahun tetapi mungkin tahun ini tidak akan menghasilkan satu botol anggur sama sekali.

Katanya, Covid-29 telah membuat petani terhenti karena tidak bisa berhubungan satu sama lain. Ia mengaku sangat menunggu masa dimana interaksi sosial kembali terjadi dan pelanggan dapat langsung datang ke rumah mereka membeli botol-botol anggur yang telah diproduksi.

“Dulu tanaman terus tumbuh dalam kondisi apapun, sekarang tunas anggur tidak tumbuh sama sekali,” katanya.

Thomas Montagne, kepala konfederasi petani anggur mandiri Eropa, dan produsen anggur di Luberon, Prancis selatan, mengungkapkan perasaan kecewanya dengan gamblang. Katanya, produsen anggur Prancis sudah cukup terpukul keras oleh penutupan perusahaan dan bar serta restoran karena Covid-19.

Produsen mandiri kata Thomas juga terpukul keras oleh pembatalan pameran anggur karena Covid-19. Ekspor internasional juga terpengaruh dan mereka harus mengeluarkan biaya ekstra karena harus membayar sudah tarif anggur yang diberlakukan oleh mantan presiden AS Donald Trump.

“Pembuat anggur merasakan kejutan dan kesedihan secara bersamaan,” katanya.

Leave a Reply

  • (not be published)