Salah satu kios penjual cenderamata berbahan tembaga dan perak di pasar tradisional Grand Bazaar, Istanbul, Turki (Foto: Dwi/ THE EDITOR)

TURKI – Penjualan barang-barang palsu di Turki sudah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan. Namun peredaran produk-produk ini tetap saja mendapat izin dari pemerintah untuk menjalankan usahanya.

Cara penjual barang-barang branded di kawasan wisata Turki ini juga cukup mengundang tanya. Bila tidak terbiasa maka Anda akan mengira tengah berbicara dengan seorang penculik.

Para penjual produk palsu ini biasa merayu konsumennya yang tengah berbelanja di pasar kuno Grand Bazaar. Satu per satu turis dan pembeli didatangi dan dirayu agar mau sekedar mampir ke toko mereka.

Bila Anda mengiyakan, maka penjual yang biasa bekerja berkelompok ini akan membawa Anda ke tempat-tempat sepi dimana tas-tas palsu dijual dengan harga murah. Kadang-kadang tempat mereka menjual barang-barang palsu tersebut berada di belakang restoran, di bangunan yang tangganya hampir keropos serta gedung-gedung aneh yang mungkin hanya bisa Anda temukan di film saja.

Aneh tapi nyata. Ternyata banyak pembeli yang sengaja datang ke Istanbul hanya untuk berbelanja barang-barang palsu di tempat ini. Semua orang tahu perbedaan produk asli dan palsu. Namun disini mereka bahkan menyediakan tas yang belum dipasarkan oleh Hermes, Gucci serta Chanel sekalipun.

Mereka dengan sangat meyakinkan akan menunjukkan berbagai macam bukti bahwa tas atau produk yang mereka jual adalah asli. Namun, penyuka barang asli tidak akan pernah tertipu. Ditambah harga yang dijual juga tidak masuk akal.

Hanya saja, banyak turis akhirnya sengaja datang ke tempat seperti ini hanya untuk merasakan sensasi melihat barang-barang palsu yang dijual di tempat yang sangat tertutup dan rahasia.

Di Indonesia sendiri penjualan barang branded palsu seperti tidak dilakukan secara tertutup. Tanah Abang, Senen dan Blok M adalah area dimana banyak tas palsu bisa ditemukan. Sangat jauh berbeda dengan cara orang Turki.

Mengapa dijual di tempat sepi?

Karena untuk menghindari kejaran pemerintah. Di Istanbul misalnya, polisi sering kali berpatroli di pasar untuk memeriksa setiap kios. Bila kedapatan menjual barang palsu, maka akan segera ditangkap dan dikenakan denda.

Namun, cara ini kurang efektif. Karena ternyata polisi yang tengah bertugas di pintu masuk Grand Bazaar saja tidak mempedulikan penjual yang memanggil turis agar mau singgah di toko penjualan barang palsu mereka.

Leave a Reply

  • (not be published)