TANAH KARO – Pekerjaan yang jadi penyelamat saat wabah corona tersebar di seluruh dunia adalah menjadi seorang petani. Mengapa jadi petani? Mengapa justru bukan bidang lain?

Karena hanya petani yang bisa menanam makanan mereka sendiri, mengatur jumlah gaji yang mereka inginkan dari hasil pertanian mereka sendiri dan hanya petani yang memiliki daya tahan tubuh paling tinggi saat semua orang kesulitan membeli bahan kebutuhan pokok.

Sayangnya jadi petani bukan tujuan favorit anak muda jaman sekarang.

Selain itu, saat seluruh perusahaan gulung tikar atau mengalami kesulitan keuangan di tengah gempuran Covid-19, maka petani tanpa mendapatkan untung dari hasil pertaniannya pun masih dapat bertahan hidup. Petani dapat memanfaatkan setiap olahan dari tanah yang mereka olah untuk dimakan. Dengan kata lain, petani tanpa uang dan gaji pun tetap bisa menikmati makanan.

Selain itu, tidak ada petani yang kekurangan gizi karena sayuran dan berbagai macam produk hortikultura yang selalu mahal di toko dan swalayan dapat mereka sediakan di rumah mereka masing-masing. Sementara bila pekerja diberhentikan dari perusahaan tempat Ia bekerja maka otomatis gajinya akan diberhentikan. Dengan kata lain, pemenuhan gizi atas dirinya berkurang.

Padahal, salah satu cara untuk menangkal virus corona adalah dengan menguatkan imun tubuh. Dan, salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan imun tubuh adalah dengan mengkonsumsi sayur-sayuran seperti jeruk, paprika merah, brokoli, bawang putih, jahe, bayam, biji bunga matahari, pepaya dan lain sebagainya.

Semua makanan diatas bisa ditanam di lahan sawah atau ladang. Jadi, petani adalah orang yang paling kuat daya tahan tubuhnya saat ini karena selalu mengkonsumsi makanan sehat.

Dari hasil penelitian tim liputan The Editor di wilayah Sumatera, petani yang tidak habis menjual hasil pertaniannya kebanyakan menggunakan produk tersebut di dapur mereka. Jadi, sangat jarang petani menjual habis seluruh produk pertanian mereka tanpa menyisakan sebagian bagi kebutuhan pribadi.

Meski demikian, hasil pertanian yang lebih sering mereka sisakan untuk keluarga justru bukan produk super. Misalnya, untuk tomat. Petani jarang sekali memakai tomat berukuran besar dengan warna merah cerah untuk dipakai sebagai bumbu dapur di rumah mereka. Alasannya karena tomat yang berkualitas super baiknya dijual saja. Sementara kebutuhan dapur cukup dilengkapi dengan tomat-tomat berukuran kecil.

Padahal sebenarnya, petani harus lebih menghargai diri mereka sendiri dengan mengkonsumsi buah dan sayuran berkualitas super. Edukasi yang demikian akan mempercepat perbaikan gizi masyarakat terutama di pedesaan.

Cara ini juga lebih mudah untuk mengurangi persoalan gizi buruk di Indonesia. Karena petani yang paham akan nilai gizi sebagaimana masyarakat perkotaan adalah pintu untuk menghapus persoalan gizi buruk dan penyakit busung lapar.

Dengan demikian, tugas pemerintah yang sangat penting saat ini adalah mengenalkan komoditas unggul apa saja yang harus diproduksi sekaligus dikonsumsi juga oleh petani. Jangan sampai membodohi petani untuk memproduksi berbagai macam produk hortikultura untuk ekspor tapi lupa mengajari nilai gizi dari setiap tanaman yang mereka usahakan. Petani bukan buruh dan bukan juga orang miskin!

Leave a Reply

  • (not be published)