Dua pulau paling dekat dengan Rupat, yakni Bengkalis dan Dumai, nyaris terlihat bak artis karena terangnya cahaya lampu disepanjang pinggir pulau. Namun, di Rupat lampu hanya bisa dinikmati selama 6 jam saja yaitu pukul 18:00 – 00:00 itupun dengan bantuan genset. Setelah itu kegelapan kembali datang. Menurut Pak Suprapto, DI TAHUN 2012, untuk menyalakan listrik 6 jam setiap hari mereka harus mengeluarkan uang 600.000 setiap bulan untuk membeli bensin penggerak genset. Belum lagi biaya hidup sehari hari yang tergolong mahal karena sulitnya mencapai pulau ini. Ironis sekali!

Salah satu jalan lintas paling baik yang bisa dilewati saat berada di Pulau Rupat. Selebihnya sangat memperihatinkan (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

PULAU RUPAT – Pulau Rupat, pulau yang berbatasan langsung dengan dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Menuju pulau ini, kita harus melewati dua kota industri besar di Sumatera yaitu Pekanbaru dan Dumai.

Perjalanan dimulai dari kota penghasil minyak terbesar di Indonesia, Pekanbaru. Kota ini merupakan kota terbesar di Provinsi Riau. Tak heran, begitu keluar dari pesawat, udara panas dan menyengat menyerang wajah saya tanpa ampun. Bahkan untuk melangkahkan kaki menuju ruang bagasi bandara Sultan Syarif Kasim II pun kaki ini sudah tak sanggup.

Panas bercampur udara yang lembab semakin memperlambat gerakan kaki saya. Apalagi ditambah harus menggotong beban seberat 10 kg dipundak. Ini benar benar permulaan yang seru.

November 2012, usai mengambil barang dari ruang bagasi, saya langsung menghubungi jasa rental mobil yang saya dapatkan dari hasil berselancar di google waktu itu, namanya Pak Apri. Dari sekian banyak jasa sewa mobil yang saya hubungi, hanya Pak Apri yang mau mengantar kami ke kota Dumai. Itupun dengan biaya yang lumayan mahal, saat itu Ia meminta bayaran sekitar Rp700 ribu per 8 jam. Dari pada saya harus naik angkutan umum dengan ongkos murah namun dengan bawaan sebanyak ini, saya putuskan untuk sewa mobil rental. Minimal kamera dan peralatan elektronik yang kami bawa dari Jakarta tidak berdesakan dengan barang lainnya. Kamera adalah nadir hidup pencari berita macam kami ini.

Tidak banyak hal menarik yang saya temukan selama kami menyusuri kota Pekanbaru menuju Dumai. Letak kota Dumai lebih kurang 165 KM dari pekanbaru dengan jarak tempuh sekitar 6 jam. Beberapa kali harus menahan napas ketika mobil yang kami tumpangi harus berjibaku dengan truk pengangkut kelapa sawit dan minyak. Mobil yang kami tumpangi seperti berada di antara tumpukan mobil raksasa seperti di film Transformes.

Dua jam pertama perjalanan masih mulus, sisa empat jam lainnya ternyata nestapa, tahun 2012 ternyata kondisi jalan lintas dari Pekan Baru menuju Dumai ternyata rusak parah. Kendaraan yang kami harus melalui jalanan yang berlubang, becek dan bergelombang, ini merupakan hasil dari arus lalu lintas truk dengan muatan tonase tinggi. Ditambah dengan perbaikan jalan di beberapa titik, maka sukseslah jalanan yang seharusnya bisa dilintasi dengan kecepatan tinggi berakhir dengan antrian macet panjang seperti di Jakarta saat jam pulang kerja, macet total!

Menaiki Speedboat Di Bawah Jembatan Becek

Dari Dumai, perjalanan kami lanjutkan dengan kapal Speedboat Line Express yang tiketnya bisa dibeli di pelabuhan Sungai Dumai. Berada di Jalan Budi Kemuliaan, membuat pelabuhan ini cukup dikenal karena berada di tengah kota dan merupakan satu-satunya di Kota Dumai. Jadwal penyeberangan dari Dumai menuju Selat Morong – Pulau Rupat hanya satu kali setiap hari yaitu pada pukul 15:00. Harga tiket perorangan kala itu tergolong murah. Cukup membayar Rp90.000 saja anda sudah bisa menikmati perjalanan dengan kapal cepat yang lengkap dengan fasilitas AC.

Usai membeli tiket, kami langsung menuju kapal yang berada di dermaga. Untuk menuju kesana, kami harus lewat kolong jembatan kayu yang becek. Hanay satu papan kayu yang dipakai untuk akses jalan, merunduk dan berpegangan, demikian cara kami menjaga keseimbangan agar titian kayu kecil yang dijadikan sebagai injakan tidak melesat. Kalau salah sedikit saja maka akan terperosok ke dalam kubangan yang berbau amis.

Kolong jembatan berlalu, kini tibalah saat melintasi titian kecil sepanjang 3 meter selebar kaki orang dewasa. Salah langkah artinya jatuh kedalam sungai yang bau bercampur minyak. Cukup ekstrim memang, tapi menggembirakan karena perjalanan menuju dermaga seperti petualangan. Sebelum berangkat, nakhoda kapal melakukan ritual keselamatan terlebih dahulu dengan melempar kertas berwarna keemasan ke udara dalam jumlah banyak. Semacam tradisi dari masyarakat Tionghoa untuk meminta keselamatan pada yang kuasa agar selamat dalam perjalanan.

Kapal semakin cepat bergerak meninggalkan kota Dumai dan perlahan menghilang dari pandangan, digantikan oleh hutan bakau yang luas. Setelah menempuh perjalanan selama 2.5 jam, akhirnya terlihat tulisan Selamat Datang di Dermaga Selat Morong.

Dermaga ini sangat sederhana dan satu satunya yang menghubungkan Rupat Tengah dengan Kota Dumai. Kondisinya pun sangat memprihatinkan. Saya melihat anak – anak antusias menyambut kapal yang berlabuh di dermaga. Penduduk pulau ini sangat ramah, mereka dengan sigap membantu saya memindahkan barang bawaan kami. Menurut Kepala pos kesyahbandaran selat morong UPP III batu panjang, Dermaga ini baru beroperasi sekitar 6 tahun belakangan ini, itupun atas swadaya masyarakat setempat.

“Sebelum ada kapal cepat, kami hanya menyebrang pulau dengan kapal pompong tradisional. Butuh waktu 6 jam untuk menyebrang. Tapi ketika gelombang sedang tinggi masyarakat tidak bisa menyeberang ” katanya.

Hari sudah sore, sekitar pukul 17.30 waktu setempat saat kami tiba disana. Di atas dermaga sudah menunggu Pak Suprapto bersama dengan seorang lelaki yang berpakaian sangat rapi. Namanya Pak Darno, katanya dia adalah salah satu guru yang mengajar bersama dengan Pak Suprapto.

Pak Suprapto adalah guru berprestasi di Pulau Rupat yang bulan Juni 2012 lalu mendapat penghargaan sebagai guru berdedikasi oleh President RI. Pak Suprapto masih muda, tegap dan sangat bersemangat. Sekilas wajahnya tampak seperti orang Nias dengan mata sipit dan kulit sawo matang. Kami dijamu dengan baik di warung kopi di tepi pelabuhan. Saat itu air tengah pasang, jadi tiang-tiang penyangga warung ini hampir tenggelam nyaris mencapai lantai yang letaknya agak rendah.

Dari jembatan kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Sebuah jembatan aspal terlihat sangat megah saat keluar dari dermaga, “awal yang baik pikirku,” sembari menatap plang kecil di sebuah lahan milik Tommy Winata. “hmmm ternyata area ini berada di bawah perusahaannya,” gumamku waktu itu.

Sayangnya, di tahun 2012, jembatan pendek ini hanyalah hiasan belaka. Karena sebenarnya jalan berbatu dan beraspal jaraknya hanya beberapa kilometer saja. Pada akhirnya jalan setapak, becek dan sulit dilalui harus kami lewati di sepanjang jalan. Batu kecil berserakan disepanjang jalan, dan rute yang harus dilalui berupa jalan yang diameternya mencapai 1,5 meter.

Tiang Listrik Yang Terpasang Kala Itu Hanya Aksesoris Tanpa Pernah Bisa Dipakai

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, tibalah di rumah Pak Supraptoyang berada di Desa Pangkalan Nyirih dan memutuskan untuk tinggal disana. Di tahun 2012 belum ada hotel di desa ini. Warga di pulau ini memanfaatkan air hujan untuk beraktifitas sehari hari. Air sumur tidak bisa dikonsumsi karena mengandung zat asam, dengan kata lain mereka kekurangan mineral secara tak langsung.

Dan satu lagi, ternyata tiang listrik yang tadi banyak saya jumpai terpasang di sepanjang jalan desa hanyalah aksesoris belaka. Nyatanya tahun di 2012 tidak satu pun warga disini yang merasakan manfaatnya. Masyarakat hanya mengandalkan genset untuk menghasilkan penerangan. Kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan pulau disebelah yaitu Bengkalis dan Dumai, terang benderang layaknya suasana tengah konser.

Dua pulau ini, Bengkalis dan Dumai, nyaris terlihat bak artis karena terangnya cahaya lampu disepanjang pinggir pulau. Namun, di Rupat lampu hanya bisa dinikmati selama 6 jam saja yaitu pukul 18:00 – 00:00 itupun dengan bantuan genset. Setelah itu kegelapan kembali datang. Menurut Pak Suprapto, DI TAHUN 2012, untuk menyalakan listrik 6 jam setiap hari mereka harus mengeluarkan uang 600.000 setiap bulan untuk membeli bensin penggerak genset. Belum lagi biaya hidup sehari hari yang tergolong mahal karena sulitnya mencapai pulau ini. Ironis sekali.

Hari kedua di pulau Rupat diawali dengan hujan gerimis di pagi hari. Pagi ini Pak Suprapto terlihat sangat rapi dan berwibawa dengan seragam batiknya. Kami siap berangkat ke sekolah tempat Ia mengajar di Teluk Leucah. Kami akan mendokumentasikan seluruh aktifitas Pak Suprapto selama di sekolah. Diawali dengan upacara bendera, anak-anak langsung dikumpulkan di lapangan begitu lonceng dibunyikan. Tapi yang seru adalah tatapan anak anak ini. Mereka dengan mimik muka lucu dan serius menatap kehadiran saya dan juru kamera yang saya bawa.

Sekolah ini sederhana, terdiri dari 7 ruang kelas, 1 ruang guru dan 1 ruang kepala sekolah yang merangkap ruang tamu. Namun sekolah rentan banjir, tanah gambut disini membuat hujan gerimis yang hanya berlangsung sekitar 1 jam langsung menggenangi seluruh area halaman sekolah hingga diatas kaki orang dewasa. Sangat memprihatinkan. Teras kelas pun dibanjiri air, sepatu anak-anak yang tadinya diletakkan di bawah langsung dipindahkan ke atas deretan kursi dan meja yang diletakkan di luar. Beberapa anak langsung memakai sepatunya, biasanya tidak akan diizinkan memakai sepatu di dalam ruangan. Baik guru dan murid harus melepas sepatu dan kaus kakinya saat proses belajar mengajar berlangsung.

Hari itu di kelas 4 Pak Suprapto akan mengajar pelajaran IPA. Ada 7 siswa di dalam ruangan. Mereka sudah membawa berbagai macam jenis daun yang disuruh. Topik hari itu tentang jenis jenis daun dan akar. Kelas kecil ini tampak sangat ramai karena semua anak antusias menjawab semua pertanyaan Pak Suprapto. Kecerdasan mereka sama dengan anak-anak yang bersekolah di kota. Suprapto, pria kelahiran Bandung 15 april 1973 telah mengabdikan diri sebagai guru di Pulau Rupat selama lebih dari 17 tahun. Pak Suprapto pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Rupat tahun 1994. Awal kedatangannya ke pulau ini hanya untuk mengurus tanah milik ayahnya yang pernah bermukim disana. Di awal 90-an kondisi pulau rupat masih sangat memprihatinkan.

Anak SD Tak Kenal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Kata Pak Suprapto, di awal kedatangannya ke Pulau Rupat, banyak sekolah yang hancur tak terpakai. Anak-anak juga lebih memilih bekerja dari megnambil getah karet dari pada sekolah. Melihat kondisi demikian, Ia langsung memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk memberi pendidikan bagi semua anak disini. Baginya mengajar di pulau ini sudah seperti panggilan hidup.

Pak Suprapto mengakui saat itu cukup sulit mengajarkan anak-anak Pulau Rupat tentang rasa cinta Tanah Air karena pulau ini sangat identik dengan budaya melayu. Siaran televisi masih dominan diisi dengan acara TV malaysia. Bahkan saat itu, salah satu anak yang saya temui di luar sekolah tempat Pak Suprapto mengajar tidak tahu bila Presiden RI adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

“Siapa presiden Indonesia sekarang?” tanyaku pada seorang anak kecil yang kutemui di sebuah warung yang letaknya tak jauh dari lokasi sekolah.
“Mahatir Mohammad,” katanya sambil mengunyah gorengan miliknya.

Sekolah menengah Karya Lestari adalah salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang didirikan oleh suprapto dan teman – temannya. Sekolah ini sekarang lebih dikenal dengan nama SMP Negeri 3 Rupat. Banyak terobosan baru yang Ia lakukan untuk mengembangkan sekolah di pulau ini. Misalnya mengajarkan kebiasaan upacara bendera setiap hari Senin di masing-masing sekolah dan mengadakan acara pramuka siaga.

Pak Suprapto Adalah Orang Pertama Yang Mendirikan SMP dI Rupat, Orang Pertama Yang Mengajari Anak Sekolah Disiplin Upacara

Awalnya suprapto dikucilkan karena mengajarkan hal baru yang tidak lazim. Banyak yang menentang atau bahkan menganggapnya gila. Tapi sekarang hampir seluruh sekolah di desa ini mulai menerapkan sistem upacara bendera. Dulu acara pramuka siaga Ia biayai dengan uang sendiri, dan akhirnya berhasil menjadi acara tahunan yang selalu ramai diikuti oleh ribuan sekolah dari seluruh Rupat.

Untuk pengabdian yang tak kenal lelah ini, tanggal 7 September kemarin Suprapto dianugrahi penghargaan oleh Pemerintah sebagai Guru Berdedikasi tahun 2012. Tentunya ini adalah penghargaan yang sangat membanggakan bagi Pak Suprapto. Saya juga sangat bangga dengan perjuangan bapak yang satu ini. Saya yang tinggal selama 7 hari di Rupat merasa semua guru yang mau mengajar disini adalah spesial.

Bagaimana tidak, di pulau, di tahun 2012, belum ada bank pemerintah dan swasta yang beroprasi. Uniknya lagi, pulau ini adalah pulau terluar Indonesia yang bersebelahan dengan Malaysia, tapi tidak ada pos polisi RI yang berpatroli disini. Mencengangkan memang. Hampir seluruh pulau ini diisi dengan tanaman karet yang entah milik siapa dan perusahaan apa. Agak ganjil memang.

Perkebunan luas tapi jalan untuk akses mobil nihil. Saat itu, semua masyarakat di pulau ini menunggu realisasi terwujudnya program Transmigrasi Bersistem Kota Terpadu Mandiri ( KTM ). Tapi yang tersisa hanya tugu megah yang mulai ditumbuhi lumut dan ilalang. Banyak proyek disini, tapi proyek setengah hati alias proyek abal abal agar dana turun saja. Belum lagi ada beberapa sekolah menengah yang bangunannya sudah selesai tapi tidak pernah dipergunakan. Dibangun ditengah hutan, menjangkaunya saja sulit. Jadilah ilalang berlomba menutupi bangunan yang masih bercat baru itu.

Tapi, Pulau Rupat memiliki pantai berpasir putih yang eksotis namanya Pantai Pasir Panjang. Mengunjungi pantai ini di hari biasa artinya anda akan menerima pantai pribadi,bersih dan nyaris tanpa ada turis. Tak ada salahnya berkunjung ke pulau ini bila anda merindukan suasana liburan yang berbeda. Bila memiliki budget lebih, sebaiknya anda menyewa motor trail dari Dumai agar lebih mudah melewati semua rute disepanjang pulau dengan aman tanpa harus sering terpeleset atau terjatuh sewaktu melewati beberapa kubangan besar.

Jangan lupa menyewa jasa guide lokal untuk membantu anda mengenali wilayah mana yang bisa dilewati di pulau ini. Karena air laut sering pasang, sering jalan setapak hilang atau sulit dikenali. Jangan sampai anda terjatuh ke dalam sungai yang anda kira masih jalan setapak. Karena di Rupat jalan bisa hilang atau habis seketika. anda tak ingin tersesat di hutan kan?

Leave a Reply

  • (not be published)