Dosen Pengajar Alkitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – Dan saat diizinkan kembali pulang ke tanah air mereka yakni Israel, ternyata invasi dan serangan dari bangsa lain tak pernah selesai. Tanah Yerusalem diperebutkan meski orang Yahudi yang dahulu adalah orang-orang asli yang pernah tinggal di Israel telah pulang ke rumah mereka masing-masing.

“Di Palestina yang masuk kembali adalah kaum Yahudi yang dulu pernah berada disana, tetapi terserak, diaspora keberbagai bagian dunia, dan melalui gerakan Zionisme atau kembali ke Zion, mereka pulkam atau pulang kampung, dan mendirikan Israel Raya,” ujar Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari kepada The Editor, Sabtu (22/5).

Sekedar informasi, Zionisme adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul sejak abad ke-19 ini ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina yang kala itu dikuasai kekaisaran Usmaniah Turki.

Namun, lanjut Rita, sejak jaman purba, Yerusalem telah diisi oleh berbagai suku bangsa dan bahasa yang memiliki adat istiadat yang berbeda.

“Alkitab pun dengan jelas mencatatnya,” ungkap Rita.

Dan tanpa kaitan agama, kata Rita, beberapa bangsa yang pernah menduduki Israel adalah bangsa Amon, Het, Moab, Amalek, Filistin dan lain sebagainya yang masing-masing punya kerajaannya sendiri-sendiri.

Sementara itu, lanjutnya, sejarah menuliskan bahwa Raja Babel Nebukadnezar pernah menghancurkan Yerusalem dan menjadikan penduduknya sebagai budak di Babel. Kehebatan Nebukadnezar memang sangat teraohor karena Raja Asyur dan Raja Mesir pun tidak bis menghentikan langkah Raja Babel ini.

Kontroversi nama Filistin yang sering disebut Palestina

Pengetahuan tentang agama orang Filistin bergantung pada Alkitab. Ketiga allah mereka yang disebut Dagon, Asytoret dan Baal-Zebub berasal dari Asia Barat. Penggalian di Bet-Sean mengisyaratkan bahwa kedua kuil yang ditemukan disana nampaknya adalah milik Dagon dan Asytoret. Di situ digantungkan tanda-tanda kemenangan waktu menaklukkan Raja Saul.

Tapi tak satu pun dari kuil itu yang dapat dipastikan kuil orang Filistin. Sejarah Alkitab menyebutkan bahwa Orang Filistin diketahui memiliki kebiasaan mempersembahkan korban-korban sembelihan dan membawa jimat jika berperang.

Asal usul dan peran Bangsa Filistin

Jika dikumpulkan semua bukti yang ada, kata Rita. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang Filistin datang langsung dari daerah Egea, walaupun mungkin tidak berasal dari sana. Ada ahli yang menyamakan nama itu dengan Pelasgoi, penduduk daerah Egea pra-Yunani. Pandangan ini dinilai lebih berbobot karena muncul dua kali dalam sastra Yunani, yanb dieja dengan t dan bukan dengan g.

“Pandangan ini masih diperdebatkan, dan sekiranya pun diakui demikian, sebutan kuno tentang Pelasgoi masih terlalu kacau untuk menjernihkan pengertian,” jelas Rita.

Bangsa Filistin Adalah Seorang Pelaut

Orang Filistin adalah salah satu dari bangsa pelaut yang pada akhir milenium kedua meninggalkan daerah Egea. Perpindahan ini diduga karena datangnya orang Yunani.

Orang Filistin mengungsi melalui jalur darat dan laut, sebagian melalui Kreta dan Siprus ke Asia Barat. Disana mereka mencari tanah tempat berpijak. mula-mula sebagai tentara bayaran dari para firaun, raja-raja orang Het dan penguasa-penguasa Kanaan, dan kemudian sebagai pemukim yang terhisab dalam penduduk asli.

“Walaupun nama mereka bertahan beberapa abad, tapi orang Filistin yg terdapat dalam Alkitab dan orang Ceker yang menduduki daerah pantai yang berbatasan.  Dan mungkin bangsa-bangsa pelaut lainnya juga secara praktis menjadi orang Kanaan,” ungkapnya.

“Kurang diketahui pasti apakah orang Filistin dalam Perjanjian Lama itu identik dengan orang Palestina dewasa ini, mungkin sama dan barangkali pula berbeda,” ungkap Rita.

Sebagaimana diketahui, Israel dan Palestina sepakat menyatakan gencatan senjata pada Kamis waktu setempat kemarin. Momen yang mengharukan ini terlihat di Gaza dan Yerusalem. Semua orang berpesta dan bersorak saat mendengar keputusan ini. Dan hingga kini pesta kebahagiaan masih dirayakan di Israel maupun Palestina.

Leave a Reply

  • (not be published)