Petani Desa Lambar kini lebih banyak menanam kopi dan jeruk (Foto: Erawati Br Ginting/ THE EDITOR)

LAMBAR – Setiap sore seharusnya kunang-kunang muncul di pinggir jalan desa ini. Sejak padi tak lagi ditanam dan aliran irigasi berhenti, hewan yang mengeluarkan berbagai warna cahaya dari tubuhnya ini tak lagi muncul. Kalaupun ada hanya sesekali saja.

Di Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara terdapat beberapa desa yang dulunya jadi habitat untuk kunang-kunang dan burung-burung pemakan padi. Kini binatang-binatang tersebut sudah jarang terlihat, pun kalau ada satu ekor kunang-kunang yang masuk ke rumah-rumah penduduk. Seperti yang masuk ke rumah mamak saya beberapa waktu lalu.

Desa Lambar adalah salah satu desa di Kecamatan Tigapanah yang jadi habitat kunang-kunang. Di awal tahun 2000-an kunang-kunang selalu muncul di sore hari. Kemunculan mereka tidak hanya di area persawahan, tapi juga hingga ke jalan raya dimana kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang.

Dulunya Desa Lambar adalah ladang untuk warga yang tinggal di Desa Suka, letaknya hanya 30 menit ditempuh dengan kendaraan. Lama kelamaan, satu per satu masyarakat yang tinggal di Desa Suka mulai tinggal di ladangnya masing-masing karena dibutuhkan waktu 1-2 jam berjalan kaki dari rumah ke ladang.

Letaknya yang berada di jalur utama jalan raya Merek-Pematang Siantar membuat perkembangan desa ini sangat cepat. Pendatang dari desa-desa lain juga tidak ingin ketinggalan untuk membuka lahan mereka di Desa Lambar. Aliran irigasi yang baik membuat lahan pertanian saat musim tanam padi tumbuh subur.

Kunang-kunang pun demikian, kemunculan hewan ini di sore hari membuat jalan raya indah bak dipenuhi cahaya lampu. Mereka hinggap di ilalang dan berbagai macam tumbuhan obat yang tumbuh subur di pinggir jalan Desa Lambar.

Sayangnya, seiring terganggunnya saluran irigasi sawah, alih fungsi sawah jadi area perumahan dan perubahan petani yang tidak lagi menanam padi membuat populasi kunang-kunang berkurang, bahkan mulai hilang.

Sesekali kunang-kunang akan muncul di rumah penduduk. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di rumah Ibu Nurdiana Br Ginting yang ada di Desa Sukadame yang letaknya bersebelahan dengan Desa Lambar. Satu ekor kunang-kunang masuk ke dalam rumahnya yang dipenuhi tumbuhan hijau.

Kenapa Kunang-Kunang Bercahaya?

Sari, M., Ratnawulan dan Gusnedi dalam bukunya yang dijadikan sebagai rujukan dalam situs resmi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa kunang-kunang adalah hewan nocturnal alias hewan yang aktif di malam hari. Fenomena pancaran cahaya dari kunang-kunang merupakan hasil dari reaksi kimia yang disebut dengan kemiluminesensi.

Kunang-kunang dapat mengeluarkan cahaya melalui suatu proses yang dikenal dengan Pada proses ini, zat luciferin di dalam abdomen bereaksi dengan enzim luciferase dan oksigen. Reaksi kimia ini mampu menghasilkan cahaya atau panas yang lemah yang kemudian dikenal dengan istilah cahaya dingin (cold light).bioluminescence.

Udara yang masuk ke dalam perut kunang-kunang mampu menciptakan pola denyut yang kemudian menciptakan cahaya berkedip dari kunang‐kunang tersebut. Cahaya yang dikeluarkan kunang-kunang memiliki beberapa fungsi untuk menarik lawan jenis, mempertahankan diri, kegiatan perburuan, dan sebagai penanda alam bebas polusi udara.

Kunang-kunang merupakan serangga unik, karena kemampuannya untuk menghasilkan cahaya. Spesies kunang-kunang termasuk dalam keluarga Lampyridae yang merupakan ordo dari Celeoptera. Dalam bahasa Inggris kunang-kunang disebut dengan istilah Firefly atau Lightning bug Atau Glowworms.

Kunang-kunang mempunyai tubuh memanjang, panjang berkisar 4.5-20 mm, tubuh lunak, pronotum meluas kearah depan di atas kepala, sehingga kepala nampak melebar dilihat dari atas, mata tersembunyi bila dilihat dari atas, beberapa abdomen terakhir tarsi 5-5-5.

Leave a Reply

  • (not be published)