Sampah-Plastik-1.jpeg

Sampah terlihat di sebelah pantai di Fiumicino, dekat Roma, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Foto AP / Andrew Medichini)

ITALIA – Selama pandemi corona, Italia berhasil mengurangi 10% penggunaan sampah plastik. Namun, ketergantungan akan benda-benda anti virus corona menambah persoalan lain, yakni peningkatan jumlah masker dan sampah sekali pakai di lautan.

Peneliti Italia memperkirakan bahwa selama beberapa bulan belakangan ini, tepatnya di masa isolasi warga Italia di bulan Maret dan April, produksi limbah masyarakat di perkotaan turun sebanyak 500.000 ton.

Penurunan ini memungkinkan tempat pembuangan sampah di negara tersebut berfungsi baik karena sebenarnya hanya mampu menampung hingga 300.000 ton sampah. Institut Italia untuk Perlindungan dan Penelitian Lingkungan melaporkan bahwa masker pelindung dan sarung tangan adalah benda-benda yang paling banyak ditemukan di tumpukan sampah.

“Secara substansial, angka-angka tersebut akan saling menyeimbangkan pada akhir tahun ini,” kata Valeria Frittelloni, kepala lembaga pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular kepada The Associated Press.

Tetapi, pandmeu ternyata justru meningkatkan penggunaan plastik sekali pakai. PBB, Greenpeace, organisasi lingkungan Marevivo Italia dan kelompok serupa lainnya memperingatkan bahwa ketergantungan terus-menerus pada plastik sekali pakai akan menimbulkan risiko jangka panjang terhadap lingkungan.

Hal ini berlaku untuk negara dengan garis pantai yang panjang di sepanjang Laut Mediterania, yang umumnya terganggu oleh munculnya pecahan plastik kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.

“Kami belum memiliki perkiraan berapa banyak dari benda-benda plastik yang dibuang ke lingkungan, tapi yang pasti adalah bahwa semua yang telah ditinggalkan cepat atau lambat akan mencapai laut,” kata Giuseppe Ungherese, Kepala Anti Kampanye Polusi di Greenpeace Italia.

Setelah bertahun-tahun mengurangi ketergantungan pada produk seperti kantong plastik dan peralatan makan, sejalan dengan arahan Uni Eropa, Italia mengalami lonjakan besar dalam penggunaan plastik selama keadaan darurat virus corona. Konsorsium Nasional Italia untuk Pengumpulan dan Daur Ulang Paket Plastik mengatakan peningkatan belanja online dan kemasan terkaitnya menyebabkan peningkatan sampah plastik sebesar 8%, bahkan dalam penurunan produksi sampah secara keseluruhan.

Keiron Roberts, seorang peneliti lingkungan di University of Portsmouth di Inggris mengatakan bahwa negara lain juga sangat ketergantungan pada benda plastik karena aturan tinggal di rumah mengharuskan mereka untuk berbelanja online. Di seluruh negara Eropa, Italia lah yang paling rentan.

“Daerah yang dikelilingi garis panai akan dengan mudah diserang oleh tumpukan masker bekas pakai usai hujan. Karena hujan mendorong limbah masker yang masuk ke sungai dan saluran air ke laut,” jelasnya.

“Tidak ada wilayah Mediterania yang tidak terkena dampaknya,” tambahnya.

Pusat Penelitian Nasional Italia melaporkan pada tahun 2018 keberadaan mikroplastik di permukaan air laut lepas pantai Italia sebanding dengan tingkat yang ditemukan di penampungan sampah Laut Pasifik, tempat dimana kumpulan puing-puing sampah membentang di sebagian wilayah lautnya.

Secara global, Program Lingkungan PBB telah memperingatkan akan bahaya peningkatan penggunaan plastik sekali pakai seperti masker dapat menyebabkan pembuangan yang tidak terkendali dan menambah polusi laut.

PBB mendesak negara-negara lainnya untuk mengembangkan rencana pembuangan yang memadai. Badan Perdagangan PBB, UNCTAD memperkirakan penjualan masker wajah secara global di seluruh dunia akan mencapai 166 miliar dollar tahun ini, naik dari 800 juta dollar pada tahun 2019.

Bahkan sebelum krisis COVID-19, hanya seperempat limbah Italia yang di daur ulang, dengan perkiraan 53 kiloton plastik bocor ke laut Mediterania setiap tahun, menurut kelompok lingkungan WWF.

“Plastik dan pemanasan global adalah ancaman utama, dan kita perlu bertindak sekarang untuk mencegah planet dan laut kita berubah menjadi lingkungan yang tidak bersahabat dan tidak dapat ditinggali,” kata Ungherese dari Greenpeace.

 

Leave a Reply

  • (not be published)