Anak-anak nelayan Pulau Selayar bermain di pinggiran dermaga Pantai Barugaia, Jumat, 25 Juni 2021 pagi (Foto: Elitha Tarigan/ THE EDITOR)

SELAYAR – Nelayan Pulau Selayar, salah satu bagian dari perekonomian masyarakat yang enggan berpangku tangan pada pemerintah. Dalam kesehariannya, para nelayan di pulau yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan memang hidup dengan cara yang sederhana.

Kebahagiaan mereka juga patut diacungi jempol, jadi tak heran turis-turis mancanegara yang pernah datang ke kabupaten kepulauan Selayar ini selalu menorehkan catatan positif di berbagai media sosial mereka.

Kali ini tim jalan-jalan The Editor menginap di rumah Ibu Salma, salah satu warga Pulau Selayar yang rumahnya berada di Desa Barugaia Kecamatan Bonto Manai, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Bergantian membersihkan pantai, demikian diungkapkan oleh Anjas (42), suami Ibu Salma yang kesehariannya bekerja sebagai pelaut menjelaskan tentang kesulitan nelayan yang terjadi selama ini. Gempuran sampah laut yang menerpa Pulau Selayar di bulan Desember hingga April dihadapi para nelayan dengan tenang.

“Padahal di bulan-bulan itu nelayan harus berjibaku dengan sampah yang datang dari pulau lain dan ikan-ikan yang diperoleh saat melaut bercampur dengan sampah. Kadang bahkan sulit untuk mendapatkan ikan,” ujar Anjas.

Para nelayan disini, lanjutnya, swadaya untuk membersihkan sampah-sampah kiriman yang mampir di pulau mereka. Tanpa keluhan, semua pekerjaan dilakukan bersama-sama oleh nelayan yang tinggal di sepanjang bibir Pantai Barugaia.

Kata Anjas, nelayan di pulau ini juga hidup berdampingan dengan alam. Isu penangkapan lobster dengan menggunakan obat bius sempat membuat pulau ini jadi sorotan. Padahal lokasi kejadian berada di pulau lain yang tidak jauh dari Pulau Selayar.

“Akibatnya ke kita adalah pemerintah marah, kemudian melarang nelayan menangkap lobster. Padahal peristiwa justru terjadi di pulau lain, bukan di Selayar,” jelasnya.

Tabung televisi yang menyisakan pecahan kaca tajam dan sampah terdampar di pinggir pantai tempat anak-anak bermain di Pantai Baraugaia, Selayar (Foto: Elitha Tarigan/ THE EDITOR)

Isu negatif semacam ini, kata Anjas, mengurangi nilai jual ikan perolehan nelayan dari Pulau Selayar. Karena konsumen umumnya mulai mencurigai ikan-ikan yang dijual nelayan Pulau Selayar juga terkontaminasi obat bius.

Kata Anjas, nelayan Pulau Selayar memang pernah dan sempat menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan. Namun pada akhirnya setelah melihat kerusakan ekosistem yang berpengaruh pada berkurangnya jumlah ikan, maka para nelayan mulai kembali pada metode penangkapan ikan yang wajar.

Terlepas dari itu, Anjas menjelaskan bahwa solidaritas nelayan Selayar dalam menjaga kebersihan pantai memang perlu mendapat apresiasi dari pemerintah. Bantuan terhadap para nelayan ini harus dilakukan terutama saat angin muson barat menyerang perairan Selayar. Jutaan sampah yang masuk ke Pantai Barugaia perlu mendapat perhatian khusus karena sampah-sampah ini sering melukai masyarakat.

“Anak-anak sering kena kaca dan benda tajam saat bermain di laut. Jadi pemerintah harus turun langsung untuk membantu pembersihan sampah disepanjang pinggiran pantai,” pungkasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)