Penasehat Keuangan Ronawati Wongso (Foto: Koleksi Pribadi)

Penasehat Keuangan Ronawati Wongso (Foto: Koleksi Pribadi)

JAKARTA – Dengan gesit Ronawati Wongso menyapa redaksi The Editor lewat pertemuan virtual pada Jumat (23/4) siang. Puluhan tahun berlalu, namun ternyata perempuan yang di awal karirnya langsung mendapat posisi Asisten Direktur Finance ini masih tetap ingat saat pertama kali bekerja di PT Maspion.

“Saya join dengan Maspion tahun 1995, Saya waktu itu masih muda berusia 32 tahun. Jabatan Saya waktu itu Asisten Direktur Finance dan Ada Finance Director tapi kita sama-sama reportnya ke owner Maspion Pak Alim Markus. Jadi saya tidak report ke Finance Director,” Ujar Rona, sapaan akrabnya.

Kata Rona, di awal karirnya Ia memang langsung ditempatkan menangani corporate finance PT Maspion seperti halnya treasury dan funding di perusahaan tersebut. Karena dianggap lihai, maka di satu tahun pertama karirnya Rona langsung dipromosikan langsung sebagai Finance Director di PT Maspion Group. Dan pengangkatan ini dilakukan langsung oleh Alim Markus, pemilik PT Maspion Group.

Di tahun 1995, lanjutnya, di awal masuk kerja, Rona mengatakan bila PT Maspion Group sudah menjadi salah satu perusahaan besar di Indonesia. Namun menurutnya perusahaan yang cepat berkembang ini tidak bisa menjaga aliran uangnya dengan baik. Sehingga keuangan perusahaan jadi tidak seimbang dan sulit untuk berkembang.

“Jadi untuk minta pinjaman ke bank karena asetnya banyak yang sudah dijaminkan,” katanya.

Agar terus berkembang, Rona melakukan sindikasi agar Maspion Group bisa mendapatkan pinjaman tanpa jaminan, dan ternyata berhasil. Dan akhirnya perusahaan ini bisa membangun pabrik stainless steel yang investasinya puluhan juta dolar dan beberapa perusahaan lain.

“Saya waktu itu berhasil mendapat pinjaman kecuali dari Bank Dagang Negara. Yang lainnya kita ambil semua,” jelasnya.

“Dengan uang tersebut kita lakukan perputaran,” tambahnya lagi.

Semua kerja keras ini dilakukan oleh Rona dalam waktu 2,5 tahun saja. Infrastruktur PT Maspion Group ternyata terbangun kokoh di tangannya.

Badai Krisis Moneter Melanda Indonesia Dan Dunia

Penasehat Keuangan Ronawati Wongso (Foto: Koleksi Pribadi)

Penasehat Keuangan Ronawati Wongso (Foto: Koleksi Pribadi)

PT Maspion Group saat itu tidak takut saat krisis moneter mulai melanda Indonesia. Demikian dikatakan Rona sembari tersenyum saat menjelaskan situasi di internal perusahaannya kala itu.

“Karena kita banyak ekspor, dan kita banyak pinjaman dollar juga tapi kita banyak ekspor. Jadi kita no worry-lah,” ungkapnya.

Namun, saat Oktober 1997 ketidakpastian iklim ekonomi mulai terlihat di mata Rona. Harga dollar yang semula di angka Rp2.000 mulai naik ke angka Rp3.000 lebih. Meski tidak panik namun Rona yang terbiasa berbicara dengan para bankir mulai menerapkan strategi melawan krisis moneter.

Apa saja itu?

1. Hedging

Rona saat itu mengaku langsung menyampaikan kepada pemilik PT Maspion untuk melakukan hedging. Ia mengakui saat itu pihak perbankan mulai membekukan dana dan aset mereka sehingga sangat sulit untuk dicairkan.

Saat krisis moneter, Rona saat itu hanya bisa menjalin komunikasi yang baik dengan dua bank saja, yakni Bank Dagang Negara dan American Express Bank. Sementara mereka harus menutupi biaya yang mencapai 100 juta dollar.

“Yang lain itu sudah beku semua. Meskipun maspion perusahaan yang baik, cicilan kita bayar tapi karena bank panik maka semua di freeze dulu. Jadu kita keteteran karena kita banyak impor yang mencapai 10 juta dollar sekali masuk,” jelasnya.

2. Menghitung Eksposur

Cara lain yang diambil Rona adalah menghitung eksposur seluruh anak perusahaan PT Maspion Group sehingga bisa melakukan hedging kembali.

Dan akhirnya, Credit Swiss adalah satu-satunya penyelamat yang berani memberikan pinjaman tanpa jaminan saat semua bank menutup diri karena krisis moneter.

“Memang ada dari bank-bank lain tapi tidak besar,” ungkapnya.

Namun saat gempuran harga dollar mencapai harga Rp13.000 pada akhir Desember 1998, kejelian Rona dalam membaca kondisi ekonomi global kembali diuji. Terutama saat mengawali tahun 1998 ketika dollar menembus angka Rp15.000 di Februari.

3. Unwind

Gempuran dollar terhadap rupiah yang makin tak karuan membuat Rona harus mengambil kebijakan dengan mengakhiri transaksi dengan Credit Swiss.

Karena iklim ketidakpastian ini, akhirnya Rona memutuskan untuk menjual hedging untuk mencari keuntungan agar perusahaan bisa terus berjalan. Upaya hedging dilakukan dalam beberapa tahap. Dan diakui Rona jumlahnya kala itu sangat banyak.

“Kita lakukan secara bertahap karena ada beberapa perusahaan yang masih harus lakukan pembayaran cicilan,” ungkapnya.

4. Negosiasi Dengan Bank

Rona memutuskan untuk mengakhiri pinjaman bank saat krisis berlangsung. Bunga bank yang mencapai 60 persen membuatnya melakukan negosiasi ulang dengan bank-bank pemberi pinjaman kepada Maspion.

“Saya bilang ke bank waktu itu kami nggak bisa bayar on time, saya akan bayar 100 persen dan bunganya juga akan bayar tapi bunga yang wajar karena kami buka nasabah yang nggak bayar. Sementara saya nasabah baik,” katanya.

Kesepakatan yang diperoleh Rona dengan bank pemberi pinjaman saat itu adalah restrukturisasi pembayaran principal yang terjadwal. Bila tidak maka semua bank yang tengah berebut uang cash yang cepat akan terus melakukan permintaan yang tidak bisa dipaksakan oleh Maspion.

“Akhirnya kita cicil waktu itu pelan-pelan dan berhasil,” ungkapnya.

Akhirnya, Rona berhasil karena terbukti saat itu perusahaan ini berhasil selamat mengarungi badai. Salah satunya adalah dengan tidak terjadinya pengurangan karyawan di PT Maspion Group saat krisis moneter.

“Semuanya itu Tuhan yang berkehendak,” ungkapnya.

Rona adalah seorang penasehat keuangan yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Southern California dan mendapat gelar Master dari University of Texas at Austin.

Saat ini Rona membuka perusahaan jasa konsultasi keuangan bernama Rantai Consulting yang bisa diakses di www.rantaiconsulting.com. Dan Ia adalah penulis buku “Company Makeover for Massive Profits”, buku ini memuat berbagai ilmu dan pengalamannya meningkatkan laba perusahaan secara masif.

Ia juga sempat bekerja sebagai Board Member di Maxpower Group Pte Ltd dan PT Wonokoyo Jaya Corporindo. Kemudian sebagai Chief Financial Officer Samko Timber Ltd, Finance Director Maxpower Group Pte Ltd.

 

Leave a Reply

  • (not be published)