Rita Wahyu Wulandari

JAKARTA – Eropa akan dipenuhi oleh orang Arab. Demikian isu yang banyak muncul dalam beberapa tahun terakhir ini. Perpindahan dengan alasan keamanan dan ekonomi membuat warga Arab yang kebanyakan beragam Islam pindah ke negara-negara Eropa yang dinilai lebih aman.

Kota Munich di Jerman misalnya. Anda akan dengan mudah menemukan orang-orang Arab dengan pakaian khas Timur Tengah berdiri dan berjejer di tempat-tempat yang banyak menyajikan makanan. Ciri khas ini memang sangat kental di seluruh dunia dimana orang Arab selalu mudah ditemukan di area pusat penjualan makanan, namun bukan restoran mewah atau pun pusat perbelanjaan.

“Eropa dalam beberapa tahun lagi mungkin akan jadi Euro Arabia,” ujar Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari saat berbincang dengan redaksi The Editor beberapa waktu lalu.

Menurut Rita, alasan mengapa Eropa menjadi salah satu daerah perpindahan yang tepat bagi orang Arab karena gaya hidup masyarakat Barat itu sendiri. Orang Eropa yang lebih mengutamakan karir dan gerakan LGBT Movement membuat pertumbuhan etnis Eropa itu kalah dengan etnis Arab.

“Jadi kalau mereka mengutamakan karir maka paling anak mereka satu atau dua saja kan. Sementara imigran Arab ini kan beranak pinak terus dan mereka berpoligami. Jadi lama-lama akan berkurang terus (penduduk Eropa) ini,” ujar Rita lagi.

Kemungkinan, lanjutnya, bisa jadi prediksi yang telah dilakukan sejak tahun 1998 ini akan terjadi. Dimana banyak orang Arab akan memenuhi daratan Eropa. Padahal, di jaman pertengahan Eropa sangat terkenal akan sekolah-sekolah seminari yang menghasilkan banyak bibit muda yang memahami Alkitab. Bahkan kejayaan ini tersohor hingga ke seluruh dunia.

Sayangnya, kekristenan saat ini justru mundur di Eropa. Gedung-gedung gereja bahkan hanya jadi puing-puing yang isinya adalah orang tua. Sementara biaya perawatan gedung gereja yang rata-rata memiliki desain arsitektur yang megah sangat mahal.

“Setelah era reformasi, seminari-seminari di Eropa itu kan banyak banget. Alkitab terjemahan King James dinilai seolah-olah yang terbaik dan kalau tidak baca King James terjemahannya salah gitu kan. Dan sekolah-sekolah seminari di Eropa itu kan hebat banget di jaman pertengahan. Tapi sekarang kekristenan mundur disana. Dan gereja isinya cuma orang-orang jompo. Karena nggak kuat manitenance-nya akhirnya dijual dan yang beli komunitas Islam dan jadilah masjid,” ungkapnya.

“Selain itu orang Eropa yang menjadi atheis dan agnostik itu banyak juga,” jelasnya lagi.

Akhirnya, kata Rita, perkembangan agama kristen justru berubah arah ke Asia. Korea Selatan misalnya dimana penduduknya mayoritas kristen. Dengan kondisi ini, Rita memprediksi kekristenan di Eropa akan habis dan hanya meninggalkan museum dan gedung gereja.

Untuk Indonesia, lanjut Rita, perkembangan Agama Kristen tidak sama dengan Korea Selatan. Agar bisa seperti itu maka orang Kristen sendiri harus melalui pemuridan yang benar. Artinya, orang kristen harus menyebarkan agama dengan cara yang benar dan tepat.

Leave a Reply

  • (not be published)