Gudang Beras Bulog (The Editor)

JAKARTA – Metode KSA menjadi tolak ukur akhir bagi lembaga-lembaga pemerintah yang kerap bertikai tentang jumlah produksi beras di Tanah Air.

Biasanya, bila isu musim impor muncul maka lembaga pemerintah biasanya saling tuding dan mulai bertikai. Lembaga-lembaga ini adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia hingga Bulog.

Akhirnya, tahun 2018 lalu BPS merilis metode KSA agar ketersediaan beras ini diketahui jumlah pastinya. Didukung oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Pertanian, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN, Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Lembaga ini bekerja sama agar data produksi padi bisa dihitung.

Dari data yang dirilis oleh BPS dengan metode KSA diketahui bahwa total luas panen padi di tahun 2019 mencapai 10,68 juta hektar dan di tahun 2020 mencapai 10.66 juta hektar. Sementara itu di tahun 2021 terhitung dari periode Januari – April total luas panen padi mencapai 4,86 hektar. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2020 lalu di periode yang sama yang hanya bertengger di angka 3,84 juta hektar.

Sementara itu, total produksi padi di tahun 2019 mencapai 54,60 juta ton dan di tahun 2020 mencapai 54,65 juta ton. Sementara itu di tahun 2021 di periode Januari – April 2021 total produksi padi mencapai 25,37 juta ton. Angka ini cenderung meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2020 di periode yang sama yang hanya 19,99 juta ton.

Total produksi beras di tahun 2019 mencapai 31,31 juta ton dan tahun 2020 mencapai 31,33 juta ton. Sementara itu di tahun 2021 pada periode Januari-April, jumlah produksi beras mencapai 14,54 juta ton. Angka ini cenderung meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2020 lalu pada periode yang sama dengan capaian hanya 11,46 juta ton beras.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, data produksi padi dan beras mengalami peningkatan di tahun 2021 ini dibandingkan tahun 2020 lalu pada periode yang sama.

Tahun 2020 Indonesia tidak melakukan impor beras dengan data produksi padi dan beras yang lebih rendah dibandingkan tahun 2021. Sayangnya, dengan data produksi setinggi ini, maka rekor Indonesia tidak melakukan impor beras selama tiga tahun berturut-turut akan runtuh di tengah tingginya produksi beras Tanah Air. Karna Presiden Joko Widodo telah mengumumkan rencana impor beras yang akan jatuh usai periode April berlalu. Ada apa dengan pemerintah?

Baca Juga: Presiden Jokowi Gamang Soal Impor Beras 2021

Leave a Reply

  • (not be published)