JAKARTA – 101 jembatan layang yang ada di Jakarta kini berubah fungsi jadi area budidaya tanaman, pengolahan sampah organik dan tempat daur ulang sampah anorganik.

Area bawah jembatan Kemayoran (Sumber Foto: Kementerian Sekretariat Negara)

Situs Kementerian Sekretariat Negara merinci bahwa area bawah jembatan layang yang kosong harus dimanfaatkan agar tidak digunakan sebagai sarana kriminalitas. Kita ketahui bersama bahwa, titil-titik bawah jembatan layang gelap tanpa cahaya.

Agar tempat ini tidak dijadikan sebagai tempat tinggal pemulung dan tunawisma ataupun sebagai tempat berjualan para pedagang kaki lima, maka Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran mulai menyulap ruang bawah jembatan layang sebagai ruang publik yang bermanfaat dan difokuskan pada bidang edukasi lingkungan hidup.

Edukasi lingkungan dilakukan dengan memanfaatkan keterampilan para pekerja kebersihan dan tata hijau yang merupakan warga Kemayoran sendiri. Tujuannya, untuk menanamkan rasa tanggung jawab warga atas lingkungannya sendiri dalam menyulap area yang kumuh menjadi area hijau.

PPK Kemayoran memfasilitasi kebutuhan edukasi dan mentoring kepada para pekerja dengan tiga kegiatan utama, yakni Budidaya Tanaman, Pengolahan Sampah Organik dan Daur Ulang Sampah Anorganik.

Mereka yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keilmuan di bidang pertanian dan penataan taman justru berkontribusi penuh dalam menciptakan ruang edukasi publik di bidang lingkungan hidup. Tim kebersihan dan tata hijau dari PPK Kemayoran kemudian mengubah ketiga area bawah jembatan layang menjadi area One-Stop Gardening Service.

Kegiatan budidaya tanaman di area bawah jembatan layang sedikit berbeda dengan budidaya pada umumnya. Tanaman yang dipilih merupakan jenis tanaman yang tidak banyak membutuhkan sinar matahari. Tanaman jenis ini di antaranya Hanjuang (Cordyline), Bakung (Heliconiaspeciosa) dan Ruelia (Ruelliamalacosperma).

Selain edukasi dalam mendiferensiasi jenis tanaman, para pekerja juga diajarkan untuk melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ini kemudian diaplikasikan di area bawah jembatan layang, jalur hijau serta fasilitas taman yang ada di sekitar Kemayoran. Edukasi ini untuk meningkatkan kemandirian para pekerja dalam menyiapkan kebutuhan pupuknya.

Kondisi lahan bawah jembatan layang di Kemayoran kini semakin menarik. Sebelumnya tidak tertata kini menjadi salah satu taman penyumbang oksigen di tengah sulitnya ruang terbuka hijau ibu kota. Edukasi yang diberikan kepada para pekerja dalam mendaur ulang sampah anorganik menjadi daya tarik tersendiri bagi area tersebut.

Dengan kreasi para pekerja, sampah ban mobil yang tidak berguna diubah menjadi pot dan tempat duduk yang berwarna-warni. Kini, tak tampak lagi gerobak pemulung. Sebaliknya, area bawah jembatan layang menjadi lebih menarik karena dihiasi oleh berbagai jenis tanaman hias dan fasilitas dari pengolahan daur ulang sampah.

Pengelolaan taman bawah jembatan Kemayoran tentu menjawab persoalan tata kawasan yang bersih dan tertata rapi. Namun, lebih dari itu keberadaan taman bawah jembatan menjadi sarana edukasi di bidang lingkungan hidup.

PPK Kemayoran memfungsikan area hijau baru tersebut sebagai ruang belajar tentang pemanfaatan lahan, pengelolaan taman, pembuatan pupuk, dan daur ulang sampah bagi masyarakat maupun pelajar. Kehadiran taman edukasi ini pun menjadi salah satu solusi dalam menjawab persoalan polusi ibu kota.

Kedepannya, PPK Kemayoran disebut akan terus berkomitmen untuk berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup. Salah satunya, dengan menyediakan papan informasi terkait pengelolaan taman secara tertulis sebagai media edukasi pasif bagi pengunjung. Masyarakat dan pelajar diharapkan dapat lebih memahami dan peduli terhadap kelestarian dan kebersihan lingkungan.

Leave a Reply

  • (not be published)