Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera (Foto: THE EDITOR)

MEDAN – Seorang pria dengan senyum ramah menerima sambungan telepon video dari redaksi. Dr. Suprayitno, demikian Ia memperkenalkan dirinya saat mengawali pembicaraan dan tentunya Ia dengan canda khas orang Medan langsung meminta The Editor memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagai tuan rumah virtual di sesi wawancara sore pada Rabu (15/6) pukul 17.00 WIB kemarin.

“Kesultanan Aceh menyerang Kerajaan Aru itu hingga tiga kali,” ujarnya menjelaskan tentang sejarah awal mengapa Kerajaan Aru dihapuskan dalam sejarah.

Kata Suprayitno, Kerajaan Aru tercatat dalam sumber China, Arab dan Eropah, yakni Portugis sejak abad 13 sampai abad ke-17 M. Secara historis Kerajaan Aru sudah ada sejak abad ke 13 M ketika utusannya sudah sampai di Istana Kaisar Kubilai Khan pada tahun 1282 dan 1290 M.

Keberadaan kerajaan Aru juga direkam dalam sejarah Jawa (Singosari dan Majapahit). Kedua kerajaan asal Jawa ini pernah memasukkan Aru sebagai negeri dibawah vasalnya melalui ekspedisi Pamalayu Singosari 1292 dan Sumpah Palapa Patih Gadjah Mada (Majapahit) tahun 1365 M.

Aru juga tercatat dalam catatan bangsa Persia, Faidullah bin Abd.Kadir Rasyduddin dalam Jamiul Tawarikh tahun 1310 M. Pada abad yang sama, Aru juga ada disebut dalam sumber pribumi, Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.

Untuk mengetahui sejarah pertikaian Aceh dan Aru, berikut petikan wawancara redaksi dengan Dr. Suprayitno, Ketua Prodi S2 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara:

Bagaimana sejarah Kerajaan Aru?

Berdasarkan cacatan China, Arab, Eropah dan Lokal, kerajaan Aru  telah berdiri sejak abad 13-17 M. Wilayahnya cukup luas dari Sungai Tamiang sampai ke Sungai Rokan. Sebagai sebuah negeri yang besar dengan periode yang panjang hampir tiga abad, pusat pemerintahan Aru telah berpindah-pindah. Boleh jadi berawal dari Hulu Besitang atau Teluk Haru di Langkat, kemudian ke Muara Sungai Belawan, Sungai Deli (Situs Kota Cina dan Kuta Rentang), Hulu Sungai Barumun atau Muara Sungai Panai dan terakhir ke Deli Tua, sekitar 25 Km dari Muara Sungai Belawan.

Dalam sejarah Melayu, ada disebutkan tentang nama-nama pembesar Aru yang erat kaitannya dengan nama-nama atau marga orang Karo, seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat dan nama Aru atau Haru juga dapat dikaitkan dengan Karo. Jika informasi ini dikaitkan, maka pusat Kerajaan Aru memang berada di muara-muara sungai tersebut. Oleh sebab itu, hulu Sungai Deli atau muara Sungai (Lau Tani) di Deli Tua tempat dimana Benteng Putri Hijau dibangun sangat tepat dijadikan pusat pemerintahan kerajaan Aru pada periode akhir antara abad ke 16-17 M.

Bisa dijelaskan riwayat peperangan antara Kerajaan Aru dengan Aceh?

Gempuran pasukan Aceh terjadi sejak 1539, 1540, 1568, 1599, 1613 dan 1620 terhadap benteng kerajaan Aru. Fakta ini didukung dengan temuan artefak berupa peluru dari timah dan mata uang dhirham Aceh.

Pada sekitar tahun 1520, tepatnya 19 tahun sebelum penyerbuan Sultan Aceh Alauddin Riyatsyah Al Qahar ke benteng Aru, Raja Aru bernama Sultan Husin berangkat ke Bintan menemui Raja Melaka, Sultan Mahmud Syah yang mundur ke Bintan setelah Istananya dihancurkan Portugis. Husin mencoba membangun aliansi dengan penguasa Melaka itu. Untuk membangun aliansi itu, Husin dikawinkan dengan Putri Sultan Mahmud Syah.

Tiga belas tahun kemudian, tepatnya 1539, Sultan Husin tewas dalam dua kali serangan Aceh ke Aru, Januari dan November. Pinto melaporkan bahwa Enche Siny (Putri Sultan Melaka) kemudian dapat meloloskan diri dan berangkat ke Melaka untuk meminta bantuan Portugis menyerang Aceh yang sudah menduduki Aru. Tetapi ditolak Portugis, karena Portugis masih trauma dengan kekalahan mereka menghadapi Aceh di Pidi dan Pasai. Putri Hijau kemudian berangkat ke Johor untuk meminta bantuan penguasa Johor. Johor bersedia membantu dengan syarat Puteri Hijau harus bersedia menjadi istrinya, mungkin karena kecantikannya atau mereka sama-sama keturunan Dinasti Melaka. Gabungan pasukan Johor, Jambi, Kampar dan Indera Giri, akhirnya mampu mengusir pasukan Aceh dari Aru tahun 1540.

Enchek Siny bersedia menikah dengan Raja Johor , maka Raja Johor mengirim armada perang berupa Lanchara , Calalules berkekuatan 200 pelaut, dan 15 Junk, 2000 prajurit, 400 angkatan laut (mariner) dan budak budak. dipimpin oleh seorang Laksamana. Armada Johor ini diberangkatkan dari Kampar dan Bintan. Setelah berhasil mengusir Aceh dari Aru, maka dalam 12 hari benteng berhasil dibangun kembali menjadi lebih kuat daripada sebelumnya dengan menambah dua buah benteng lagi.  

Namun, pada tahun 1564, Aru kembali ditaklukkan Aceh. Raja Abdullah putera tertua dari  Sultan Alauddin dari Aceh (1537-71) dirajakan di Ghori (Aru). Raja Aru ini kemudian tewas dalam pertempuran merebut kota Melaka dari Portugis pada tahun 1568. Namun tiga puluh satu tahun kemudian, 1599, dengan bantuan Johor, Aru atau disebut juga Ghori berhasil mendepak Aceh dari bumi Aru.

Aceh benar benar berambisi untuk menghapus Aru dari peta politik Sumatera Timur. Sultan Iskandar Muda memenuhi ambisi para pendahulunya. Tahun 1613 Iskandar Muda mengirim pasukan lengkap dengan tujuh puluh gajah  dan perbekalan perang lainnya untuk menghancurkan Aru. Saat itu Istana Aru habis dibakar.

Bagaimana cara Aceh menghapus Nama Aru dalam sejarah?

Setelah Aru runtuh munculah nama negeri Deli. Deli diserahkan ke Aceh pada tahun 1612 dan Iskandar Muda mengangkat dirinya sendiri sebagai Penguasa Deli dalam suratnya yang ditulis pada tahun 1621 kepada Raja Inggris. Deli dan Aru tampaknya memiliki nama yang berbeda untuk area yang sama. Ada kemungkinan bahwa segera setelah kemenangannya, Sultan Iskandar Muda memerintahkan nama Aru tidak lagi digunakan. Iskandar Muda sepertinya tidak ingin ada nama Aru yang dipandang oleh leluhurnya sebagai kekuatan politik besar yang bersekutu dengan Portugis dan ditakuti di Selat Melaka.

Perlu diketahui bahwa Aru pada periode ini dikenal sebagai Negeri Bajak Laut. Karena itu penghancuran Aru disertai dengan diangkutnya sejumlah 22.000 orang rakyatnya dibawa ke Aceh dari Deli dan tempat-tempat lain yang ditaklukkan Iskandar Muda. Sultan Aceh ini jelas-jelas berencana untuk menghancurkan Aru dan dia mungkin berniat tidak hanya untuk mengurangi penduduk negara itu tetapi untuk menghilangkan nama Aru selama-lamanya dan diganti dengan Deli. Itu yang menyebabkan sebagai sebuah negara baru, penguasa Deli tidak pernah merujuk ke Aru dalam silsilah dinasti mereka, tetapi ke Gotjah Pahlawan, seorang kstaria Aceh yang berasal dari India.

Leave a Reply

  • (not be published)