Keindahan pantai Dermaga Barugaia yang dikelola oleh nelayan (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

SULAWESI SELATAN – Pulau Selayar yang berada di ujung selatan Pulau Sulawesi memang sangat eksotis. Keramahan penduduknya pun demikian. Sejauh mata memandang yang terasa hanyalah ketenangan yang dibalut dengan keramahan masyarakat setempat.

Di masa sekarang ini, mencapai Pulau Selayar tidak sulit. Dari Dermaga Pelabuhan Bira yang berada di Bulukumba Anda tinggal menyeberang dengan kapal feri dengan waktu tempuh maksimal dua jam saja. Harga tiketnya juga murah, yakni Rp24.500 per orang.

Saat ini terdapat dua jenis kapal angkut menuju Pulau Selayar bila berangkat dari Pelabuhan Bira. Pertama adalah kapal feri yang dilengkapi dengan AC dan yang kedua adalah kapal dengan non AC.

Harga yang ditawarkan relatif sama namun bila ingin menikmati waktu saat berada di kapal maka The Editor rekomendasikan untuk memilih kapal dengan fasilitas AC agar bisa beristirahat meski sejenak.

Waktu tempuh menuju pulau ini juga disesuaikan dengan kondisi cuaca dan arus laut. Namun, bila Anda ingin tiba di Selayar lebih cepat, maka berangkatlah dengan menaiki pesawat udara. Saat ini Wings Air menyediakan dua kali penerbangan dengan rute Makassar-Selayar setiap hari dengan waktu tempuh kurang lebih 35 menit.

Desa Barugaia yang asri dan bersih (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

Jernihnya air laut yang akan mengantarkan Anda dari Pulau Bira sampai ke Selayar memang sangat luar biasa. Anda bisa melihat karang-karang yang menghiasi dermaga Pelabuhan Bira dan dermaga Pelabuhan Pamatata di Selayar.

Saat tiba di Pelabuhan Pamatata suasana panas khas pantai akan menyambut tiap tamu yang turun dari kapal feri. Namun melihat kapal nelayan yang bersandar di pinggir dermaga membuat rasa panas tersebut hilang berganti keceriaan. Apalagi saat menengok karang-karang yang indah di bawah laut.

Perjalanan dari dermaga Pelabuhan Pamatata ke pusat kota Selayar akan memakan waktu sekitar 45-60 menit dengan menggunakan mobil. Bila Anda adalah turis yang senang bepergian dengan moda transportasi umum, maka Damri akan senantiasa menanti di pelabuhan. Pohon kelapa milik petani menyambut ceria para pendatang di Selayar. Barisan demi barisannya terlihat cantik jadi pembatas antara lautan dan daratan.

“Pohon-pohon ini milik petani semua,” ujar Ibu Salmawati, warga yang tinggal di Desa Barugaia, Kecamatan Bonto Manai, Kepulauan Selayar beberapa waktu lalu.

Keramahan warga pulau ini dapat terlihat di wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ini. Di pagi hari Ia membawa kami untuk menikmati segarnya air laut dengan berenang di Dermaga Barugaia bersama anak-anak Pulau Selayar. Sementara di sore hari Ia menyediakan ikan-ikan laut untuk dibakar bersama keluarganya setelah sehari sebelumnya mengajak The Editor menikmati keindahan Pantai Sunari.

Pantai Sunari adalah satu dari sekian kawasan wisata Pulau Selayar yang dikelola oleh investor asal Pulau Dewata, Bali. Dengan menawarkan komplek resort tepi laut dan sarana hiburan cafe dan live music, para pengunjung yang datang ke tempat ini biasanya menikmati waktu di tempat ini untuk menikmati pantai berpasir putih yang bersih.

Perlu diketahui, kondisi pantai di beberapa lokasi di Selayar perlu mendapat penanganan khusus dari pemerintah. Warga yang tak pernah berhenti membersihkan kawasan pantai seolah tak punya pilihan lain saat melihat anak-anak mereka jadi langganan puskesmas karena harus menjalani beberapa jahitan akibat tertusuk kaca.

Para nelayan yang tinggal di Desa Barugaia (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

Saat berenang di laut, Ibu Salma mengajak kami untuk membuang sampah tabung televisi yang terdampar di pantai. Lokasi sampah kaca yang tak jauh dari tempat anak-anak berenang memang sangat mengkhawatirkan.

“Kita angkat saja supaya anak-anak tidak kena sampah. Sampah semacam ini memang sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Suasana Dalam Kota Yang Asri

Suasana dalam kota di Pulau Selayar juga sangat asri. Rumah warga yang dominan berbentuk rumah panggung menjadi daya tarik tersendiri saat berada di Selayar. Rumah panggung dari bahan kayu ini merupakan rumah tradisional khas Sulawesi.

Warnanya yang ceria dan beragam seolah mengingatkan para turis untuk bersantai dan menikmati waktu sambil bermain di pantai.

Pulau ini juga memiliki komoditas hortikultura, yakni jeruk. Rasanya yang manis dan asam datang dari kontur tanah dimana jeruk khas pulau ini di tanam, yakni bebatuan. Cocok sekali dinikmati saat cuaca terik.

Penduduk Islam Yang Sayang Pada Anjing

Anak-anak Desa Barugaia (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

Mayoritas penduduk Pulau Selayar adalah beragama Islam. Yang unik bagi turis saat berada disini adalah penduduknya memelihara anjing yang dipakai untuk menjaga ladang tanam mereka dari serangan tupai dan hewan lainnya.

Saat ditanya tentang keunikan ini, Salma mengatakan bahwa penduduk Pulau Selayar adalah penyayang binatang. Jadi menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan bukan hal yang pantang atau najis sebagaimana biasanya dilakukan oleh banyak masyarakat muslim lain.

“Disini orang jadikan anjing untuk menjaga ladang mereka dari serangan hewan seperti tupai. Kami pelihara anjing karena hewan ini sangat berguna. Tidak ada larangan memelihara anjing disini,” tutup Salma.

Leave a Reply

  • (not be published)