JAKARTA –  Dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini, Indonesia diminta untuk mengingat kembali jiwa gotong royong yang pernah jadi ciri khas bangsa ini.

Suasana Hari Kesaktian Pancasila di kediaman Ketua DPR RI Puan Maharani yang diadakan secara virtual di rumah dinasnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan

Ketua DPR RI Puan Maharani memberi contoh dua daerah yang berhasil mewujudkan jiwa gotong royong berskala kecil, yakni Desa Jambanan, Sragen dan Desa Cimahi, Jawa Barat.

Di Cimahi kata Puan, sesama tetangga disana membantu menyediakan makanan untuk mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri karena positif terjangkit corona. Sementara di Desa Jambanan, warga yang dinyatakan sembuh total dari penyakit ini ternyata disambut dengan meriah saat tiba di kampung. Acara syukuran dilakukan agar penduduk dapat menerima dan melihat kalau warga mereka tidak akan membawa wabah.

“Untuk melawan Covid-19 kita jangan hanya terpaku pada istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar tetapi yang Indonesia juga butuhkan saat ini adalah Gotong Royong Berskala Besar,” jelas Puan dalam keterangan yang diterima The Editor malam ini, Senin (1/6).

Jangan Buru-Buru Laksanakan The New Normal

DPR sebagai fungsi pengawasan, lanjutnya, mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru melaksanakan The New Normal agar tidak memunculkan kebingungan baru di masyarakat. Pra kondisi dan protokol yang dipahami bersama dengan masyarakat dinilai sangat penting karena rincian New Normal untuk setiap jenis kegiatan dan wilayah tentu berbeda-beda.

Puan juga menyarakan agar pemerintah mendengarkan saran dari pendidik, orang tua dan organisasi pendidikan sebelum membuka kembali sekolah sebagai bagian dari penerapan kebijakan new normal. Karena penyelenggaraan pendidikan di tengah Pandemi Covid-19 perlu dikelola dengan baik agar tidak berdampak pada kesehatan anak-anak kita, para generasi muda kita.

Di Hari Lahir Pancasila ini, lanjut Puan lagi, meminta dengan sangat agar protokol kesehatan di sekolah juga harus dipantau. Terutama untuk sekolah – sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) karena umumnya naluri anak kecil untuk bermain sangat tinggi. Ia mengimbau agar aturan kesehatan di sekolah-sekolah tidak disamakan dengan protokol kesehatan di mal, perkantoran dan tempat publik lain.

Puan juga mengingatkan bahwa pemerintah juga perlu merespon aspirasi yang berkembang terkait penerapan new normal. Misalnya dalam hal penerapan new normal di sekolah dimana unsur-unsur masyarakat meminta agar kegiatan sekolah dimulai ketika keadaan benar-benar sudah terkendali.

Kepada para guru PAUD, satu dari sedikit perempuan yang duduk di legislatif ini berpesan agar benar-benar memperhatikan proses pembentukan karakter anak sejak usia dini. Karena para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD berperan sangat penting dalam proses pendidikan Indonesia khususnya dalam pembangunan karakter bangsa.

“Budaya santun, toleran, disiplin, etos kerja, gotong royong, dan lain sebagainya, mulai ditanamkan dalam hati nurani anak-anak kita,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bunda oleh para Pegiat Pendidikan Usia Dini ini.

The New Normal Belum Berlaku di Desa Singa, Tanah Karo Sumatera Utara

Permintaan Puan Maharani disambut positif oleh guru di Tanah Karo. Nurdiana Br Ginting (58) mengatakan aturan dari Dinas Pendidikan hingga saat ini masih mengharuskan sekolah libur hingga Juli 2020 mendatang. Selama masa karantina berlangsung Ia dan 12 rekan lainnya yang mengajar di Sekolah Dasar Desa Singa bergantian mengadakan piket. Dua guru ditugaskan untuk berjaga dan beraktivitas di sekolah setiap hari.

“Setiap dua minggu sekali kami datang ke sekolah mengantarkan bahan ujian dan paket pembelajaran kepada siswa. Pertemuan tidak dilakukan di sekolah melainkan di balai desa,” ujar Nurdiana yang merupakan seorang guru agama katolik ini.

Teknologi yang sangat minim diakui Nurdiana jadi alasan para guru harus mendatangi murid mereka. Pasalnya tidak semua orang tua murid menggunakan aplikasi pesan instan untuk smartphone seperti Whatsaap, apalagi memiliki telepon genggam (handphone). Jadi mau tidak mau pesan yang disampaikan harus dari mulut ke mulut, baik lewat guru yang kebetulan tinggal sebagai warga di Desa Singa atau kalau beruntung menghubungi seorang warga yang bisa menyampaikan pesan ke salah satu anak didik mereka.

Setiap anak yang kemarin ikut ujian UAS, lanjutnya, satu per satu didatangi ke rumah mereka masing-masing dan usai ujian mereka akan difoto beserta dengan lembar ujian yang mereka kerjakan.

“Nanti satu anak didik diminta untuk menyampaikan pesan ke teman-temannya. Kami guru-guru di SD Singa tidak bisa hanya mengandalkan rekan kami yang tinggal disana. Kami harus datangi karena ini tanggung jawab kami. Satu anak didik akan memanggil teman-temannya ke tempat yang sudah di tentukan, biasanya balai desa atau kami sebut Losd,” jelasnya.

Nurdiana membenarkan bahwa mengatur anak-anak untuk tetap mengikuti standar keamanan dan kesehatan selama pandemik ini sangat sulit. Peraturan yang disampaikan lewat sekolah juga diindahkan. Banyak orang tua yang membawa serta anak mereka ke ladang. Ia berharap pemerintah ikut serta mengawasi demi kesehatan bersama.

Sebagai informasi, dalam pidato Puan maharani secara virtual dari rumah dinas di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan diketahui bahwa DPR-RI ikut mengawal anggaran Pendidikan Nasional melalui fungsi anggaran yang dilaksanakan dengan memastikan bahwa alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Ia berharap BOP PAUD dalam anggaran tersebut dapat ikut meningkatkan proses dan mutu pendidikan pada usia dini.

“Termasuk juga di dalam APBN 2020, DPR dan Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD sebesar 4 triliun 14 milyar 724 juta rupiah (Rp4.014.724.000.000),”papar Puan.

Leave a Reply

  • (not be published)