JAKARTA – Proyek reklamasi dapat merusak ekosistem daerah pesisir pantai.

Pengerjaan proyek pembangunan permukiman, perkantoran, dan kawasan niaga (Sumber Foto: National Geographic)

“Apa yang tadinya tumbuh di sana, jadi tidak tumbuh. Apa yang sebelumnya berada di sana jadi tidak ada,” ujar Ketua Kelompok Keahlian Oseanografi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mutiara Rachmat Putri seperti dirilis dalam The Conversation, Jumat (14/8).

Mutiara menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan karena tanah yang masih basah berpotensi terlepas dan terendapkan, sehingga membuat air keruh.

“Hal ini membuat keruh air laut dan akan berdampak pada plankton tumbuhan (fitoplankton) yang semakin sedikit, jadi kegiatan mereka untuk memasak (fotosintesis) di air itu sangat berkurang dengan banyaknya sedimentasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan tanah reklamasi yang diambil dari lumpur kerukan sungai dan waduk memiliki kemungkinan sudah tercemar.

Lebih lanjut, Devi Nandita Choesin, ahli ekologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menambahkan bahwa perubahan ekosistem pesisir akibat reklamasi bisa berdampak pada berkurangnya keanekaragaman hayati pesisir pantai.

Penelitian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Puslitbang KKP) tentang dampak reklamasi bagi lingkungan menunjukkan penurunan keanekaragaman plankton tumbuhan (fitoplankton) dan biota dasar perairan (makrozoobenthos) pada tahun 2016 dibandingkan 2014.

Keanekaragaman yang semula di tingkat sedang (>1) turun menjadi ke tingkat miskin (<1).

Penelitian tersebut juga menunjukkan bagaimana reklamasi dapat menghilangkan hutan mangrove yang berfungsi melindungi biota laut.

“Ya kalau mangrove-nya tidak ada, fungsi itu akan hilang,” kata Devi.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati menambahkan tidak ada dalam sejarah reklamasi yang tidak memberikan dampak buruk terhadap ekologi.

“Logika sederhananya, kalau kita punya air bersih lalu kita timbun dengan pasir, otomatis kan terendap,” katanya. “Kalau di situ ada ekologi seperti terumbu karang sudah pasti mati. Karang kan juga jadi rumah ikan dan kerang, ya otomatis hilang dan rusak juga.”

Leave a Reply

  • (not be published)