Presiden Joko Widodo memantau proyek padat karya irigasi di Desa Ketanggan, Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6). (Sumber Foto: Twitter @jokowi)

YOGYAKARTA – “Mempertaruhkan reputasi politik demi pembantu negara yang tak ingin kerja. Pak Jokowi ini sebenarnya mau apa?,” demikian celetukan abang tukang becak yang biasa mangkal di sepanjang Jalan Malioboro, Jogjakarta Magrib tadi, Kamis (2/7).

Wajahnya terlihat cemberut menatap layar monitor hape miliknya sambil sesekali bergumam, “Lha ini, coba lihat. Bener ini,” katanya kepada rekan seprofesinya yang duduk anteng menonton rekaman video Presiden Joko Widodo yang memarahi beberapa menteri yang dianggap belum bekerja maksimal beberapa waktu lalu. Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi tanggal 18 Juni 2020 lalu mengundang seluruh menteri kabinet kerja jilid II ke Istana Negara. Lewat tayangan video yang bisa diunduh di https://www.youtube.com/watch?v=SfKQFn4GGE0 Presiden Jokowi terlihat mengeluarkan ultimatum kepada anak buahnya yang dinilai tidak cakap dalam bekerja.

Saya yang berdiri sambil menunggu saudara belanja batik hanya duduk sambil sibuk melihat-lihat pamplet yang berjejer rapi di depan saya, “Danar Hadi” gumam saya sembari beranjak dari kursi panjang yang disediakan oleh Sultan Hamengkubowono X di sepanjang area turis ini. Namun langkah saya terhenti saat mendengar suara Jokowi yang mengatakan, “Langkah apapun yang extraordinary ini akan saya lakukan untuk 287 juta rakyat kita, untuk negara. Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle,”.

Saya kembali duduk dan mengeluarkan earphone dari tas dan mulai berselancar di youtube agar bisa mendengar langsung amarah Jokowi, Sang Presiden. Saya pun tersenyum saat melihat raut wajah Jokowi saat berkata hendak membubarkan lembaga pemerintah miliknya. “Sangat cerdas,” celetukku dalam hati.

Jokowi memang sangat cerdas meramu amarah saat berada di depan publik. Seperti orang dari Suku Karo yang tidak bisa menutupi ekspresinya bila marah menurut saya. Seiring waktu saya melihat Presiden Jokowi makin cerdas, amarahnya dibalut dengan jenaka lewat tatapan mata namun cukup membuat hati para menteri ciut dan malu karena tidak mampu bekerja.

Sambil merapatkan bibirnya, Presiden Jokowi dalam tayangan berdurasi 10 menit 20 detik tersebut mengancam akan me-reshuffle menteri yang tidak bisa kerja. Matanya terlihat tegas saat memandang satu per satu manusia yang hadir saat Sidang Kabinet di Istana Negara, Kamis (18/6).

Sembari mendengar dari Youtube, saya perhatikan dua abang penarik becak yang ada di hadapan saya. Bau dari tubuh kuda yang parkir mulus disampingnya tak berarti apa-apa sepertinya. Masker di wajahnya pun menempel begitu saja, sepertinya sudah berhari-hari tidak dicuci. Orang Jogja memang kebanyakan pakai masker dari sapu tangan yang biasa dibeli di abang-abang penjual helm. Tidak seperti kebanyakan orang yang membeli masker khusus berbahan batik biar terlihat khas Indonesia banget. Di kota penghasil batik ini justru masyarakatnya cuma pakai masker biasa hasil cetakan seharga 10 ribuan.

“Pak Jokowi kalau marah serem yo,” katanya sembari mengangkat kakinya agar merapat ke tubuhnya. Cuaca memang sedang mendung, jadi Jogja malam itu dingin.

Karena suara tayangan video dari hape milik abang tukang becak yang duduk di depan saya cukup kencang, akhirnya saya melepas earphone milik saya dan memutuskan ikut nimbrung bersama mereka. Rasanya seperti sedang mendengar suara radio tapi beda versi, yang ini ada layarnya.

Dari suara yang keluar dari hape mereka, saya dapat mengetahui bila Presiden Jokowi tengah marah besar. Meski tak menyebut secara gamblang, namun saya memahami bila Presiden tengah menyindir kinerja Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto terkait anggaran yang tak kunjung dipakai hingga periode Juli 2020.

“Jangan menganggap ini biasa-biasa saja, percepat, kalau ada hambatan keluarkan peraturan menterinya agar cepat. Kalau perlu Perpres (Peraturan Presiden) saya keluarkan Perpresnya. Untuk pemulihan ekonomi nasional misalnya, (maka) saya (akan) berikan,” ujar suara yang keluar dari hape bermerek Tiongkok tersebut.

“Contoh, bidang kesehatan itu dianggarkan 75 triliun, (dari) 75 triliun baru keluar 1,53 persen coba. Uang yang beredar di masyarakat ke rem disitu semua, segera keluarkan dengan penggunaan-penggunaan yang tepat sasaran sehingga men-trigger ekonomi. Pembayaran tunjangan untuk dokter, untuk dokter spesialis, untuk tenaga medis, segera keluarkan. Belanja-belanja untuk peralatan segera keluarkan, ini sudah disediakan 70-an triliun seperti ini,” jelas Jokowi.

Kenyamanan saya terusik ketika suara Jokowi terputus, ternyata baterai hapenya habis. Suara gaduh pun muncul, kini mereka, para penarik becak mulai beropini.

“Apa karena nggak dikasih uang beli alat untuk tangkal Covid-19 jadi banyak dokter yang mati ya?,” tanya penarik becak yang bernama Ahmad tersebut kepada rekan seprofesinya yang juga duduk santai di sebelahnya.

“Saya juga nggak mau jadi dokter kalau harus mati pas ngobatin orang,”jawab penarik becak lainnya.

Saya pun terdiam, hanya menyimak, tapi dalam hati mengiyakan. “Bisa juga pak. Seandainya anggarannya dipakai buat penelitian ya pak,” jawab saya dalam hati.

Semoga Menteri Kesehatan tahu!

Jokowi Pantas Marah Kepada Menterinya

Setuju - 80%
Tidak Setuju - 50%
Setuju - 50%
Tidak Setuju - 64%

Rate It

65%

Setuju atau Tidak Setuju Author Review

57%

1 vote Users Rate

Summary:

Leave a Reply

  • (not be published)