Antrian truk Pertamina yang berhenti disepanjang jalan provinsi yang menghubungkan Riau dan Sumatera Utara di Desa Mahato Kecamatan Tambusai Utara
Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau (Foto: Istimewa)

RIAU – Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah sejarah tak terlupakan saat hadiah berupa uang, emas, berlian, pedang, keris dan berbagai harga tak ternilai diberikan kepada Indonesia.

13 juta Gulden Belanda ini tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah. Karena hanya Sultan Siak yang memberikan sumbangan dalam jumlah besar seperti ini. Bahkan mengalahkan Kesultanan Yogyakarta karena saat itu Raja Hamengku Buwono IX hanya menyumbangkan 6,5 juta Gulden Belanda untuk modal kemerdekaan Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno.

Selasar Riau pernah merilis bahwa hadiah yang diberikan oleh Sultan Siak ternyata tidak terbatas emas. Wilayah seperti Sumatera Timur, meliputi Kerajaan Melayu Deli, Serdang, Bedagai hingga Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dan Istana pun juga diberikan kepada pemerintah Indonesia.

Sejak jaman Belanda, sudah dilakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas di Riau. Hingga sekarang ini pun juga masih terus dipakai untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Sultan Syarif Kasim II merupakan sultan ke-12 Kerajaan Siak. Ia lahir tahun 1908 dan meninggal 60 tahun kemudian, 1968. Seperti rakyat biasa lainnya, Sultan Syarif Kasim II hanya menerima pensiunan oleh Soekarno setiap bulannya di Istana Peraduan

Kejayaan dan kekayaan Sultan Syarif II ternyata dijawab dengan rusaknya jalan raya Riau yang sudah terjadi bertahun-tahun seolah tak bisa diperbaiki. Kendaraan bertonase berat yang over dimensi setiap tahunnya dijadikan alasan mengapa banyak jalanan berlobang di Provinsi Riau. Sementara iu, truk-truk tersebut berseliweran dari perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Riau.

Dengan kata lain, keprihatinan selalu jadi bahan pembicaraan masyarakat dan pengendara truk yang melintas. Mereka seolah enggan bicara karena kejadian ini sudah berlangsung lama.

“Ada perbaikan justru jalanan makin macet. Kalau tak ada perbaikan ya berlobang kondisinya seperti ini. Jadi sudah terima saja,” ujar Chandra (46) supir truk perusahaan pengangkutan kayu kepada The Editor beberapa waktu lalu.

Kata Chandra, jalanan rusak di Riau seolah sudah dimaklumi oleh pengusaha karena tambahan biaya untuk supir sudah disiapkan saat hendak beroperasi. Petugas lalu lintas juga jarang muncul di sepanjang rute Ia melintas dari daerah pengangkutan ke perusahaannya. Bila ada, maka pemeriksaan akan dilakukan.

“Kalau ada razia maka truk diperiksa semua bukunya dan selama jadi supir baik-baik saja,” katanya.

Sementara itu, pemerintah mengatakan bila rusaknya jalan lagi-lagi terjadi karena muatan truk yang overdosis. Hal ini diungkapkan oleh
Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Budi Setiyadi.

“Kendaraan banyak yang ODOL itu adalah dump truk. Jadi wajar saja jalan kita banyak yang rusak. Seperti di Riau ini banyak jalan rusak akibat truk ODOL,” ujarnya pada kegiatan Normalisasi Kendaraan ODOL dan Deklarasi Indonesia Zero ODOL 2023, di Terminal Tipe A Bandar Raya Payung Sekaki (BTPS) di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (16/2) lalu.

Ia akui persoalan klasik semacam ini memang perlu penanganan. Agar tidak terjadi, Ia mengklaim dalam waktu dekat ini akan menggandeng Kapolri untuk menegakkan hukum atas tindakan kendaraan bertonase besar diperiksa.

Jalanan rusak di Kota Riau ini terjadi di perkotaan dan pedeaan. Di tengah kota Pekan Baru misalnya, jalanan rusak bisa dengan mudah ditemukan dan bahkan berbahaya dilintasi karena masyarakat kerap meletakkan ban di tengah jalan atau menanam pisang di titik-titik lobang.

Sementara itu di kecamatan dan pedesaan jalan rusak sudah tak terhitung jumlahnya. Hal ini dengan mudah dapat ditemukan di Tanah Lancang Kuning, Cipang Kanan, Tibawan, Cipang Kiri Hilir, Cipang Kiri Hulu dan Desa Cipang Kanan.

Kemudian di wilayah perbatasan sendiri kerusakan juga sangat terlihat. Perbaikan jalan hanya terlihat di wilayah bagian Sumatera Barat. Jadi, mari kita tunggu gebrakan dari pemerintah.

Leave a Reply

  • (not be published)