YOGYAKARTA – Pada dasarnya bermain adalah kebutuhan dan hak dasar anak. Banyak teori yang mengatakan bahwa bermain dapat mengembangkan kepribadian dan fisik mereka. Anak harus bermain sambil belajar atau sebaliknya.

Anak-anak Desa Rumaat membaca di halaman ruang baca BookMas yang masih dalam tahap pembangunan di desa Rumaat

Fenomena pendidikan sekarang lebih mengedepankan sistem pembelajaran secara kognitif. Akibatnya, anak tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Hal ini akan menyulitkan anak menyerap ilmu yang dipelajari sehari-hari.

Untuk mengembangkan potensi dasar anak, dibutuhkan keseimbangan antara perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan perkembangan motorik anak. Bila anak terlalu sering bermain dengan alat elektronik maka pondasi perkembangan dasarnya harus seimbang terlebih dahulu.

Kemajuan teknologi merupakan bagian dari perkembangan jaman yang tidak bisa dihindari. Selain itu, semua hasil peradaban modern ini memang lumrah harus dipelajari oleh seluruh manusia. Pertanyaanya, apakah teknologi harus dipahami oleh anak balita?

Kebanyakan orang tua berpikir bahwa komputer adalah salah satu alat pembelajaran yang efektif. Memang benar, tapi nanti dulu. Pada proses perkembangan anak, stimulasi yang diberikan harus komprehensif. Anak yang terlalu sering bermain dengan komputer maka perkembangan motoriknya hanya terbatas di area tangan saja. Sekarang banyak ibu-ibu yang mengeluh anak balitanya suka mencakar. Bila diselidiki lebih dalam, ini merupakan gangguan neurologis dimana motorik halus si anak tidak berkembang sempurna dan berimbang.

Layar komputer memberikan lima komponen stimulus bagi anak yaitu suara, warna, gerakan, gambar dan cahaya. Membiarkan anak terpapar lima komponen tersebut sekaligus selama tiga jam saja akan berakibat fatal.

Banyak orang tua yang bertanya mengapa anak mereka dipanggil tidak mau menoleh. Kenapa bisa begitu? Karena stimulus yang diterima hanya satu yaitu suara. Jadi anak tidak tertarik untuk merespon. Selain itu, anak jadi tidak konsentrasi di sekolah. Umumnya di Indonesia penggunaan buku hitam putih sebagai buku pelajaran masih tinggi. Anak jadi malas membaca atau menulis karena komponen warna yang timbul terbatas.

“Apalagi dalam buku gambar tidak ada gerakan seperti di komputer. Anak-anak menjadi malas untuk melihat,” kata Ketua Umum Ikatan Psikologis Klinis Indonesia, Indria Laksmi Gamayanti.

Ketika anak belajar mengenal warna melalui komputer maka tidak ada proses kreatif disana. Lain halnya ketika anak dihadapkan pada hal berbau tradisional seperti daun suji yang menghasilkan warna hijau, kunyit yang menghasilkan warna kuning dan sebagainya. Ada banyak gerakan yang timbul disana ( Gerakan tangan meremas, memijat dan memilih). Ketangkasan ini memacu kemampuan menulis dan menggambar anak, kata Indria menambahkan.

Membiasakan anak bermain dalam kelompok akan meningkatkan perkembangan emosinya. Interaksi yang muncul akan memberi kesempatan bagi anak memahami pola hidup berkelompok secara alami.

“Saya kagum pada nenek moyang kita dulu. Orang bilang jadul tapi intuisi mereka terbukti sangat tajam,” celetuknya.

Orang jaman dulu sangat familiar dengan permainan Dakon. Ketika anak bermain Dakon, ada gerakan motorik halus disana. Gerakan jari yang perlahan dan teratur mengembangkan finger dexterity atau ketangkasan menggerakkan jari tangan. Apalagi bermain Dakon menggunakan biji sawo, kerikil atau kerang. Permukaan yang tidak rata tersebut justru memberikan impuls sewaktu anak memegangnya berkali-kali.

Tidak hanya pada tangan, namun juga memberikan stimulus keseluruh tubuh. Semacam efek pijatan. Selain itu, kemampuan menghitung anak juga akan meningkat. Anak belajar berinteraksi dengan temannya. Yang terpenting adalah anak belajar menerima kekalahan secara adil. Artinya dalam satu permainan ada stimulasi motorik, kognitif dan emosi secara bersamaan.

“Murah meriah namun bermanfaat,” lanjutnya

Bermain Engklek juga memberi efek positif yang besar bagi anak. Jaman sekarang banyak orang tua yang mengeluh karena anak mereka tidak ceria, lemah, postur tubuh tidak tegak dan lainnya. Para orang tua rela menghabiskan biaya jutaan rupiah untuk membeli alat yang mampu mengubah postur tubuh anak. Padahal, dengan hanya bermain engklek, keseimbangan tonus dan postural anak dapat berkembang pesat. selain itu, kemampuan jumping mereka juga meningkat dengan emosi yang terkontrol.

Bermain Engklek memberikan stimulasi motorik yang luar biasa pada anak. Yang terpenting adalah permainan tradisional itu menggugah rasa, kepekaan dan tenggang rasa. Permainan ini memiliki kapasitas lebih untuk mengajarkan anak tentang banyak hal.

Orang tua dan pemerintah harus bekerja sama menyelesaikan masalah ini. Bila pada tataran pusat pemerintah sering ribut tentang bagaimana cara pembentukan karakter bangsa. Padahal caranya sangat mudah.

“Ajari anak menggunakan bahasa daerah agar anak sadar dari mana asal mereka dan bagaimana mencintai negara ini. Kita takut sekali ketinggalan jaman, tapi tanpa disadari kita sudah meninggalkan diri kita sendiri,’ demikian Indria

Leave a Reply

  • (not be published)