Area wisata lamperangan, Desa Kabba, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Foto: Andaq Hidayat/ THE EDITOR)

SULAWESI SELATAN – Kerja sama yang sinergis antara Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta Kabupaten Maros dalam mengelola aset tambang dan infrastruktur akan berimbas pada majunya sektor pariwisata di dua daerah yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan ini.

“Untuk itu perlu diadakannya kerjasama antara dua Kabupaten ini, yakni Kabupaten Maros dan Pangkep dalam hal pariwisata,” ujar Pengamat Politik Andaq Hidayat saat berbincang dengan The Editor, Senin (5/7) sore.

Khusus untuk Kabupaten Pangkep, lanjut Andaq, spot pariwisata yang terkenal dengan istilah pariwisata tiga dimensi ini, yakni laut, darat dan pegunungan harus jadi perhatian pemerintah daerah. Sinergi antara dua kabupaten dalam membangun infrastruktur jalan dan transportasi akan mendorong perkembangan pariwisata di masa depan.

“Hal yang perlu di lakukan buat kedua kabupaten ini yaitu bersinergi memperbaiki infrastruktur jalan sehingga akses ke tempat wisata mudah di jangkau oleh turis lokal maupun turis asing serta memfasilitasi moda transportasi menuju tempat–tempat wisata yang ada di kedua kabupaten ini,” ungkapnya.

Perlu diketahui, kawasan Karst Maros-Pangkep (disingkat KKMP) adalah sebuah kawasan karst yang terletak secara administratif di dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Kawasan ini merupakan sebuah rangkaian pegunungan atau perbukitan karst yang berada di utara Maros dan selatan Pangkep, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Area persawahan dengan latar belakang bukit batu di Desa Kabba, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Foto: Andaq Hidayat/ THE EDITOR)

Titik tertinggi Kawasan Karst Maros-Pangkep berada di puncak Gunung Bulusaraung yang berada di ketinggian 1.353 mdpl. Kawasan Wilayah seluas lebih kurang 22.800 hektar pada kawasan ini masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang memiliki jumlah luas lebih kurang 43.750 hektar.

Dengan luas tersebut, kawasan Karst Maros-Pangkep menjadi kawasan karst terluas di Indonesia dan terluas kedua di dunia setelah karst yang ada di Guangzhou, Cina. KKMP memiliki tipe tower karst sejenis di Cina Selatan dan Vietnam. KKMP selain dimanfaatkan sebagai bahan galian untuk bahan bangunan, bahan baku semen, juga dimanfaatkan nilai jasa lingkungannya (environmental services) seperti sumber daya air, keanekaragaman hayati, keunikan bentang alam, obyek wisata alam, situs arkeologi, dan area peribadatan.

Investor Dan Pariwisata

Andaq menjelaskan bahwa dari 43.750 hektar kawasan karst Maros-Pangkep, 20.000 hektar diantaranya digunakan sebagai area pertambangan dan 23.750 hektar lainnya menjadi kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Pembagian tersebut dilakukan karena pada saat akan diusulkan menjadi taman nasional, di kawasan ini sudah banyak perusahaan yang mendapat izin melakukan kegiatan penambangan, diantaranya PT Semen Bosowa Maros, PT Semen Tonasa Pangkep, dan puluhan perusahaan lain yang menambang marmer dan batu kapur.

Pemandangan yang akan sering ditemukan saat berada di Kabupaten Pangkep (Foto: Andaq Hidayat/ THE EDITOR)

Penambangan yang dilakukan di kawasan Karst Maros-Pangkep ini merupakan ancaman terhadap ekosistem dan kelestarian situs gua prasejarah dan tinggalan budaya prasejarah yang tersimpan di dalamnya. Salah satu aspek ekosistem yang terancam adalah ketersediaan air tanah di sekitar kawasan karst.

Dari tinjauan hidrologis, daerah karst berpotensi sebagai wadah cadangan air. Hal ini terlihat pada beberapa gua yang di dalamnya terdapat sungai bawah tanah. Disamping itu, di kawasan ini dijumpai sejumlah sumber air berupa sungai besar dan sebagian bermuara di Air Terjun Bantimurung.

Selain dikhawatirkan mengancam ketersediaan air, aktivitas penambangan juga dikhawatirkan dapat menghilangkan bukti-bukti sejarah karena gua-gua tersebut menyimpan sejumlah artefak sisa peradaban manusia masa prasejarah.

Leave a Reply

  • (not be published)