Business Advisor Ronawati Wongso (Foto: THE EDITOR)

JAKARTA – Keinginan Direktorat Hortikultura menghentikan gempuran buah dan sayuran impor lewat program Kampung Hortikultura mendapat dukungan dari Business Advisor Ronawati Wongso. Perempuan yang berhasil menyelamatkan Maspion Group dari badai krisis ekonomi 1998 ini mengatakan dalam pelaksanaannya nanti pemerintah harus berani melakukan dalam skala besar.

“Menurut saya idenya bagus. Kalau mau dilaksanakan harus dalam skala besar,” ujar Rona saat berbincang dengan redaksi beberapa waktu lalu.

Kata Rona, pemerintah harus mendukung masyarakat membuat perusahaan terbuka (PT) karena minimnya lahan yang bisa dimiliki oleh petani di pedesaan.

Agar program ini terintegrasi dari hulu ke hilir maka riset untuk menemukan bibit unggul sangat disarankan oleh perempuan yang mampu menyelamatkan Maspion di saat umurnya masih sangat muda, yakni 32 tahun.

Pasalnya, bibit unggul yang ditemukan oleh pemerintah akan digunakan untuk efisiensi biaya pemeliharaan tanaman, pemupukan dan perawatan. Matrix pengukuran atas program ini diimbau Rona dilakukan secara teratur sehingga target pemerintah untuk menghentikan impor buah dan sayuran berhasil.

Salah satu studi yang menurut Rona harus dilakukan Direktorat Hortikultura sedari sekarang adalah tentang penggunaan lahan yang efisien. Misalnya metode tanam tumpang sari dan vertikal. Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk ditugaskan dalam program ini menurut Rona dapat dihasilkan melalui serangkaian pendidikan tentang pertanian.

Untuk program besar ini, Rona meminta Direktorat Hortikultura makin jeli agar ukuran yang diterapkan terhadap bibit-bibit buah dan sayuran yang baru ditemukan nanti dapat sesuai dengan target yang diinginkan pemerintah.

Menurutnya swasembada mustahil dilakukan kalau penataan di lingkungan internal direktorat hortikultura dan kementerian pertanian tidak ditata dengan serius. Karena menurut penilaian Rona pemerintah kurang memberi perhatian pada detail persoalan terutama pada penelitian. Sehingga saat diterapkan di beberapa daerah hasilnya berbeda.

“Wortel misalnya apakah seragam (keseragaman). Berapa banyak yang mati kena penyakit atau mati natural dari total bibit yang ditanam hingga waktu panen. Ini contoh yang harus diambil secara serius,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Kampung hortikultura adalah satu dari sekian rancangan pembangunan yang tengah digencarkan oleh Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian untuk menghentikan gempuran sayur dan buah-buahan impor.

Direktur Perlindungan Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari mengatakan bahwa program Kampung Hortikultura ini nantinya akan membangun peningkatan ekonomi masyarakat di pedesaan lewat pariwisata dan pendidikan.

Ada tiga kategori yang ditentukan oleh pemerintah untuk membangun Kampung hortikultura, diantaranya; Kampung yang dipilih harus sesuai dengan agro ekosistem buah dan sayuran yang ditanam, masyarakat harus semangat menjalankan program ini karena mereka yang akan melaksanakan.

Untuk menggedor daya saing produk hortikultura yang ramah lingkungan asal Indonesia, Inti mengatakan pemerintah akan mendorong pengembangan kawasan hama terpadu dengan menyediakan bahan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan ramah lingkungan, menyiapkan perangkap anti hama seperti likat kuning dan feromon dan melakukan konservasi musuh alami tumbuhan.

Gedor ramah lingkungan ini juga dilakukan dengan mengembangkan pertanian organik, penurunan gas rumah kaca dan mendukung gerakan tiga kali ekspor.

Ronawati Wongso, CFA adalah konsultan bisnis dengan spesialisasi pengoptimalan laba dan turnaround perusahaan dengan pengalaman 30 tahun di berbagai perusahaan besar yamg bisa ditemukan lewat situsnya di https://rantaiconsulting.com/. Ia juga adalah penulis buku bisnis “Company Makeover for Massive Profits”, buku panduan untuk meningkatkan laba secara masif.

Leave a Reply

  • (not be published)