Minuman Bersoda

Sumber Foto: The New York Times

JAKARTA – Pola konsumsi gula yang melebihi batas makan membuat seperempat penduduk Indonesia rentan menderita diabetes di masa depan.

PhD Student, Centre for Diet and Activity Research (CEDAR) MRC Epidemiology Unit, University of Cambridge Rizka Maulida mengatakan bahwa remaja Indonesia berusia 10-24 tahun diprediksi akan terkena diabetes melitus dan obesitas karena tidak bisa lepas dari kepungan makanan dan minuman manis yang bisa merusak kesehatan.

“Riset saya pada remaja dengan sampel 681 siswa di beberapa SMP negeri di Jakarta pada 2014 menemukan bahwa remaja dari keluarga yang kurang mampu akan lebih memilih makanan atau minuman berdasarkan harga dan kemudahan akses ketimbang nilai kesehatan dari makan atau minuman tersebut,” jelasnya dalam The Conversation, Rabu (19/8).

Di Indonesia, saat cuaca panas, minuman dingin manis mudah dibeli di mana saja, di penjual jalanan, warung di pinggir jalan, sampai supermarket kelas atas.

Kita bahkan dapat dengan mudah menemukan minuman manis di kantin-kantin sekolah dasar hingga menengah atas, bahkan universitas. Alternatif dari minuman sejenis ini biasanya hanya air mineral saja dengan harga yang bahkan kadang lebih mahal dari minuman manis tersebut.

“Banyak minuman dalam kemasan seperti jus, kopi, dan teh serta sports drink tidak baik untuk kesehatan karena umumnya ditambahi gula seperti gula pasir, gula merah, corn syrup, fruktusa, glukosa, laktosa, dan madu oleh perusahaan yang memproduksinya,” jelasnya.

“Kalori yang didapatkan dari minuman-minuman ini tidak memiliki nilai gizi dan tidak dapat memberikan rasa kenyang seperti makanan padat pada umumnya,” tegas Rizka.

Oleh karena itu, lanjutnya, konsumsi minuman dengan gula tambahan dapat berakibat pada kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Kenaikan Diabetes Dan Obesitas Di Populasi Indonesia

Untuk diketahui, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar konsumsi minuman dengan gula tambahan dikurangi untuk membantu mengurangi risiko obesitas pada masa kanak-kanak.

Kata Rizka, riset ini memperkuat temuan beberapa penelitiannya yang telah melaporkan bahwa harga makanan atau minuman merupakan hal utama dalam pemilihan makanan atau minuman. Riset lain juga menyebutkan bahwa pada umumnya makanan atau minuman yang sehat cenderung lebih mahal dari makanan atau minuman yang tidak sehat.

Karena itu, rencana pemerintah Indonesia mengenakan cukai minuman manis Rp 1.500 per liter untuk mengurangi risiko diabetes melitus dan obesitas pada remaja merupakan langkah yang tepat dan layak kita dukung.

Pada awal 2020, pemerintah menyampaikan rencana untuk menarik cukai dari minuman manis. Rencana yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani ini berangkat dari kekhawatiran pemerintah akan tingginya angka kasus diabetes melitus dan obesitas di Indonesia.

Persentase diabetes melitus meningkat dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018, sedangkan persentase obesitas pada periode yang sama naik dari 14,8% menjadi 21,8%.

Jika melihat kecenderungan tersebut, lanjut Rizka, maka diabetes melitus dan obesitas akan terus meningkat. Diabetes melitus dan obesitas adalah dua dari sekian banyak penyakit tidak menular.

Dua penyakit tidak menular ini dilaporkan ikut berkontribusi pada kematian 40 juta orang per tahunnya secara global. Kebanyakan dari penyakit-penyakit tidak menular ini dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat seperti tidak merokok, banyak beraktivitas fisik, dan pola makan yang sehat.

Badan Kesehatan Dunia juga menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi gula, khususnya dalam bentuk minuman dengan tambahan gula, berhubungan dengan kenaikan berat badan pada anak-anak dan orang dewasa.

Negara-negara yang dikategorikan berpendapatan rendah dan menengah, seperti Indonesia, mengalami peningkatan konsumsi minuman yang diberi gula tambahan akibat dari promosi produk-produk ini secara masif. Kebanyakan target promosi dari produk-produk ini adalah anak-anak dan remaja.

Mengendalikan diabetes melitus dan obesitas dengan cara menarik cukai pada minuman manis merupakan satu langkah yang benar. Dengan adanya cukai ini, sehingga harganya lebih mahal, diharapkan konsumen terutama remaja, akan membuat pilihan yang lebih sehat secara tidak langsung. Produsen juga seharusnya tidak akan dirugikan jika menyesuaikan dengan batasan gula yang diberlakukan.

“Hal ini sudah terbukti pada suatu penelitian di Inggris. Riset ini menunjukkan bahwa setelah diberlakukannya cukai pada minuman ringan, omset produsen minuman ringan di Inggris tidak anjlok,”

Hal ini artinya produsen-produsen minuman ringan di Inggris dapat menyesuaikan produk mereka dengan mengurangi kadar gula pada produk-produknya. Masyarakat pun tetap membeli minuman-minuman “manis” ini hanya dengan kadar gula yang lebih aman. Cukai yang diberlakukan di Inggris adalah 24 penny (£0.24) per liter minuman jika mengandung 8 gram gula per 100 mililiter dan 18 penny (£0.18) per liter jika mengandung 5-8 gram gula per 100 mililiter.

Leave a Reply

  • (not be published)