Taman bunga yang berada di Cafe Zia, Siosar, Tanah Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

TANAH KARO – Bisnis bunga petik di Tanah Karo memang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Namun belum semua masyarakat berani menggantungkan diri pada sektor ini karena belum berani mengambil resiko gagal jual. Akibatnya hanya perusahaan besar saja yang berani mengekspor bunga dalam jumlah besar di luar negeri seperti Jepang dan Eropa.

Penanaman bunga sebenarnya sama halnya dengan buah dan sayuran. Karena ketiganya tetap membutuhkan perawatan dan waktu yang tidak berjauhan sebelum panen. Padahal ada hal lain yang tidak diketahui banyak masyarakat adalah di tahap akhir, proses panen bunga yang paling mudah, tidak merepotkan dan dapat dijual dengan harga mahal.

Salah satu daerah yang The Editor datangi di Tanah Karo adalah penjualan bunga yang ada di Desa Simpang Sinaman, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo. Di tempat ini terdapat beberapa warga yang sengaja menanam bunga krisan dan bunga kala diantara tumbuhan lain seperti kopi dan bunga kol miliknya.

Dari cerita petani disini, ternyata memanen bunga biasanya dilakukan di pagi hari saat embun pagi masih membasahi tanah dan daun di ladang. Dengan satu unit alat potong, petani-petani di desa ini langsung memanen bunga-bunga yang dianggap sudah cukup masanya untuk dijual. Harga yang ditawarkan juga cukup mahal, yakni Rp2.500 per tangkai. Sangat berbeda dengan komoditi sayuran buah yang harus dijual dalam ukuran kilogram.

Jadi, keberadaan bunga menjadi penolong bagi petani saat harga tanaman dan sayuran anjlok. Bunga sendiri harganya selalu stabil sepanjang tahun. Bahkan di Tanah Karo harganya menukik tajam di setiap perayaan hari raya. Dengan kata lain, sangat menguntungkan.

Dari data yang dilansir oleh Karantina Pertanian Belawan diketahui bahwa ekspor bunga krisan (Dendranthema Lavandulifolium) asal Kabupaten Karo ke Jepang pada periode Februari 2021 kemarin baru mencapai Rp851,7 juta saja. Padahal begitu banyak kesempatan yang bisa diraih mengingat pemerintaha Joko Widodo saat ini tengah giat mendorong barang ekspor ke negara lain, termasuk bunga.

Dengan kata lain, bisnis bunga di Tanah Karo perlu bergerak. Sehingga petani-petani Karo dapat merasakan nikmatnya berjualan bunga sebagaimana masyarakat di perkotaan.

Eksportir juga perlu menjalin kerja sama dengan petani sehingga jumlah ekspor yang ditargetkan oleh pemerintah bisa berjalan. Keduanya bisa saling membantu bila pemerintah mau turun tangan sedikit saja memberi penyuluhan bagi petani di kabupaten penghasil bunga ini.

Leave a Reply

  • (not be published)