JAKARTA – Mencari PRT itu susah-susah gampang memang, kalau tak cocok bisa jadi malapetaka bagi pengguna jasanya.Tapi tak jarang diantara mereka justru jadi keluarga, sentimen negatif yang sering terjadi di masyarakat ternyata tidak selamanya benar.

Nida Zidny Paradhisa (29) misalnya, Ibu dua anak ini justru tengah disibukkan dengan urusan mudik pembantu yang bekerja dengannya selama 6 tahun terakhir. Baginya, pembantu sama halnya dengan keluarga sehingga saat Ia harus mudik maka semua kebutuhannya selama dalam perjalanan juga perlu dipersiapkan.

“Mengurus pembantu dulu yang mau pulang ya, nanti ketemu setelah selesai,” ujar Nida berbincang dengan rekan kerjanya di pesan Whatsapp, Senin (29/6).

Nida akui, keberadaan pembantu selama ini sangat mendukung iklim kerja dan komunikasi di rumahnya. Pasalnya, selama ini ekosistem di rumah antara orang tua, anak dan pembantu sudah terjalin dengan baik. Jadi pola komunikasi dan interaksi yang terbangun menurut Nida sudah sesuai dengan standar hidupnya.

“Mencari pembantu baru yang memiliki pola pikir yang sama seperti yang Ia harapkan diakuinya sangat menyita pikiran dan waktu. Hidup bareng kita artinya harus bisa menyamakan frekuensi,” jelas Nida.

Cerita yang sama juga datang dari Bushido Jantera Justitia (30). Pembantu yang Ia panggil dengan Budde di rumahnya juga harus pulang kampung karena sakit. Ia yang telah gonta ganti pembantu sebanyak 6 kali ini mengaku sangat kehilangan bila PRT yang jadi rekan berbagi tugas di rumah harus terus berganti. Menurutnya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki pembantu adalah kemampuan untuk menganalisa kebutuhan anaknya.

“Paling buat ngurus anak dan nyetrika atau kadang-kadang masak. Yang paling utama buat anak karena kalau beres-beres rumah bisa bareng nyokap,” jelas Tera.

Mencari pembantu yang sesuai dengan kriteria memang sangat sulit, apalagi yang sesuai dengan kantong. Untuk menyiasati biaya yang tinggi dari jasa sewa menyewa PRT, banyak Ibu rumah tangga memilih mencari pembantu yang berasal dari kampung halaman mereka. Selain menghemat biaya, cara ini dianggap lebih efektif agar pembantu yang dicari bisa langsung di wawancara.

“Cari di kampung halaman lebih murah biayanya meski tidak seprofesional lewat jasa penyedia PRT,” jelas Tera.

Para Ibu rumah tangga ini ternyata juga mau berbagi tugas dengan pembantu mereka di rumah. Hal ini sering kali dialami oleh para Ibu muda yang baru memiliki anak.

“Mereka yang tidak lewat agen penyalur memang tidak terlalu profesional. Bisa besarin bayi, mandiin bayi dan kasih makan bayi mereka memang bisa tapi untuk mengajarkan hal lain seperti moral atau psikis lainnya masih jarang,” kata Tera.

Ternyata, tidak selamanya pembantu yang direkrut lewat jasa penyalur itu sesuai dengan kebutuhan dan selera keluarga. Vetty Mutamimah Firdaus (34) mengaku pernah kecewa saat merekrut pembantu dari jasa penyalur pembantu yang resmi. Awalnya Ia menganggap profesionalitas pembantu dapat diukur dengan materi, nyatanya tidak demikian.

“Asal datang di biro pasti dapat soal harga pasti mahal ada yang profesional ada yang enggak,” katanya.

Banyak hal yang dilakukan ibu rumah tangga agar pembantu yang mereka rekrut mampu menyesuaikan diri, diantaranya dengan menjadikan mereka sebagai keluarga.

Kekerasan fisik yang umum terjadi pada anak menjadi kekhawatiran utama para orang tua saat hendak merekrut PRT. Dengan kata lain, PRT memang profesi yang banyak mengundang tanya karena banyak orang yang ketergantungan pada jasa mereka. Di Jakarta pada umumnya, pembantu jadi penentu sirkulasi kehidupan individu di rumah. Bagaimana dengan kota anda?

Leave a Reply

  • (not be published)