Rita Wahyu Wulandari

JAKARTA – Harus jujur menilai sejarah Perang Salib. Demikian dikatakan oleh Dosen Pengajar Alkitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari saat berbincang via zoom bersama The Editor.

“Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani di tahun 1453 M adalah bentuk kesalahan dari orang Kristen sendiri,” ujar Rita beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Sejarah Perang Salib

Menurutnya, sangat penting untuk masyarakat Indonesia, terutama orang Kristen untuk mengetahui bahwa sejarah pernah mengungkapkan hal-hal yang sifatnya kekerasan yang pernah terjadi saat Perang Salib terjadi.

“Karena bagaimanapun kita (kristen) punya sejarah panjang tentang hal-hal yang berdarah bahkan jauh sebelum ini (Perang Salib),” katanya.

Dengan pengetahuan sejarah Perang Salib yang benar, Rita sangat yakin kelompok-kelompok ekstrim Islam yang selama ini anti terhadap Kristen perlahan akan berubah.

“Bagaimanapun sejarah kristen dan islam memiliki sejarah yang buruk,” jelasnya.

Belajar dari sejarah Konstantinopel, lanjutnya, kekalahan Eropa dalam Perang Salib justru jadi pemicu munculnya babak baru kolonialisme. Dalam perjalanannya, di Indonesia sendiri mulai terjadi penginjilan.

Dan pada akhirnya, masih kata Rita, Islam yang sebelumnya sudah ada terlebih dahulu di Indonesia menganggap penyebaran agama Kristen yang terjadi usai kemenangan Turki atas Konstantinopel adalah bentuk baru dari penjajahan. Kristen yang identik sebagai agama barat akhirnya jadi pemicu rusaknya hubungan Islam dan Kristen sejak awal di Indonesia.

“Padahal perlu diketahui bahwa Yesus Kristus itu sendiri berasal dari timur bukan barat,” tandasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)