ROMA – Kota Roma memang kaya dengan sejarah masa lampau. Selain gedung bergaya klasik yang terpelihara, ada juga puing-puing peninggalan zaman Romawi kuno yang dapat dikunjungi dengan mudah karena terletak di jantung kota Roma modern.

Fotografer: Martin Selitubun

Salah satu yang terkenal adalah Mausoleo di Augusto atau lebih akrab dikenal dengan Musoleum Agustus. Cagar budaya ini adalah sebuah area pemakaman kuno besar di Sungai Tiber dan dibangun pada zaman Romawi kuno, tepatnya pada zaman Kaisar Augustus di tahun 28 SM.

Musoleum yang sedang direstaurasi ini adalah salah satu proyek pertama Kaisar Augustus di kota Roma setelah kemenangannya di Pertempuran Actium di tahun 31 SM. Mausoleum ini sendiri berbentuk bundar dan dikelilingi taman, aslinya beratap bundar dan merucing, dihiasi patung-patung diatapnya. Bahkan dipucuk atapnya terdapat patung perunggu Agustus.

Dalam sejarahnya, pada tahun 410, para Visigoth menjarah dan mencabut kubah atapnya, mencuri guci dan menaburkan abu jenazah. Untungnya, penjarahan ini tidak sampai merusak struktur bangunan. Karena tidak diperhatikan, area makam tersebut sebagian besar tertutup oleh tanah dan pohon-pohon.

Menurut legenda penduduk Roma, Agustus mengeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan agar makamnya dilempari abu satu keranjang dari seluruh wilayah yang pernah Ia kuasai. Tujuannya agar Ia dapat bersandar di tanah-tanah yang pernah Ia taklukkan di seluruh dunia. Kenapa dunia? Karena pada zaman itu kekaisaran Romawi berkuasa di Eropa, Afrika dan beberapa tempat lainnya. Sementara itu, kota Roma sendiri dipandang sebagai Rama Caput Mundi yang artinya Roma sebagai pusat dunia.

Di salah satu sisi Mausoleum berdiri sebuah kapel yang didedikasikan untuk Malaikat Agung Michael, sementara di sampingnya adalah Gereja Santa Maria di Augusto. Gereja ini kemudian diubah namanya menjadi San Giacomo degli Incurabili.

Pada abad ke-12, tempat ini dijadikan sebagai kastil dan ditempati oleh keluarga Colonna. Setelah kekalahan Komune Roma di tangan Pangeran Tusculum pada tahun 1167, Colonna dilecehkan dan dibuang, benteng mereka di Campo juga dibongkar. Sepanjang zaman Renaisans Mausoleum melewati kepemilikan beberapa keluarga besar Romawi yang menggunakannya sebagai taman dan pada awal abad ke-19 tempat ini digunakan sebagai sirkus.

Pada awal abad ke-20, bagian dalam Mausoleum digunakan sebagai ruang konser yang disebut Augusteo, sampai Mussolini memerintahkannya ditutup pada tahun 1930-an dan mengembalikannya ke status situs arkeologi.

Pemulihan Mausoleum Augustus ke tempat yang menonjol ditampilkan dalam penataan kembali kota Roma yang ambisius dari Benito Mussolini yang berupaya menghubungkan aspirasi Fasisme Italia dengan bekas kejayaan Kekaisaran Romawi. Mussolini memandang dirinya secara khusus terkait dengan pencapaian-pencapaian Augustus, salah satunya melihat dirinya sebagai’Augustus yang dilahirkan kembali’ yang siap mengantarkan era baru dominasi Italia.

Leave a Reply

  • (not be published)