WASHINGTON – Tim kerja administrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menafsirkan kembali perjanjian senjata di era Perang Dingin antar 34 negara dengan tujuan mengizinkan Amerika Serikat untuk menjual lebih banyak drone ke berbagai negara, laporan ini disampaikan langsung oleh tiga eksekutif pertahanan dan seorang pejabat tinggi Amerika kepada Reuters.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri pengumuman Undang-Undang Imigrasi di Gedung Putih pada tanggal 2 Agustus 2017 lalu (Fotografer: Zach Gibson/Getty Images)

Perubahan aturan ini dilaporkan belum pernah diganti sebelumnya, kabarnya aturan tersebut dapat kembali membuka jalur perdagangan drone bersenjata buatan Amerika Serikat kepada pemerintah yang kurang stabil kondisi dalam negerinya seperti Yordania Uni Emirat Arab. Dimana di mas lalu kedua negara tersebut dilarang membeli drone berteknologi rudal (Missile Technology Control Regime atau MTCR). Hal tersebut disampaikan langsung oleh salah satu pejabat tinggi Amerika Serikat, mantan seorang pejabat Amerika Serikat dan seorang anggota eksekutif. Salah satu dari mereka yang memahami tentang perubahan kebijakan ini juga mengatakan bahwa hal tersebut dapat merusak aturan yang sudah berlangsung lama dengan negara-negara lain seperti Rusia.

Menurut mereka, menafsirkan kembali penjualan MTCR adalah upaya dari administrasi Trump untuk menjual senjata lebih banyak di luar negeri. Berbagai aturan tentang ekspor senjata telah dirombak dan menghapus Amerika Serikat dari perjanjian senjata internasional termasuk perjanjian nuklir dan perjanjian open skies (langit terbuka).

Disebutkan juga bahwa dengan mengesampingkan perjanjian tersebut maka akan memungkinkan Kontraktor Pertahanan Amerika Serikat General Atomics Aeronautical Systems Inc dan Northrop Grumman Corp masuk ke pasar baru yang saat ini didominasi oleh China dan Israel yang tidak berpartisipasi dalam MTCR dan dianggap juga memiliki penawaran yang kurang begitu canggih.

Leave a Reply

  • (not be published)