Foto pria dan wanita dari Suku Karo ini diambil sekitar tahun 1914-1919. Wanita dalam foto ini mengenakan kain yang disebut Gatip Ampar di atas bahunya dan padung perak (anting-anting) yang dalam bahasa Karo disebut padung padung. Sementara si pria mengenakan Julu Jongkit atau Ragi Santik sebagai penutup pinggul. (Sumber Foto: TROPENMUSEUM/ THE EDITOR)

TANAH KARO – Mereka yang termasuk dari Marga Sembiring Singombak ini adalah adalah Colia, Brahmana, Meliala, Pelawi, Pelawi dan Muham. Sembiring atau juga disebut dengan Marga Singombak ini tinggal di daerah Sarinembah dan desa-desa yang tersebar di sepanjang Lau Biang yang terdiri dari Seberaya, Kabanjahe, Perbesi, Susuk dan lainnya.

Daerah tempat tinggal mereka ini disebut sebagai sebuah “Negara” oleh Edmund Edwards Mc Kinnon, seorang arkeolog asal Inggris dalam bukunya berjudul Kota Cina: Its Context And Meaning In The Trade Of Southeast Asia In The Twelfth To Fourteenh Centuries Volume I of II.

Sementara itu, Sub Merga Sembiring lainnya, yakni Kembaren kebanyakan tinggal di Dataran Tinggi Karo lainnya seperti Langkat Ulu, Liang Melias hingga Tanah Pak Pak.

Untuk diketahui, terdapat lima marga dalam Suku Karo, mereka adalah Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Terdapat total 85 sub merga di suku ini.

Banyak keunikan yang ditemukan di Marga Sembiring, diantaranya kelompok yang pantang atau tabu memakan daging anjing. Dalam catatan lainnya disebutkan bahwa kelompok ini disebut Sembiring Singombak karena pada dasarnya mereka adalah penganut agama Hindu. Jadi, bila meninggal dunia maka jasadnya dibakar dan dihanyutkan dengan menggunakan guci di atas sebuah perahu kecil. Adapun ke-14 Sub Marga Sembiring Singombak itu adalah Berahmana, Meliala, Muham, Maha, Pandia, Pelawi, Depari, Colia, Tekang, Gurukinayan, Bunuaji, Keling, Busuk dan Sinukapur.

Sementara itu, Sub Marga Sembiring lainnya yang diizinkan makan daging anjing adalah Sembiring Kembaren, Sembiring Keloko, Sembiring Sinulaki, dan Sembiring Sinupayung.

Ke-18 Sub Marga Sembiring Singombak ini dibagi menjadi tiga golongan. Golongan Pertama: Sembiring Berahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, dan Sembiring Keling. Golongan Kedua: Sembiring Depari, Pelawi, Bunuaji, dan Sembiring Busok. Golongan Ketiga: Sembiring Meliala, Maha, Muham, Pandebayang, dan Sembiring Sinukapur.

Perkawinan sesama Marga Sembiring Singombak itu hanya dibolehkan dengan golongan yang berbeda atau dengan kata lain tidak sesama sub marga karena pantang atau terlarang. Marga Sembiring menjadi satu-satunya marga di Tanah Karo yang diizinkan menikahi sesama Sub Marganya. Karena di Tanah Karo tidak pernah diizinkan terjadi perkawinan antar sesama marga, dan aturan ini sudah bertahan selama ratusan tahun hingga sekarang.

Edmund Edwards juga mencatat bahwa sejarah marga sembiring tidak memakan daging anjing tertuang dalam kisah yang beredar di masyarakat. Dituliskan bahwa Keling, salah satu sub marga sembiring yang menipu Sultan Aceh melarikan diri ke Tanah Karo. Tapi Edmund mencatat juga bahwa kisah ini tidak diketahui kebenarannya karena tidak terdapat bukti sejarah yang tercatat di suku tersebut. Masih dari cerita rakyat yang beredar, disebut bahwa saat melintasi sebuah aliran sungai Lau Biang, Keling ternyata ditolong oleh seekor anjing. Dengan memegang ekor anjing tersebut, Keling baru bisa menyeberangi sungai berarus deras tersebut.

“Sebagai konsekuensinya, Keling bersumpah bahwa Ia dan keturunannya tidak akan pernah memakan daging anjing selamanya,” sebut Edmund dalam bukunya.

Yang terpenting dari sejarah ini, kata Edmund dalam bukunya adalah kedatangan Keling yang kaya raya dan memiliki pengawal ini di daerah kekuasaan Marga Sembiring di Tanah Karo. Keling yang langsung berbaur dengan raja setempat tersebut disebut-sebut melakukan kerja sama. Catatannya menunjukkan bahwa Keling merupakan komunitas pedagang dari India Selatan (mungkin Tamil) yang mapan dan tinggal di perbatasan wilayah Karo. Karena kaum pedagang dari Asia Selatan biasanya memiliki pengawal yang menjaga barang dan harta bawaan mereka.

Edmund mencatat banyak hal yang mengkaitkan Sembiring dengan praktek agama Hindu di Tanah Karo. Terdapat lebih dari 155 istilah yang berasal dari India dan digunakan di Tanah Karo. Kebanyakan diantaranya berkaitan dengan mitologi, sihir, kultus, astrologi dan kronologi.

Sejarah tentang Marga Sembiring tercatat dalam buku Pustaka Kembaren, nenek moyang mereka ditelusuri di kerajaan Minangkabau Pagaruyung. Disebutkan juga bahwa salah satu dari mereka tinggal di Pertibi, sebuah daerah yang berada di Lau Biang, Sungai Wampu. Pertibi, dalam Bahasa Sansekerta disebut Pertiwi, yang dalam Bahasa Karo memiiki arti yag berbeda dengan Bahasa Indonesia. Pertiwi yang dimaksud berarti pusat kekuasaan. Referensi dari sifat iin adalah perkembangan sugestif yang pararael antara Buddha Hindu.

Leave a Reply

  • (not be published)