Papan informasi yang berdiri di depan Colosseum, Roma, (Italia Fotografer: Elitha Evinora Tarigan). Klik dua kali untuk memperbesar ukuran foto.

ITALIA – Jika pada hari Minggu lalu kita merefleksikan tentang benih dan penabur, maka pada hari ini kita diajak untuk merenungkan Injil Matius 13:24-43.

Kerajaan Surga seumpama orang yang menaburkan benih. Saat dia pergi, datanglah si jahat menaburkan lalang atau gulma di ladang yang sama. Gandum dan ilalang pun tumbuh bersamaan. Apa yang harus dilakukan? Jika Anda memotong lalang, maka Anda berisiko juga memangkas gandum yang baik. Oleh karena itu Yesus berkata untuk menunggu musim tuai tiba, sehingga bisa memisahkan gandum dan lalang: biji-bijian gandum yang baik pun akan disimpan di gudang, dan lalang akan diberikan kepada api unggun.

Perumpamaan Yesus hendak menjelaskan bahwa ladang adalah dunia, gandum yang baik adalah orang-orang yang hidupnya sesuai dengan perintah Allah. lalang adalah orang fasik atau jahat, dan perbedaannya terlihat pada akhirnya. Kiasan sederhana dari dunia pertanian ini mengungkapkan bagaimana Allah memandang manusia yang mengisi planet ini, dan menjawab pertanyaan yang sering terdengar berulang-ulang.

Mengapa Tuhan tidak campur tangan untuk menghalangi mereka yang akan terluka? Mengapa Tuhan tidak segera saja mengirim orang-orang seperti Hitler ke neraka, atau menghalangi pemerkosaan, pembunuhan, penyiksaan, kelaparan, dan sebagainya? Mengapa ada kejahatan dan kebaikan sekaligus dalam diri seseorang? Apakah Allah tidak mampu menghalanginya?

Tuhan kita adalah Tuhan yang sabar, toleran, penyayang. Tuhan tidak menginginkan kematian orang berdosa, tetapi dia harus bertobat dan hidup. Dia memberi waktu (dan panggilan) kepada semua orang, sehingga mereka bisa mengubah hidup mereka.

Ada perumpaan lain tentang Allah di dalam Injil, yang mana Allah ibarat seorang Ayah yang dengan cemas menunggu anak yang hilang kembali kepada-Nya. Allah menghormati kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dan tidak memaksanya untuk kembali.

Selalu ada ruang pertobatan, dimana Allah dengan setia menanti manusia kembali kepada-Nya. Kesabaran Allah juga dapat kita lihat dalam kisah Santo Paulus, seorang penganiaya orang Kristen yang pada akhirnya ‘terjerat’ dalam cinta Allah, dan menjadi seorang Rasul yang hebat. Juga dalam kisah St. Agustinus yang sebelumnya terpesona pada keindahan dunia, lalu pada akhirnya mencari Keindahan Ilahi yang sesungguhnya.

Pertanyaan lain yang patut kita renungkan: jika Allah mulai menghukum orang berdosa, pada titik mana Ia harus berhenti menghukum mereka? Ataukah, dibalik kisah kelam virus covid-19 yang sedang kita alami saat ini, mengapa masih ada orang-orang yang diselamatkan? Jadi, Allah yang berkuasa atas kehidupan di dalam semesta masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat.

Apa yang harus kita lakukan? Belajar dari Yesus, kita diajak mulai ampuni, sabar dan berbelas kasih. Diatas kayu salib, Dia mengampuni mereka yang telah memakukannya. Dia memaafkan Petrus yang telah menyangkalnya tiga kali, dan akan mengampuni Yudas juga, jika Ia bertobat.

Kita juga diajarkan untuk mengampuni, bahkan tujuh puluh kali tujuh kali. Dalam doa-Nya, Yesus juga mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah, Caranya adalah dengan mengatakan “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”.

Jika kita tidak mau mengampuni orang lain, dan kita memupuk pemikiran balas dendam atau hanya menuntut keadilan, apa yang akan terjadi pada kita jika Tuhan melakukan hal yang sama dengan kita?.

Semoga dengan berpedoman pada ajaran Yesus, kita dikuatkan dan dapat menghasilan buah Kasih dan Sukacita berlimpah di dalam hidup kita. Amin.

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Leave a Reply

  • (not be published)