Seorang pria lewat di depan mural bergambar tentang etnia Albania di Skopje, Makedonia Utara, pada 1 Oktober 2018 (File: AP / Thanassis Stavrakis/ Aljazeera/ THEEDITOR)

MAKEDONIA – Setiap negara adakan sensus pendudukan setidaknya lima atau 10 tahun sekali. Sensus yang biasanya menjadi salah satu program penting tanpa banyak keriuhan justru sangat sulit diwujudkan di Makedonia Utara, sebuah negara multi etnis yang berada di kawasan Balkan.

Aljazeera mengungkapkan bahwa negara ini sudah 20 tahun tidak disensus. April kemarin, Makedonia Utara untuk pertama kalinya sejak tahun 2001 akan mengadakan sensus di negaranya. Alasan yang muncul di publik sebagai penyebab gagalnya sensus adalah pandemi corona. Padahal yang terjadi adalah bayangan akan ketegangan masa lalu yang menjadi penghambat.

Sejarah Masa Lalu

Secara tradisional, etnis Albania yang tinggal di wilayah Balkan sebagian besar tinggal di antara tiga negara tetangga yakni Albania, Makedonia Utara, dan Kosovo (bekas provinsi Serbia yang otonom dengan penduduk mayoritas orang Albania).

Setelah Perang Dunia II, pada tahun 1946, Republik Rakyat Federal Yugoslavia dibentuk mengikuti model Uni Soviet dengan enam republik termasuk Makedonia Utara dan Serbia. Dalam federasi ini, orang Albania yang tinggal di antara mayoritas penduduk Slavia merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, sehingga banyak yang mempertahankan kedekatan dengan Albania sebagai tanah air mereka.

Pada tahun 1991, negara Makedonia memperoleh kemerdekaannya dari Yugoslavia. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1994, negara ini mengadakan pendaftaran penduduk pertama kalinya sebagai negara merdeka.

Saat itu diketahui terdapat 22,9 persen etnik Albania yang tinggal di Makedonia. Dan mereka merasa hak dan keterwakilan mereka di negara bagian tidak sesuai dengan jumlah kehadiran mereka.

Para pemberontak Albania selalu mengatakan penolakan akan sensus dengan alasan diskriminasi, penindasan terhadap hak untuk menggunakan bahasa dan simbol nasional mereka, kesempatan pendidikan yang terbatas dan kurangnya perwakilan di lembaga negara.

Pada tahun-tahun setelah kemerdekaan, kebanyakan orang Albania merasa negara mereka adalah tempat yang hanya melayani satu etnis, yakni Makedonia.

Hirie Sali (26) berasal dari Saraj – kota mayoritas etnis Albania di ibu kota Makedonia Utara, Skopje. Dia telah mendengar cerita tentang orang Albania yang didiskriminasi dari ibunya.

“Ibuku sendiri telah melihat dan mengalami diskriminasi,” kata Sali kepada Aljazeera. “

“Dia terus mengatakan kepada saya bahwa pada tahun 1994 ketika dia berada di rumah sakit bersalin Skopje untuk melahirkan saya, dia merasa bahwa dia diabaikan dalam menerima perawatan yang baik karena menjadi orang Albania,” katanya, menambahkan.

“Sekarang, bagi saya, ini adalah sulit untuk dipercaya,” jelasnya.

Namun, hingga hari ini, beberapa buku teks di Makedonia menuliskan sebaliknya tentang sejarah. Misalnya, buku sosiologi di sekolah menengah tahun kedua mengatakan bahwa etnis Albania, Turki, dan Romani memiliki keluarga yang lebih besar daripada etnis Makedonia karena tingkat pendidikan mereka yang rendah dan kurangnya alat kontrasepsi. Pernyataan seperti itu menimbulkan kemarahan dan protes pada awal April.

Sali, yang lulus sebagai arsitek empat tahun lalu, kini bekerja di kantor tata kota Kota Saraj adalah lulusan pertama di keluarganya, karena orang tuanya tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke universitas.

Pada tahun 1970-an, jumlah wanita etnis Albania yang mengenyam pendidikan tinggi sangat sedikit. Sali percaya ini adalah hasil dari sifat konservatif komunitas Albania dan terbatasnya kesempatan pendidikan yang tersedia bagi orang Albania di negara-negara bekas Yugoslavia.

“Ibu saya adalah siswa yang sangat baik dan sangat berbakat. Lukisannya digantung sampai hari ini di dinding sekolah dasar saya di Saraj. Sayangnya, dia harus berhenti sekolah di kelas 8 dan harus menghabiskan hidupnya untuk mengurus keluarga dan anak-anak, ”kata Sali.

Lima tahun lalu, keluarga Sali pindah ke Austria untuk kehidupan yang lebih baik, tetapi dia tetap tinggal di Makedonia Utara. Salah satu alasan mereka pergi adalah untuk mengejar karir sepak bola yang tengah ditempuh oleh kakaknya.

“Saudara laki-laki saya yang berusia 18 tahun sangat berbakat dalam sepak bola tetapi merasa putus asa saat bermain untuk klub pemuda Makedonia dan merasa bahwa peluangnya untuk sukses akan berkurang oleh prasangka-prasangka kebangsaan yang sering muncul,” jelasnya.

Kata Sali, saat bermain bola, para pendukung sering kali terbawa emosi dalam mendukung tim favorit mereka. Seringkali, penggemar olahraga meneriakkan slogan rasis satu sama lain selama pertandingan berlangsung. Dan masalah ini sudah lama diketahui oleh pihak berwenang, tetapi tidak belum bisa diselesaikan.

“Dua tahun lalu, saya sedang minum kopi dengan seorang teman baik Makedonia, sementara pertandingan sepak bola baru selesai dengan skor nol di untuk tim Makedonia. Sekelompok penggemar bola berkeliaran di jalan-jalan dan meneriakkan hinaan rasis terhadap orang Albania, hanya karena mereka disingkirkan. Teman saya malu dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi saya memecahkan kebekuan dengan tersenyum dan mengatakan kepadanya: itu bukan salahmu, “katanya.

“Saya bersekolah di sekolah menengah atas etnis campuran dan saya ingat bahwa guru kami terus-menerus khawatir tentang bentrokan etnis yang mungkin kami alami. Saya juga ingat teman-teman Albania saya yang memakai jilbab juga takut di-bully,” tutup Sali saat menceritakan pengalaman buruk yang Ia alami saat SMA.

Leave a Reply

  • (not be published)