Menu pendamping yang disajikan kepada tamu saat berada di Korea. Menu ini khusus untuk satu orang saja (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

KOREA SELATAN –  Seluruh restoran di Korea umumnya menyajikan makanan pendamping kepada tamunya. Makin banyak menunya, makin mahal juga biasanya harganya.

Tak heran memang pemerintah Korea Selatan sangat gencar mempromosikan makanan mereka ke seluruh dunia. Bahkan ada istilah yang mengatakan bahwa rasanya kurang puas saat berkunjung ke Korea bila tidak mencoba makanan ala para raja jaman dahulu.

Kebiasaan serupa juga terjadi di rumah-rumah orang Korea. Setiap meja pasti dipenuhi berbagai macam pilihan mulai dari sup dan nasi hingga segudang banchan, nama kolektif untuk lauk kecil Korea.

Untuk benar-benar memahami adat istiadat yang terkait dengan masakan Korea, kita perlu melihat sejarahnya. Asia Society mengatakan bahwa musim yang berganti sepanjang tahun membuat warga Korea harus menyesuaikan diri dengan cuaca. Dimana saat musim gugur petani tidak mungkin menanam padi, dan selama itu juga mereka harus membiasakan diri untuk tidak makan nasi, sup dan banchan.

Agar bisa tetap bertahan hidup, maka mereka mulai mencari bahan makanan lain yang memiliki kandungan yang sama dengan nasi. Dan jawabannya adalah sup. Dengan kata lain, orang Korea membiasakan diri makan makanan yang ada di tiap musim agar tetap hidup. Terutama bagi masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki cadangan makanan selama musim gugur dan musim dingin.

Jadi, seiring waktu, orang Korea mulai terbiasa menyimpan dan menyajikan makanan untuk dikonsumsi di musim-musim tertentu. Dan sekarang, setiap individu bisa menikmati berbagai makanan musiman di atas meja yang sama setiap hari.

Leave a Reply

  • (not be published)