Sumber: Badan Ketahanan Pangan

JAKARTA – Situasi pandemi seperti saat ini, mengharuskan kita untuk senantiasa meningkatkan imunitas tubuh salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang berprotein tinggi. Telur merupakan salah satu pangan sumber protein yang memiliki preferensi yang tinggi di masyarakat.

Protein setara telur memiliki nilai kandungan yang hampir sempurna dan didorong dengan harga yang terjangkau, telur ayam menjadi sumber pangan yang banyak dipilih dan dikonsumsi oleh masyarakat. Selain dari nilai gizi, dan harga yang terjangkau, telur juga memiliki daya tahan simpan yang cukup lama apalagi jika disimpan dalam suhu yang sesuai telur akan bertahan hingga lebih dari 14 hari.

Keunggulan tersebut menjadikan telur sebagai pangan sumber protein yang mudah dan murah dijangkau oleh masyarakat, bahkan sebagai pangan alternatif pengganti daging sapi dan daging ayam yang cenderung memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan telur.

Oleh karenanya, tidaklah heran permintaan telur saat ini meningkat cukup tajam, didorong oleh meningkatnya permintaan langsung akibat konsumsi rumah tangga, telur juga sebagai salah satu komoditas pangan yang diberikan dalam bantuan sosial kepada masyarakat.

BPS mencatat, peningkatan konsumsi telur mencapai 0,19 kg/kapita/tahun dari 18,16 kg/kapita/tahun menjadi 18,35 kg/kapita/tahun. Dalam teori supply dan demand, meningkatnya permintaan akan menggeser kurva demand ke kanan atas, sehingga apabila kurva supply tetap, pergeseran kurva demand akan membentuk keseimbangan baru dengan harga yang lebih tinggi.

Walaupun terkadang hukum ekonomi tersebut tidak berlaku pada beberapa kondisi, karena bisa saja kenaikan harga dipicu oleh hal lainnya yang tidak bisa dijelaskan dalam teori supply dan demand. Namun pada akhir tahun ini, teori supply dan demand menjadi tidak terbantahkan dan merupakan jawaban yang dapat menjelaskan mengapa terjadi kenaikan harga telur di eceran.

Kenaikan harga telur ayam mulai dirasakan masyarakat pada awal bulan Desember. Harga eceran telur ayam bergerak dari harga rata-rata bulanan nasional Rp25.000/kg pada awal Desember, hingga saat ini harga sudah mencapai Rp27.000/kg dan semakin meningkat setiap harinya.

Harga tertinggi di ibukota provinsi Papua mencapai Rp34.000/kg. Sedangkan di pasar eceran Jabodetabek harga telur ayam ras mencapai Rp30.000/kg.

Peningkatan permintaan terhadap telur ayam menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru sekaligus dengan dimulainya masa liburan sekolah menjadi hal yang berulang setiap akhir tahun. Dua situasi itu selalu pemicu utama naiknya harga telur dan daging ayam ras di tingkat konsumen pada akhir tahun. Dapat dikatakan bahwa hal ini menjadi pola musiman setiap akhir tahun.

Salah satu peternak di Kabupaten Blitar yang merupakan sentra terbesar petelur ayam ras juga menuturkan bahwa kenaikan harga ayam di bulan Desember s/d Januari merupakan pola musiman yang hampir terjadi di setiap tahun. Adanya Hari Raya Natal dan Tahun Baru secara signifikan menyebabkan kenaikan permintaan.

Pada bulan Desember tahun ini, kenaikan harga telur juga didorong penurunan jumlah produksi, sehingga jika kembali pada teori supply dan demand, hal tersebut akan menyebabkan shock terhadap kurva supply dan menggeser kurva supply ke kiri atas yang menyebabkan harga akan semakin meningkat.

Kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengurangi produksi ayam untuk keberpihakan kepada peternak pada saat harga ayam dan telur jatuh beberapa bulan lalu, tentunya akan berdampak terhadap berkurangnya populasi ayam dan produksi telur.

Selain itu cuaca yang ekstrim dan perubahan musim juga berdampak pada penurunan produksi telur 5-25 %. Sesuai proyeksi yang dilakukan oleh Bidang Harga Pangan Badan Ketahanan Pangan, harga telur ayam akan semakin meningkat sampai dengan puncaknya pada minggu ketiga bulan Januari 2021 dengan rata-rata harga mingguan nasional mencapai Rp26.500/kg.

Harga telur ayam baru akan mulai menurun pada minggu keempat bulan Januari 2021 dan harga eceran kembali pada kisaran Rp25.000/kg pada bulan Februari-Maret 2021.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian tentunya tidak akan berdiam diri saja ketika harga di tingkat konsumen meningkat. Setidaknya kebijakan pemerintah untuk menjaga kelancaran distribusi maupun subsidi biaya angkut, telah diluncurkan dalam upaya untuk tetap menjaga daya beli masyarakat terhadap telur ayam.

Untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh telur ayam dengan harga terjangkau dilakukan dengan menggelar operasi pasar yang biasa dilakukan oleh Kementerian Pertanian sehingga masyarakat tetap dapat mengkonsumsi komoditas favoritnya, telur ayam ras.

Leave a Reply

  • (not be published)