Bocah Asmat (Foto: Martin Selitubun/ Kompasiana/ THE EDITOR)

ASMAT – Siang itu sungguh sangat terik! Tidak ada kisah tentang angin sepoi yang menggerakkan barisan nyiur di depan pastoran kecil kami. Air di kolam ikan kering dan dipenuhi rerumputan dan belalang. Beberapa ekor ayam milik kami dan pak guru di sebelah rumah memilih bernaung di bagian bawah pastoran.

Pastoran sendiri memiliki model rumah gantung berbahan kayu dan ada kolong rumahnya. Memang sudah tiga minggu ini tidak turun hujan. Di kejauhan tampak serombongan anak-anak sekolah berbaris riang pulang sekolah. Mereka terlihat berebutan menuju ke gedung pastoran tempat tinggalku.

“Pater, ada air minum ka?” teriak beberapa dari mereka.

“Ya..mari adik-adik!” kata saya mengajak mereka ke arah dapur untuk mengambil air di dapur.

Mereka segera berlarian di sisi pastoran menuju ke tempat yang telah ditunjuk. Keletihan di wajah itu seakan terhapus oleh beberapa gelas air yang melewati di tenggorokan. Rasa gembira dan sukacita masih memancar di wajah mereka. Tidak lupa saya bergegas mengambil beberapa buah permen dan membagikannya kepada mereka.

“Kalian mau pulang ke kampung?”, tanya saya.

“Iya, pater,”.

“Setiap hari jalan kaki seperti ini?” tanya saya lagi.

“Ya…kami setiap hari seperti ini. Memang jauh, tapi ramai. Banyak teman-teman.”, kata salah satu anak sekolah.

“Kira-kira berapa jam perjalanan?” tanyaku.

“Dua…pater. Pergi ke sekolah dua jam….pulang juga dua jam”, sambungnya santai.

Wah, jauh sekali. Kata saya dalam hati.

“oke,… selamat jalan lagi. Sampai ketemu besok. Nanti kalau besok-besok kalian bisa mampir minum air lagi di sini. Tidak apa-apa”, kata saya.

“Terima kasih. Selamat siang, Pater”, seru mereka riang dan berlalu.

Sore hari saya duduk memandang senja di pantai Bayun yang sedang berpasir putih saat itu. Pantai ini kadang-kadang pantainya dipenuhi pasir putih, dan di lain waktu bisa dipenuhi lumpur setinggi pangkal paha. Sekalipun sudah sore, udara panas tetap masih terasa.

Kepala saya pun masih dipenuhi kisah tentang anak-anak dari kampung Kairin yang setiap hari pergi ke Sekolah. Kampung itu memang terpencil. Satu-satunya tempat berkumpul anak-anak adalah di sekolah dasar dan halaman gereja. Kedua tempat ini ibarat surga, dimana mereka bisa menjadikannya sebagai tempat anak-anak dan bersenda gurau.

Kenyataan bahwa anak-anak dari desa Kairin yang mengejar pendidikan di desa lain dengan penuh semangat adalah sebuah kisah harapan. Kisah tentang masa depan yang harus digapai dengan penuh perjuangan. Perjalanan itu ditempuh selama dua jam setiap pagi. Kadang mereka harus keluar dari kampung saat subuh, menenteng buku di sisi kiri dan selembar daun pisang di tangan kanannya karena hujan.

Kalau sedang berpasir, maka ini kesempatan emas berjalan santai sambil tertawa dan berkejar-kejaran, karena dimanja diatas pasir halus. Kesempatan ini digunakan juga untuk menjaring ikan ketika pulang sekolah.

Sekolah Yang Penuh Dengan Perjuangan

Anggota Orang Muda Katolik di Paroki Roh Kudus Bayun, Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ Kompasiana/ THE EDITOR)

Ketika musim lumpur tiba, mereka harus menyeberangi lumpur setinggi lutut yang berjarak ratusan meter dan diselingi semak berduri. Rasa lapar dan letih menjadi menu wajib bagi anak-anak ini. Mereka seakan tidak peduli pada kucuran keringat yang basah dan kering di badan karena terik matahari pantai. Hujan lebat dan ombak pantai pun tidak ada arti sama sekali jika hasrat ke sekolah ada di ubun-ubun anak-anak ini.

Terkadang saya berpikir, mengapa di Kairin tidak dibangun SMP saja? Supaya anak-anak ini tidak setiap kali harus pulang pergi? Atau, mengapa tidak dibangun asrama di dekat sekolah agar anak-anak bisa lebih terfokus dalam belajar? Selain mereka yang berjuang untuk sekolah, siapakah yang bisa merangkul mereka dalam tantangan ini. Apa yang bisa saya perbuat untuk membantu mereka?

Lepas dari semua hal ini, satu hal yang saya pelajari adalah niat mereka untuk sekolah mengalahkan rasa haus, lapar, dan letih dalam empat jam perjalanan pulang pergi ini. Inilah cara Allah membentuk mereka menjadi manusia Kairin yang sesungguhnya. Sekelompok manusia muda yang berani meraih harapan dengan kerja keras.

Tuhan memang telah memberikan banyak berkat bagi kita. Untuk mencapainya diperlukan tenaga ekstra untuk keluar dari zona nyaman. Seperti anak-anak ini, keluar dari kampungnya yang damai menuju sekolah yang ada di kampung tetangga.

Kisah anak-anak Kairin ini sungguh menginspirasi saya, bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Perjuangan merupakan bagian terpenting demi mewujudkan hidup yang lebih baik di masa mendatang. Ketika perjuangan dan kerja keras menjadi kosakata abstrak di tengah dunia, maka anak-anak Kairin justru menampilkan realitas kerja dan perjuangan yang sesungguhnya.

Dewasa ini begitu banyak orang amat mudah mendapatkan sesuatu tanpa keringat sedikitpun. Dengan uang dan tanpa sekolah yang memadai, orang bisa meraih gelar sarjana. Dengan kolusi dan nepotisme pun, orang bisa mendapatkan posisi apapun yang disukainya dengan mudah. Tanpa kerja keras, seseorang bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Realitas ini menggambarkan sisi rapuhnya manusia. Hal ini hanya bisa berubah jika ada kesadaran dan keberanian untuk merombaknya.

Anak-anak Kairin, kalian adalah inspirasi bagi dunia. Bagi Gereja. Kami. Saya. Kalian mengajarkan saya untuk menghargai setiap titik perjuangan, karena masa depan sesungguhnya bukan terletak pada cita-citamu, tetapi hal itu ada pada setiap langkah kaki yang kau usahakan dengan keringatmu sendiri. Semoga Tuhan senantiasa mengiringi langkah kalian menggapai masa depan.

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Leave a Reply

  • (not be published)