Pohon pinus yang dipenuhi oleh salju di kaki gunung Zugspitze, Jerman (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

JAKARTA – Apakah injil secara spesifik menuliskan tentang penggunaan pohon cemara sebagai perak-pernik Natal? Untuk mengetahui jawaban tentang ini, The Editor berbincang dengan Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari.

“Tidak ada, bahkan tidak ada keterangan tentang acara Natal. Perayaan Natal dengan segala atributnya adalah tradisi saja,” ujar Rita.

Namun, lanjut Rita pohon cemara sangat banyak dibicarakan dalam Alkitab. Misalnya di kitab Perjanjian Lama. Dalam kitab yang dituliskan oleh Nabi Yesaya, pohon cemara dituliskan dalam bahasa Ibrani dengan nama Tid’har.

Yesaya menyebutkan bahwa Tuhan akan membuat pohon aras, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak di padang gurun. Dan Tuhan juga akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara (Tid’har) di sampingnya (Yesaya 41:19).

Kata Rita, pohon cemara dalam Alkitab banyak disamakan dengan berbagai jenis pinus oleh masyarakat diantaranya pohon batu-pinus yang umum ditemukan di lereng utara Lebanon, pohon elm, pohon oak. Yang pasti, disebutkan bahwa pohon jenis pinus ini tingginya lebih kurang 7 meter, daunnya selalu hijau dan kayunya keras sekali.

Dalam pesta Pondok Daun, pondok-pondok tersebut dibuat dari kayu cemara.

“Kepastian nama pohon ini dimaksudkan tidak pasti, tetapi Tid’har ini tampaknya merujuk kepada jenis pinus atau cemara,” ungkapnya.

Meski demikian, tak sedikit golongan kristen yang anti pada perayaan Natal. Kata Rita, hal ini terjadi karena pada akhirnya sebagian umat Kristen ada yang menjadikan pohon ini sebagai berhala sembahan. Padahal Alkitab sangat menentang kebiasaan-kebiasaan yang berujung pada memberhalakan suatu jenis barang, termasuk pohon.

Banyak teori yang disebut sebagai asal usul Natal, namun Rita menegaskan bahwa dekorasi lampu pada pohon cemara adalah sebuah tradisi dari orang Yahudi yang merayakan hari raya Hanukkah pada bulan Desember. Hari Raya Hanukkah adalah Hari Raya Penahbisan yang artinya hari raya terang atau hari raya cahaya.

“Namun sesungguhnya, dekorasi lampu dan adanya istilah Pohon Terang pada tradisi perayaan Natal adalah bermula dari orang-orang Yahudi yang percaya, yang pada sekitar bulan Desember mereka merayakan Hari Raya Hanukkah sekaligus Hari Raya Natal,” jelas Rita.

Hari Raya Hanukkah merupakan peringatan terhadap pembersihan Bait Allah, ketika Yudas Makkabeus dan para pengikutnya menang dalam membebaskan Yerusalem dari penjajahan Siria. Dan di dalam pentahbisan meresmikan Bait Allah, Yudas Makkabeus memiliki minyak suci hanya untuk persediaan satu hari.

“Tetapi di dalam kemurahan Allah, demikian yang disampaikan dalam kitab Deuterokanonika 2 Makabe, minyak yang tersisa itu, yang untuk persediaan satu hari itu, bertahan hingga delapan hari,” jelasnya.

“Jadi di dalam masa hari raya Lampu, atau Hari Raya Peresmian (Hanukkah), lampu menyala selama delapan hari. Dan kemudian di dalam merayakan hari raya Hanukkah, mereka menyalakan satu lilin dan lampu setiap hari hingga hari kedelapan,” tambah Rita.

Kata Rita, kalangan Yahudi Kristen merayakan Natal sekaligus Hanukkah dengan sebutan Chrismukkah. Bahkan perayaan Yahudi campur Kristen ini sudah dikenal di Jerman sejak tahun 1800-an Masehi. Jerman menyebutnya dengan istilah Weihnukkah.

Dan sejak saat itu tradisi memasang pohon terang pada saat Natal dengan memasang lampu-lampu, lilin dan menghias pohon cemara ini bermula dari Hari Raya Lampu (Hanukkah).

Leave a Reply

  • (not be published)