ACEH – Di Blang Lancang, Lhokseumawe, Aceh, nama Arun cukup populer. Bagaimana tidak, Arun merupakan ladang gas besar yang ditemukan tahun 1971. Dari puncak Bukit Goa Jepang, terlihat tangki-tangki berjejer menghadap darmaga. Tangki berwarna putih itu terlihat berkarat dimakan usia. Namun, tangki tersebut tak bekerja terlalu sibuk seperti dulu. Sama seperti aktivitas yang sudah menurun karena ladang tak lagi menghasilkan gas sebesar dulu.

Kilang Arun di Aceh (Fotografer : DWI)

Tak perlu takut lelah menanjak untuk sampai ke puncak bukit. Pasalnya, motor dan mobil bisa mencapai bukit dengan mudah. Pemandangan dari atas bukit sangat menenangkan dengan latar tangki-tangki yang menyimpan nilai sejarah tentang ladang gas terkenal pada era 70-an.
Tak terbayang betapa sibuknya darmaga kala itu. Kapal hilir mudik mengangkut gas hasil bumi Aceh ke Jepang dan Korea Selatan. Gas disedot dari perut bumi, dialirkan melalui pipa.
Gas tersebut lalu diproses dan diubah wujudnya dari gas menjadi cair agar bisa dikirim ke tempat pembeli. Saya sendiri masih tak bisa membayangkan bahwa di masa itu telah ada teknologi canggih yang mampu mengolah gas bumi menjadi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dan dikirim menggunakan kapal.
Kenyataannya, itu terjadi. Selang 2 tahun setelah sumber gas ditemukan, Jepang membeli gas tersebut yakni 1973. Begitu pula dengan Korea Selatan yang mengekor selang 10 tahun kemudian pada 1983.
Sinar matahari terlihat semakin jingga, namun bayangan tentang kejadian di hampir 50 tahun silam itu menarik untuk dikenang sembari menanti matahari ditelan bumi. Pengiriman gas pun terus berjalan hingga mencapai 3.000 kargo LNG pada 1997.
Ladang berumur 26 tahun itu ternyata masih mampu menghasilkan gas. Hingga pada 2006 tercapai pengiriman 4.000 kargo LNG. Gas bukanlah sumber energi abadi. Suatu saat pasti sampai pada tahap sumur tak lagi menghasilkan gas dengan volume yang sama.
Itulah yang terjadi saat ini. Tak ada lagi kapal sibuk pengangkut LNG dari Aceh. Bahkan fasilitas pencairan gas pun tak lagi bekerja. Yang ada justru fasilitas regasifikasi.
Artinya, di terminal ini hanya menerima pasokan LNG dari luar Aceh. Bukanlah hal yang ironis saat ladang gas tak lagi menghasilkan volume yang besar.
Setelah 49 tahun sibuk memproduksi gas, ladang dan fasilitas pengolahannya harus beristirahat, mengurangi kegiatannya. Setidaknya itulah yang bisa dipetik dari datangnya malam.
Matahari telah tenggelam, membawa cerita Kilang Arun dari puncak Bukit Goa Jepang.DWI

Leave a Reply

  • (not be published)