Dr Elisa Nanino dari Italia menghabiskan waktu di pegunungan agar bisa lepas dari gangguan mental akibat pandemi corona (Foto: BBC/ THE EDITOR)

ITALIA – Kelelahan dan gangguan stres pasca trauma yang menyebabkan gangguan mental setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis dialami oleh seluruh perawat saat merawat pasien yang terkena COVID-19 di dunia.

Namun, gejala ini tidak dialami oleh perawat di Italia karena keberanian mereka terlibat dan berbincang langsung dengan para penderita COVID-19 yang mereka tangani.

“Seringkali pasien dan kerabatnya dilihat sebagai beban yang memperlambat respon darurat,” kata Dr Serena Barello, penulis dari pusat penelitian EngageMinds HUB kepada BBC, Rabu (12/5).

Ia mengatakan bahwa studi yang mereka melakukan ternyata membuahkan hasil yang mengejutkan. Karena perawat di Italia rata-rata mau meluangkan waktu kepada pasien tentang berbagai hal kepada mereka.

Dengan demikian, para perawat dan pasien berbagi tanggung jawab, kegembiraan dan penderitaan untuk melalui pandemi corona ini.

“Pada akhirnya Anda akan menemukan tim tambahan yang membuat pekerjaan jadi lebih mudah,” jelasnya.

Dokter Perawatan Khusus Elisa Nanino mengatakan bahwa 90 dokter dan perawat tidak mau meninggalkan pekerjaan mereka meski situasi terkadang tidak kondusif di rumah sakit. Para perawat medis dan dokter ini bahkan sangat bangga bisa jadi bagian yang sangat krusial dalam proses penanganan pandemi corona ini.

“Pandemi memberi saya konfirmasi bahwa saya berada dalam pekerjaan yang tepat. Saya menemukan kekuatan yang tidak saya ketahui yang saya miliki. Saya melihat orang meninggal, saya menangis, tetapi saya juga menyelamatkan nyawa orang. Itu tak ternilai harganya,” ujar Elisa.

Elisa mengatakan ketika Ia pulang kerja dan tidak bisa istirahat, maka Ia akan memasak. Menurutnya, memasak memberi sensasi bebas dan bahagia baginya. Ia akan membuat tiramisu dan membawanya ke rumah sakit untuk dibagikan dengan rekan-rekannya.

Nasihat terbesarnya untuk petugas kesehatan adalah agar jangan pernah merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan semua pasien yang terinfeksi COVID-19.

“Tidak mungkin menyelamatkan semua orang sakit yang datang di depan Anda selama pandemi. Anda hanya bisa melakukan yang terbaik. Ingat, jangan pernah pulang ke rumah dalam keadaan menderita karena rasa bersalah akibat kehilangan pasien,” pintanya.

Martina, perawat yang juga mengalami trauma selama merawat pasien yang terinfeksi COVID-19)

Tidak Semua Paramedis Berhasil Melaluinya

Meski demikian, tidak semua paramedis berhasil mengendalikan masa trauma mereka dengan sempurna. Martina, seorang perawat mengaku kesulitan mengungkapkan perasaan yang tengah Ia alami kepada keluarga saat bertugas menangani pasien terinfeksi virus corona. Namun bantuan teman-teman se-profesinya ternyata bisa membuatnya bertahan.

“Saran terbaik saya untuk para perawat yang tengah merawat pasien yang terinfeksi corona adalah agar bekerja dalam sebuah tim,” ungkapnya.

Karena menurutnya, saat Ia goyah maka Ia akan langsung menghubungi rekan satu timnya untuk jalan keluar. Ia menjelaskan bahwa Anda tidak mungkin mampu menyimpan beban stres akibat berhadapan dengan pasien terinfeksi corona setiap hari. Bertemu dengan rekan kerja yang tengah mengalami nasib yang serupa dan membicarakannya untuk kesehatan mental diakui Martina jadi penolong selama ini.

Agar tidak stres, Martina tengah menyusun rencana perjalanan bersama suaminya ke pegunungan dan hutan. Menutup diri dari kesibukan dunia menurut Martina adalah cara paling tepat baginya untuk menemukan kedamaian.

Menemukan Kembali Kedamaian

Dr Barello kembali mengatakan bahwa kekhawatirannya akan banyak perawat perawat dan dokter yang menderita gangguan mental bertahun-tahun akibat pandemi corona ini ternyata terselesaikan dengan baik.

Saat melihat semua orang berjalan maju dan optimis menghadapi masa depan, lanjutnya, maka lelah para dokter dan perawat ini juga hilang.

Menurutnya, rumah sakit harus melangkah maju dengan menyediakan bantuan psikologi kepada perawat dan dokter. Tujuannya agar mereka mampu mencintai diri mereka sendiri selama serangan pandemi ini. Bahkan bila perlu, perawat dan dokter harus mendapatkan kembali kehidupan pribadi mereka yang telah hilang hampr 1,5 tahun ini.

Salah satunya adalah mengakomodasi hobi yang para perawat dan dokter yang sudah lama mereka tinggal. Misalnya menghabiskan waktu dengan keluarga, olahraga dan outdoors.

Leave a Reply

  • (not be published)