JAKARTA – Ibukota mulai berbenah, aturan untuk tidak memakai kantong plastik di seluruh tempat perbelanjaan di Jakarta sudah resmi diterapkan selama beberapa pekan ini.

Beragam tas untuk berbelanja (Sumber Foto: Bristolpost)

Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat.

Dari pantauan redaksi saat berbelanja di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, beberapa pembeli masih belum familiar dengan peraturan ini. Ahmad (28) mengaku enggan membeli tas kain yang dibanderol seharga Rp10.000 per buah saat ditawarkan oleh kasir.

“Lebih baik ditenteng saja karena tidak banyak,” ujar Ahmad sembari menunjukkan barang belanjaannya yang berupa sikat gigi, pasta gigi, shampoo dan sabun mandi. “Tidak begitu banyak dan tidak menyusahkan juga,” jelasnya.

Ani (23) kasir yang bertugas di Indomaret mengatakan sejak peraturan tersebut diterapkan, banyak masyarakat yang mengira mereka tengah promo dan berjualan produk tas belanjaan. Cukup sulit menjelaskannya kepada pembeli, namun Ani mengaku harus tetap mengikuti protokol yang dibuat oleh pihak Indomaret.

“Ada pembeli yang terkadang marah-marah karena dikira kita jualan tas kain Ada juga yang nanya kenapa harus ditiadakan tas plastik. Tapi lebih baik pembeli bertanya kenapa ditiadakan dari pada dikira sengaja jualan tas kain belanjaan,” ujar Ani.

Ani mengimbau seupaya setiap pembeli mulai rajin membawa kantong plastik atau kain yang sudah mereka beli saat berbelanja ke pasar atau ke toko. Sehingga saat tiba di kasir tidak perlu membeli tas belanjaan baru. Karena beberapa pembeli yang pernah Ia layani ternyata membawa uang pas-pasan saat berbelanja.

Dari Indomaret, redaksi kemudian pindah ke supermarket yang berada di Grand Indonesia. Aturan yang diterapkan sama, warna tas kain belanjaan yang dijual juga sama, yakni hijau. Bedanya adalah ukurannya, tas belanjaan seharga Rp10.000 tersebut ternyata lebih besar muatannya saat dibeli di dalam supermarket dibandingkan dengan yang dijual di pinggir jalan.

Perdebatan Para Ahli

David D. Sussman Visiting Scholar, Tufts University mengatakan plastik bukan sumber pencemaran plastik yang terbesar di dunia. Seperti dilansir dari The Conversation, diketahui bahwa sampah plastik memang masalah yang serius. Jumlah penggunaan plastik sekali pakai juga jauh lebih besar, yakni 150 juta ton per tahun.

Namun, riset terbaru menunjukkan kantong plastik hanya merupakan sebagian kecil dari sampah laut di perairan sekitar Jakarta. Kemasan dan kantong plastik, baik yang tipis maupun tebal, hanya berjumlah lebih dari 13,5% dari sampah yang ditemukan dan 8,5% dari berat mereka.

Bukti dari pelarangan kantong plastik menunjukkan bahwa kebijakan ini memang mengurangi penggunaan kantong plastik, namun menurut David aturan tersebut terkadang menyebabkan bahaya lain bagi lingkungan jika konsumen beralih ke material lain dengan jejak karbon yang lebih besar.

“Tas yang terbuat dari kertas membutuhkan 400% lebih banyak energi untuk membuatnya, belum lagi pohon dan penggunaan bahan kimia yang berbahaya dalam proses pembuatannya,” ungkapnya.

“Menanam kapas untuk membuat tas yang terbuat dari kain membutuhkan lahan, jumlah air yang besar, pupuk kimia dan pestisida,” tambahnya lagi.

Selain itu, lanjutnya, kantong plastik menggunakan bahan bakar fosil, sumberdaya yang tak terbarukan dan permanen, dan masuk ke aliran limbah.

Plastik dinilai dapat menyebabkan lebih banyak polusi di darat dan di saluran air, namun dengan efek yang lebih minim pada perubahan iklim dan penggunaan lahan dibanding jenis kantong lainnya.

“Kantong plastik yang mudah terurai, anehnya, mungkin bisa jadi “pilihan yang paling buruk” karena mereka juga berbahaya untuk iklim dan tanah, menyebabkan polusi air, dan mengeluarkan emisi beracun,” jelasnya.

Pada akhirnya, lanjutnya, keputusan tentang tipe kantong mana yang akan digunakan berhubungan dengan perihal isu lingkungan mana yang diprioritaskan.

Leave a Reply

  • (not be published)